DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Kediaman Orso


__ADS_3

Marzon terkejut. Mengapa wanita itu bisa sampai disini? Sudah lama sekali ia tak melihat orang yang ia kenal. Sejak Braxton menculik dan menjadikannya bahan penelitian.


Wanita itu mengernyit. "Anda kenal Lycan itu Ratu?"


Marzon terbelalak. Ratu? Ia tak salah dengar. Bharat dipanggil ratu?


"Aku tak mengenalnya." Bharat kembali fokus.


Haiyla yang menjadi pendamping Bharat. Tahapan selanjutnya untuk menjadi Ratu. Bertepatan dengan pengukuhan Raja bagi Marzon.


Marzon masihbsibuk dengan pikirannya. Bharat sudah menjauh bersama Haiyla.


"Ini tempat apa?" Tanya Marzon pada Orso yang berada dibelakangnya


"Mengurus perijinan" singkat. "Kami tak ingin ada kesalahan apapun" lagi, kalimat ambigu yang membuat Marzon sedikit kesal.


"Bagus jangan biarkan mereka masuk dengan niat jahat mereka" Orso melirik Marzon.


"Ini kami lakukan setelah tak adanya Raja didunia bawah, kami hanya menjaga sebisa kami, melindungi dari para jahanam yang ingin menguasai Pheonix"


Marzon menjadi teringat pada bacaannya di tempat Hecate. Ia membaca kekuatan Pheonix sangat besar, apalagi jika digabung dengan kekuatan dari eye dragon.


Namun tak banyak yang bisa menahan kekuatan besar itu dalam tubuhnya. Ya Raja terdahulu lenyap karena sifat aslinya terlihat. Ia tamak, licik dan serakah.


Ingin memiliki semua dan menguasai seluruh dunia. Tapi ia lupa hanya yang terpilih yang hanya bisa mengemban kekuatan itu.


Raja-raja sebelumnya mereka mengetahui seberapa kemampuannya. Namun Raja tamak itu, Dongeon, memaksakan dirinya dan ia hancur dimakan kekuatannya sendiri.


Hecate percaya Marzon bisa ia kendalikan. Sebenarnya ia suka dengan Dongeon sifat tak mau kalahnya, namun ia manusia bodoh yang tak mau mendengarkannya.


Dan dengan Marzon ia mengetahui dari Regulas, jika Marzon tak terpengaruh dengan teh yang ia minta pada Agrabella.


Hecate percaya ia bisa mengontrol Marzon.


"Yang Mulia, kita harus menunggu dulu tiga empat hari, sebelum melanjutkan perjalanan lagi, Saya sydah menyiapkan penginapan untuk kita." Berus datang dan Marzon juga Orso beranjak dari tempat itu.


Tak lama, mereka sampai pada sebuah bangunan pohon. Bagunan unik yang menjulang itu, Berus membuka kuncinya.

__ADS_1


"Silahkan Yang Mulia" Marzon memasuki area dalam rumah itu. Ternyata sangat luas, dengan tatanan layaknya rumah biasa.


Lorong dengan ruangan-ruangan, ia menengok kekiri. Ia melihat ruangan dengan sofa dan juga tunggu api.


Lalu ia melangkah lurus, dan mendapati tangga kayu pohon oak, yang diplitur coklat gelap. Disebelah tangga ada pintu yang menuju dapur dan ruangan makan.


"Kamar Anda diatas Yang Mulia" Berus mengarahkan Marzon kelantai atas, Marzon hanya bisa melongok sebentar kearah dapur.


Ia mengikuti Berus. Dan Orso masuk kedalam dapur itu.


"Ini kamar Anda, selamat beristirahat, saya akan kembali saat makan malam"


"Dimana kamar kalian,"


"Saya dikamar bawah, Yang Mulia, kalau Orso ia akan pulang kekediamannya,ia memiliki keluarga disini"


"Oh begitu, mengapa kita tak tinggal dirumah Orso saja,"


"Saya rasa anda tak akan nyaman jika tinggal di kediaman saya" Orso yang sudah menenteng baki dengan cangkir teh diatasnya. Ia akan mengantar teh ini ke Marzon. Tapi ia mendengar perkataan Marzon, Jadi ia menanggapinya.


"Mengapa kau pikir aku akan tak nyaman?"


"Wah, akan seru, kalau begitu" Orso dan Berus saling pandang.


"Mereka nakal, kadang agak susah diatas, Yang Mulia"


"Aku jadi semakin ingin bertemu, dengan yang nakal" Orso kembalibmelirik pada Berus yang hanya menatap keduanya.


"Tak apa, besik kau bisa bawa aku bertemu dengan selusin bocah itu" Marzon memang sangat suka membuat ketar-ketir.


Beruang hitam besar itu menghela nafas lega. "Ba-baik Yang Mulia" Orso ikut masuk dan meletakkan nampan itu diatas nakas samping tempat tidur Marzon.


"Saya permisi" Orso berpamitan pada Marzon sekalian untuk pulang kerumahnya dan bertemu dengan selusin bocah yang ia rindukan.


"Kau sama sekali tak membantuku!" Orso dan Berus sudah dilantai bawah, tepatnya didapur.


"Dia mau ketempatku! Tidak akan aku bawa dia!"

__ADS_1


"Ajak saja tak apa" jawab Berus santai.


"Kau mau melihat bocah-bocah itu menggila, dan membuat Kalea murka, tentu tidak!" Berus tekekeh melihat rekannya yang panik.


"Siapa tahu, ia malah akrab dengan bocah-bocah, jangan terlalu membencinya, ia adalah Rajamu kelak" masih terkekeh melihat sorot tajam yang menatapnya penuh permusuhan itu.


"Sudahlah, siapkan saja, kau tahu seberapa keras kepala Raja kita sekarang,  dan berikan salamku untuk para bocah juga Kalea"


Berus melihat Orso yang telah menuju pintu dengan bergumam entah apa. Berus tersenyum. Pasti besok Orso akan kelabakan.


Ia masuk dalam kamarnya. Lelah. Ia ingi istirahat sebentar sebelum menyiapkan makan malam.


*


*


*


Suara langkah kaki saling berkejaran menjadi musiknya dipagi hari. "Dadah-daaa ... Da-daaa kyaahahaha ..." tepukan rinagan diwajahnya, ia meraih tangan kecil dan menidurkannya di sampingnya kemudian mengelitiki tubuh mungil dengan rok lucu.


"Hai pumkin, pinter bangunin dada" suara serak Orso,


"No no noooo" gemas celoteh beruang mungil itu.


"Ayo kita cari mommymu" Orso mengendong beruang itu dalma tangkupannya. Dan jalan keluar kamar.


"Kejar aku kalau kau bisa!" Bocah beruang berumur 5 tahun itu menujulurkan lidahnya, mengejek adiknya yang ada dibelakangnya.


"Kau lihat saja Luck aku bisa mengerjarmu" teriak bicah kecil yang berada dibelakang dengan pipi memerah karena kelelahan.


"Kakimu terlalu kecil untuk bisa mengejarku, Bas!" Ucap Luck yang membuat Bas berang. Dan dibelakang mereka ada satu lagi yangbikut mengejar kakak-kakaknya itu.


"Tunggu aku Bas, Luck!"


"Luck, Bas, Andruw! Duduk dan makan sarapan kalian!" Namun ketiganya tak mendengarkan dan malah sibuk berkejaran.


"SEKARANG!" suara tinggi Kelea menghentikan acara kejar kejaran mereka, mereka satu-saru memenjat kursi makannya masing-masing.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2