DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Kejutan Tak Terduga


__ADS_3

Kendaraan Potka melayang diatas gurun luas, sedetik kemudian Potka memasuki kawasan yang berbeda. Kawasan penuh hutan rimbun. Dengan pohon besar menjulang tinggi.


Desa Arctos.


Potka ingin meminta bantuan pada Simon. Dan berniat menceritakan apa yang ia temukan.


Ia telah berada di halaman rumah Roxane. Ia masuk dalam tanpa salam. Selayaknya dulu, ia masih menjadi bagian dari desa Arctos.


Ia mendengar suara ribut dari pintu belakang. Tempat kebun yang ditumbuhi berbagai macam tanaman, perangkap kelinci juga kijang untuk makan mereka.


Potka melipir ke dapur saat netranya menangkap sang pemilik rumah. Sibuk dengan masakannya.


"Hai cantik masak apa?" Goda Potka pada Roxane. "Astaga, kau anak nakal, kemana saja kau! Janji selalu datang, nyatanya ini sudah dua bulan, sejak terakhir kau datang!" Omelan yang Potka rindukan.


"Kemari!" Wanita paruh baya itu merentangkan tangan dan Potka memeluknya erat. Ia merindukan rumahnya.


"Kau ini, ayo gabung, kami sedang pesta kijang, tadi pagi mereka melakukan pemainan,"


"Ini bawalah" Roxane menyerahkan setumpuk roti, dan ia membawa sekeranjang buah-buahan.


Mereka berjalan kearah suara ribut di taman belakang. Disana sudah ada Ricky yang bersiap melawan Jordan. Sedangkan Simon, sibuk dengan koran, ada Bharat yang menikmati makan siangnya.


Mereka suka bermain.


Sebagai Ratu disana, suasananya tidak seperti kebanyakan cerita dongeng dengan sosok Ratu didalamnya, yang dipuja, Bharat menjadi dirinya sendiri disini, Ia sangat senang berada di tengah kumpulan rasnya.


Awalnya mendengar gelar Ratu saja membuatnya bingung, apa yang harus dilakukannya.


Tapi Simon berkata, "Jadilah dirimu" jadi yah ia masih berkegiatan seperti semula.


Dengan menantang, Ricky menunjuknya untuk menjadi lawan di 'Pemburu makan siang' kegiatan yang sering mereka lakukan seminggu sekali.


Ricky adalah pemenang sebelumnya, ia bisa menujuk 3 orang lain untuk menjadi saingannya. Ia memilih Jordan, Wina dan Bharat. Dengan berkedok pesta untuk penyambutan Ratu baru. Ricky memilihnya.


Siapa yang kalah harus berduel dengannya. Sebenarnya ini hanya alasan Ricky untuk mengajak Bharat berduel. Ia masih saja tidak menganggapnya pantas menjadi keturunan Amarin.


Darah panas yang penasaran dan ingin pamer kekuatan itu sebenarnya yang Ricky rasakan, saat ini. Ia ada dalam masa, rebel. Maklum anak baru gede. Dijidatnya tertulis. 'Kami cinta keributan! apa itu damai?'


Dan ya Bharat hanya mendapatkan seekor kelinci yang ia lepaskan kembali. Juga seekor kijang yang tak ia kejar. Tapi menjadi mangsa dari yang lain. Wina. Ia merasa bersemangat. Ia ingin membuktikan bahwa ia juga salah satu dari mereka.

__ADS_1


Maka ia walau buruannya sudah lumayan namun ia terus mencari lagi. Padahal yang lain sudah berkumpul kembali di taman belakang.


"Mana wanita itu?" Tanya Ricky ke Jordan. Yang memanggul seekor kijang dipundaknya. Melemparnya di dekat bara api. Mereka akan memanggang kijang untuk makan siang hari ini.


"Entah" dan mengambil pisau tajam dan mulai mengasahnya, ia siap menguliti kijang tersebut. Ricky pun tak terlalu peduli.


Dan Bharat tak mendapat hasil. Ia kembali dengan tangan kosong. Ejekan Ricky lontarkan pada Bharat namun ia tetap tak menanggapi tingkah bocah itu.


Tak ditanggapi membuat Ricky merasa disepelehkan. Ia menantang Bharat. Karena Bharat yang dianggap kalah tak mendapatkan seekor pun buruan untuk makan siang.


Dan pertarungan disepakati setelah makan siang.


"Hey" Potka bergabung dengan mereka. Suasana menjadi hening.


"Cih pengkhianat!" Almaz dan Raven akan meninggalkan kursinya.


"Duduk!" Simon dengan suara tenangnya. Ia melipat koran dan netranya menatap Almaz dan Raven. Almaz kembali duduk dengan melemparkan kasar tubuhnya ke kursi.


"Mari bergabung" Bharat melihat ada sesuatu dengan mereka. Potka pun duduk, Bharat melihat pada Simon. Simon melirik Bharat. Suasana menjadi canggung.


Simon berdeham. "Bharat ini Potka, ia salah satu dari kita" decihan terdengar dari bibir Ricky. Bharat hanya menggeleng melihat bocah muda itu. Suka sekali mencari musuh.


Setelah itu banyak peristiwa yang menyangkutkan DarkHole juga Nokturnal. Juga hancurnya Nokturnal. Dan pengkhianatan kakak Braxton.


Marzon dan DarkHole yang sekarang masuk dalam Daftar Pencarian Orang a.ka DPO pasukan elite Nokturnal.


Mengapa anggota tim DarkHole ada disini? Didesanya? Apa hubungan mereka?


"DarkHole?" Pandangan Bharat menajam kearah Potka. Ia hanya diam. Potka hanya memastikan ia tak ingin dugaannya benar  dalam hati, ia merapal semoga dugaannya salah.


"Kau tahu aku dari DarkHole? Siapa kau?" Bharat yakin hanya sedikit orang yang tahu tentangnya, disini hanya Simon dan Roxane yang tahu dirinya.


Genggaman keduanya mengeras. Bharat menatap tenang namun tajam menelisik. Sedangkan Potka yang adalah anggota pasukan elite, merasa tersudut.


Disatu sisi ia mengejar tim DarkHole yang bekerjasama dengan ExSide. Namun salah satu tim DarkHole ada didesanya tidak menutup kemungkinan ada anggota DarkHole lainnya disini.


Dan untuk melibatkan desa tercintanya dengan Nokturnal adalah hal yang tak ada dipikirannya.


"Potka?" Namanya dipanggil membuat Potka yang melihat Bharat beralih kearah sumber suara. Netranya melebar meliha wnita yang membuat heboh tempatnya karena kabur dan tak kembali.

__ADS_1


"Wina? Kau disini?" Potka tak percaya, ia mendapat banyak kejutan hari ini.


"Mau apa kau disini? Jangan bilang kau mau menjemputku? Aku tak mau kembali kesana!"


"Sudah. Kita makan dulu!" Semua orang yang berada disana canggung seketika. Namun seperti biasa Manuel bisa mencairkan suasana.


Namun tidak berpengaruh untuk tiga orang di meja itu. Otak mereka dipaksa mencerna dan bekerja lebih untuk memikirkan situasi yang akan mereka hadapi kedepannya. Juga nasib desa Arctos untuk kedepannya.


"Mari kita mulai duel ini" Ricky sangat bersemangat. Ia melihat kearah Bharat yang masih diam tak menanggapinya.


"Apa kau mau mundur? Dan aku akan anggap bahwa nama Ratu tak pantas kau sandang"


"Ricky!" Seruan Jordan. Ricky hanya melirik Alpha kelompoknya sebentar. Ia tahu sikapnya tak sopan. Tapi ia masih ingin tahu seberapa kuat wanita dengan julukan Ratu Putih ini.


"Ayolah kalian jangan munafik, kehadirannya terlalu mendadak! Kalian juga belum melihat sekuat apa dia kan?" Ricky menimpali.


Sebenaranya sebagian mereka juga penasaran, Almaz juga Raven.


"Apa yang kau tunggu! Ayo kita lihat" remehnya, Bharat yang emrasa tak tersinggung ia hanya menanggapi dengan tenang.


Walau ini semua mulai menyebalkan. Jika Ricky tak ditanggapi maka akan seperti dahulu pertama ia kemari. Ia tak lelah menganggu Bharat.


"Kau lupa? Dulu kau kalah denganku kah Ricky?" Bharat yang berbalik mengejeknya.


"Yah saat itu aku masih muda, jangan meremehkanku wanita tua!"


"Ricky jangan keterlaluan!" Manuel yang sekarang memperingatinya.


"Denganku saja" Potka maju. Ia juga penasaran, sejak Ricky menyebut Ratu Putih. Ia semakin tertarik.


Apalagi Wina, ia bisa masuk ke dalam desa dengan Shield ini. Prasangka Potka bahwa Wina keturunan Amarin semakin kuat.


"Ini tidak ada hubungannya dengan orang luar!" Bukan Ricky yang berkomentar, Almaz disana dengan tangan melipat didada.


"Benar, aku ingin Ratu Putih itu!"


"Ratu Putih?!" Potka menatap Simon. Simon menatapnya kembali. Dan wina, mengepalkan tangannya kuat-kuat.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2