DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Grey


__ADS_3

"Menginap lah kalian, Hari semakin gelap" Pernyataan Atari yang canggung danndibuat cuek membuat senyum Sunna melebar. "Kau berhasil Ratu" ucap Sunna dengan mengerling.


Mereka kembali ketempat Atari. Sebuah rumah berada disisi lain dari air terjun naga. Air terjun dimana atari dan para naganya menghabiskan waktu.


Sunna dan Bharat mengikuti Atari. Ia membuka pintu. Dan mempersilahkan kedua tamunya masuk.


Yang terlihat berantakan. Pandangan Bharat tertuju pada lemari buku raksasa dengan banyaknya buku yang tergeletak. Buku itu seperti tak muat lagi untuk masuk dalam lemarinya.


"Berantakan" Atari masuk kedalam ruangan dapur, memasak air. "Duduklah dimana pun" ia sibuk, pada dapurnya. Mencari cangkir teh, juga peralatan lainnya.


"Kau tak perlu rep—"


"Kalian tamu!" Nada Atari meninggi. Sunna hanya menggeleng dan tersenyum, memperingatkan Bharat agar menerima saja. Ini perkembangan baik, mereka tak dianggap musuh oleh Atari.


Bharat pun mengunci mulutnya. Atari meletakkan tiga cangkir teh dihadapan kedua tamunya.


Mereka menikmati teh dalam diam. Bharay merasa kecanggungan yang mencekik sedari tadi. Ia melirik Sunna wajah wanita itu sangat menikmati tehnya dengan anggun dan tenang.


Sedang kan Atari menikmati tehnya dengan tampang yang dingin dan tak terbaca. Dari bawah Atari meletakkan sebuah kandang besi kecil di tengah meja bundar itu.


Rasa penasaran Bharat menyeruak. Tak kalah ia mendengar raungan kecil didalam sana. Tangannya perlahan mengulur.


BRAK!


Tangan Atari menggebrak permukaan atas kandang besi itu. Menghentikan gerakan tangan Bharat menggantung diudara.


Lalu dengan cepat ia tari tangannya saat matanya tak sengaja bertemu dengan mata menusuk milik Atari.


"Jika kau bisa menaklukkannya dalam semalam ia akan menjadi milikmu" Bharat sekali lagi dibuat bingung oleh perkataan Atari.

__ADS_1


Bharat melempar pandangannya pada Sunna yang masih menikmati tehnya. Ia mencari jawaban namun Sunna tak kunjung memberikan petunjuk tentang hal ini.


"Terima kasih, tehnya sangat nikmat, Atari dan teh tak bisa aku ragukan." Sanjungan Sunna yang jujur dari hatinya.


Atari menyesap kesepatan dari teh bunga yang ia hidangkan. Bisa Bharat lihat ada tarikan di bibir Atari mendengar pujian Sunna.


"Bagaimana kau sanggup?" Bharat tak mengerti pun mengangguk setelah ia mendapat kode dari Sunna.


"Bagus, aku akan mengantar kalian ke kamar kalian." Atari beranjak dari tempatnya. "Sunna apa ini?" Bharat berbisik pada Moon Goddess itu.


"Kau bawa benda itu ke kamarmu, dan taklukkan isinya. Red akan membantumu" hanya itu saja yang Bharat dapat dari Sunna. Wanita itu tidak menjawab pertanyaannya dengan gamblang.


Kandang besi itu lumayan berat. Bharat berada dalam kamarnya. Ia meletakkan kandang besi itu di tengah meja. Dan berkeliling kamarnya yang cukup besar dan nyaman.


Bharat merebahkan dirinya sejenak. Suara ribut, mengganggu kantuknya. Awalnya Bharay akan melihat kandang besi itu nanti. Ia ingin mengistirahatkan tubuhnya.


Ia mendudukkan diri pada salah satu kursi disamping mejanya. Dengan tampang malas. Ia membuka kunci yang berada di pintu kandang.


SYUUTT!


Sesuatu keluar dan melintasinya dengan cepat. Bharat mendongak dan netranya beekeliling mengikuti gerakan gesit sesuatu yang belum ia ketahui itu.


Bharat memasang kuda-kuda bersiap melindungi dirinya. "Apa yang Atari berikan ini?" Guman Bharat.


"Hey apa aku bisa tenang!" Pekiknya keras. Namun sesuatu itu tidak mendengarnya. Ia terus teebang dengan cepat dan gesit kesembarangan arah. Menjatuh barang-barang yang berada di kamar Bharat.


"Tidak bisa dibiarkan." Bharat menggunakan alat buatan Camy. Ia membidikan lasernya dna menguncinya. Dalam layar hologramnya Bharat telah mengunci target.


Dan ia membidikan senjatanya. Dan Boom!

__ADS_1


Gerakan gesit sosok itu pun melambat menjadi slow motion. Dan Bharat baru bisa melihat sosok misterius itu. Ternyata seekor naga berukuran kecil.


Bharat menangkapnya dengan muda dan menggunakan tali lahar untuk mengikat naga nakal itu.


Ia menggantung naga yang tak bisa diam. bharat menghela nafasnya. Melihat naga itu berputar ruangan dengan slow motion.


"Kau siapa namamu?" Bharat bertanya pada angin.


"Apa kau memiliki nama? Tidak?" Hanya lengkingan kecil yang menjadi jawaban Bharat.


"Aku akan manamaimu, Hipo? Ah kau tak suka" Bharat terus saja berbicara. Dan lengkingan lebih keras terdengar.


"Bagaimana jika Lukas?" Terdengar lengkingan lagi. "Drarry? Ini keren kan?" Kembali Naga itu bersuara melengking yang menyakiti kuping Bharat.


"Oke, oke, ah ini pasti tak akan kau tolak Grey?" Tak ada suara. "Kau suka, aku tahu kau akan suka. Mau aku kenalkan pada Red?" Naga itu berhenti terbang. Ia masuk dalam lemari buku.


Ia berdiam disana. Ini tak bisa dibiarkan ia harus bisa menakluk naga ini malam ini juga. "Grey kau tak ingin kemari?" Bharat berbicara sendiri.


Grey hanya melirik malas. "Kau tahu Grey aku sedang dalam misi menyeimbangan dunia, bayangkan seberapa hebat itu" Grey berdiri ia membalikkan tubuhnya menghadap dalam lemari. Tak ingin mendengarkan curhatan Bharat.


"Dan bertemu dengan kau adalah sebuah keajaiban. Kalian makhluk mitologi yang biasa aku baca hanya pada buku-buku tebal, aku melihat kalian nyata disini."


"Kau tau Grey aku sangat beruntung, bisa melihat kau, kalian, ada juga Red, bisa berinteraksi bahkan memegang dan berpetualang bersama, ini bagai mimpi" Suara Bharat lirih. Ia tak mendapat respon dari Naga itu.


"Selamat malam, Grey" Bharat mematikan lampu kamarnya, dan mungkin memang ia tak berjodoh dengan Naga. Tidak mengapa, Ia akan tetap ketahap selanjutnya hanya dengan Red.


Bharat menarik selimutnya. Ia tak tahu Grey kembali memutar tubuhnya menghadap dirinya dan ikut tertidur.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2