
"Tidak, aku bertemu Wina sebelum kau kesini, ia bisa masuk kedalam desa, akupun terkejut, jika bukan keturunan ras tak aka bisa menembus shield selain ia dibawa masuk oleh ras keturunan."
"Dan saat itu mencium wangi Wina ada ditubuhmu, aku menduga ia belerja dengan Nokturnal juga. Tapi ternyata dia tawananmu"
"Kau yakin Bharat keturunan sesungguhnya? Kau yakin tak salah?"
"Kau sudah melihatnya sendiri, bagaiman Moon Goddess mau mendiaminya"
"Kau terlalu banyak bertanya? Kembalilah, bawa sekalian tawananmu itu, bisa repot jika Nokturnal kembali mempork porandakan desa kami" sekarang Almaz ikut berkomentar.
Sedari tadi ia berada disana, namun ia tak ada alasan untuk ikut dalam obrolan hingga ia merasa Potka ingin kembali ke desa. Tak akan ia biarkan pengkhianat masuk kembali kedesa.
"Lebih baik kau menjauh dari desa ini, kau juga salah satu anggota tim pasukan elite Nokturnal yang memburu Ratu kami"
"Dan bawa juga wanita itu, kami tak membutuhkannya berada disini" Semua yang berkaitan dengan Nokturnal sangat tabu jika berada didesa ini.
Ada seorang dengan raut wajah penuh kebencian mendengar percakapan mereka. Ya, Wina.
"Mereka menggunakan aku jika mereka tak menemukan keturunan asli, BerengsEk, kalian! Palsu! Sama saja" Wina kembali pada kendaraannya, berada di tempat Roxane.
Ia melihat Roxane juga para wanita menyiapkan makan malam. Ada Bharat juga yang ikut bercengkrama.
Iri dan amarah Wina menjadi kebencian. "Jika kau tak ada, itu akan menjadi tempatku, kalian pembohong! Kau merebutnya!"
Wina kembali ketempat Potka. Kebencian mengelayutinya. Ia berpapasan dengan Osman.
"Kau kembali? Tahu jalan pulang? Kenapa tak sekalian kau mati saja!" Cibir pria kurus itu. Kesalnya tak juga reda setelah mengatakan hal kejam.
"Pulang ... ?" Lirih Wina. Matanya kosong, mendengar kata yang ia gaungkan, dulu, saat ia merasa diterima oleh Desa Arctos.
"Mati ... ?" Wina berpaling, manatap nyalang Osman, dengan gerakan cepat menyiku leher Osman, hingga pria itu mundur beberapa langkah dan menempel pada dinding.
Ia tersudut. Jepitan siku Wina pada leher Osman mengetat. Pria itu kesulitan mengambil udara. Pria itu mulai meronta. Namun kekuatan Wina sangat besar.
"Hgrr ... hggh ... "
Kaki Osman bahkan tak lagi berpijak pada lantai kilap. Perlahan sudut bibir Wina membentuk senyum miring. Seringaian mengerikan.
Dengan susah payah Osman memukul Wina agar wanita itu melepaskannya. Wajahnya memerah.
__ADS_1
"Kau ingin mati kan?" Bisik Wina didekat telinga Osman. Pria cemen itu hanya menggeleng. Matanya mulai berair dan merah. Urat dipelipisnya menyembul.
Wina mundur. Ia melepaskan sikunya. Osman yang tak bertenaga jatuh luruh begitu saja ke lantai.
Ia dengan cepet mengambil udara banyak-banyak sambil memegangi lehernya yang terasa nyeri dan memar.
"Ternyata bagus juga, ampuh membungkam mulut yang bau" Bisik Wina, ia mencontoh Bharat saat menyiku leher Ricky.
"Aku bisa saja mematahkannya, tapi aku urungkan, nanti kita bersenang-senang lagi ya"
"Aaahh ... senangnya pulang," lanjut seruan Wina ceria meninggalkan Osman terkapar dengan tangan setia pada lehernya.
Wina melangkah, pertama kalai yang ia lakukan menghubungi Marky. Untuk menariknya lagi ke Nokturnal.
Ia akan simpan tentang keberadaan desa Arctos. Dan ia akan menyelinap ke tempat Potka dan menagmbil buku yang pernah tak sengaja ia baca.
"Aku terima"
"Bagus, setelah ini hubungi Patrik mengenai segala keperluanmu"
"Baik"
Wina teringat saat Marky berada dalam ruangan yang menyerupai kamarnya ini, Marky menawarkan kerjasama, Marky telah tahu, jika Wina menyadari perubahannya.
Tapi tidak di tempat Potka, melainkan di Nokturnal, di kediaman Marky. Selain itu, Wina juga dapat melakukan apapun kesukaannya. Namun semua dibawah kendali Marky.
Wina sudah tak peduli lagi, ia akan dijadikan apa oleh Marky. Sekarang yang Wina pikirkan hanya keuntungan yang ia dapat.
Ia bisa melakukan apapun, dan membuat apapun. Dan akan tiba saatnya ia akan menghancurkan kumpulan orang yang dibencinya merasakan kesengsaraan.
Selesai, ia hanya memiliki sedikit waktu lagi ditempat Potka, ia akan membalas dua wanita yang berpura-pura menjadi sahabat, yang nyatanya hanya tim peneliti milik Potka.
Nicole dan Grace.
Matanya tertuju pada mereka. Mereka mengenakan jas putih mereka. Tampilan yang cukup berbeda saat bersamanya. Ia lupa itu hanya sebuah kepura-puraan. Penyamaran.
Wina mendekati mereka yang sedang berdiskusi di koridor. Wina tak menyapa, layaknya tak mengenali. Wina melewati mereka.
Wina merasakan lirikan keduanya. Ia berjalan ke ruangan Potka.
__ADS_1
Saat tadi kepulangannya dari desa Arctos, ia melihat kendaraan Potka mengikutinya dibelakang.
Mereka kembali ke tempat Potka bersamaan namun Potka melajukan kendaraannya, ia tidak ikut berhenti.
Wina hanya melirik dari dalam kendaraannya. Ia tak peduli apa yang akan pria itu lakukan.
Wina mengetok pintu Potka, ia pikir Potka belum kembali. Tapi ternyata kedua wanita itu mengikutinya.
Sssrrrttt ...
Ia pun mau tak mau masuk kedalam tanpa permisi. Ia melihat Potka yang duduk di kursinya.
"Potkaaaa~" layaknya dulu saat ia mengira Potka adalah teman dekatnya. Potka menaikkan lirikkannya. Sebelum masuk ia sempat melirik kedua orang itu yang menatapnya tak suka.
Potka menautkan alisnya. Ada apa dengan wanita ini pikir Potka. Mereka bahkan tak saling berbicara saat didesanya.
"Aku tak tahu kau, tahu juga desa Arct---" ucap Wina, Potka secepatnya mendekat pada Wina. Ia membungkam mulut Wina. Matanya bertatapan dengan mata Wina.
"Jangan sebut nama itu disini" bisiknya hampir tak terdengar. Mereka sangat dekat. Potka membungkam mulut Wina dengan telapak tangannya.
SSrrtttt ...
"Ketua ad---" Nic menggeser pintu Potka. Ia melihat kedekatan Potka dengan Wina. Ia berhenti dengan G ada dibelakang mereka.
Potka dan Wina masih menatap satu dengan yang lain. Wina tahu dua wanita ini memiliki minat pada Potka.
Ia mengambil kesempatan ini untuk membuat mereka panas. Wina memegang tangan Potka yang menutupi mulutnya.
Kerutan terlihat dari dahi Potka yang bingung dengan sorot mata Wina berubah, bukan marah, tapi jahil.
Wina membuka bungkaman Potka dan mengecup telapak tangannya berkali-kali. Wina tersenyum sensual. Ia melihat keterkejutan Potka yang hanya sekilas namun ia bisa menangkapnya.
"Iya tahu, aku tunggu nanti malam" Wina mengecup pipi Potka.
"Temui aku, dan penjelasan jika kau tak ingin 'tempat itu' kubocorkan ke pasukan elite lain" bisik Wina saat ia peluk manja Potka. Ia menepuk bahu Potka yang menatapnya.
Ancaman. Wina menggunakannya, sudah pasti Potka tak ingin bekerja sama dengannya. Ia bisa melihat kencemburuan disana. Rasanya sangat menyenangkan ternyata melihat orang yang tidak kita suka menderita.
Bohong jika ada orang berkata balas dendam itu tidak baik. Nyatanya ini membuat gembira. Wina tak peduli lagi tenyang orang alin toh memang sejak dulu dirinya begitu.
__ADS_1
Dan sempat hilang saat Theo tewas.
Tbc.