
Perkelahian semakin memanas, robot toples semakin berdatangan, jika tadi mata mereka berwarna kehijauan sekarang berubah hitam.
Robot itu membabat apa saja yang menghalangi di depannya mereka tidak.pandang bulu, tembakan mewarnai sekitar.
Bharat mengaktifkan alat komunikasinya dengan Camy, "Cam, aktifkan, mode balik robot toples" Bharat telah memacu cepat kudanya, dengan memasang earpiece.
"Mereka sudah mulai menyerang rupanya, disana sudah ada Alex dan yang lainnya,"
"Baik aku percayakan pada kalian, Hyaaahh" Bharat masuk dalam peperangan. Merentangkan tangannya, pedang muncul dalam genggamannya.
Ia mengayunkan pedangnya pada prajurit lawan. Membuat mereka terkapar. Mengamati dari atas kuda, Tak semua robot berbalik, dan bisa Mereka kendalikan.
Ada beberapa robot masih menyerang dengan brutal ditandai dengan mata mereka yang menghitam.
Ia mengacungkan pedangnya, menebas kepala robot dan putus. Menggelinding entah kemana.
Begitu pula yang Marzon lakukan ia mengoyak robot brutal itu. Menatap sekitar tak ada lagi robot yang brutal. Ia berbalik akan menghajar para pasukan kiriman Nokturnal.
"1003 dan 1004, Kami butuh bantuan!" Suara dengan nafas tersendat di kuping Bharat.
"Marzon pakailah" Bharat melemparkan satu buah earpiece pada Marzon. Lelaki itu menempelkan pada telinganya.
"1003 dan 1004, Kami butuh bantuan!" Suara itu lagi terdengar. "Kita kesana" Marzon dengan gesit melompat dari satu pohon ke pohon lain.
Ia sampai lebih dulu, suasana keos, mereka menyusupkan banyak pasukan. Mereka kualahan, tidak menyangkan ribuan robot mereka.
Banyak rakyat yang tak bersalah menjadi korban, walau sudah yang prajurit Phoenix Way evakuasi.
Para lelaki juga banyak yang membantu. Mereka tak bisa menggunakan kekuatan mereka. Karena acara penobatan mereka memasang barrier, pelindung, agar tidak ada yang bisa menggunakan sihir mereka.
"Lepaskan saja barrier pelindung itu." Ucap burung hantu berarmor.
"Lakukan Simba," Berus memerintahkan. Dengan sekali menggerakan tangan, barrier pelindung sihir lenyap.
"Pakai sihir kalian!" Perintah Berus. Pada alat komunikasi, dan mereka yang sudah kelelahan dan hampir terbunuh. Menghantamkan tinjuan sihir.
Lisica, menghantam kuat pasukan elit milik Nokturnal. Dengan tubuh yang dua kali lebih besar dari dirinya.
__ADS_1
Ia mengaktifkan kekuatan sihirnya, kepala nya kembali bertubi menghantam klan berambut perak yang mencoba menyerangnya dari belakang.
Ia menangkap tangan si penyerang, dan mematahkan dengan mudah. Kemudian ia membalik tubuhnya menyerang ulu hati si penyerang hingga terkapar tak sadarkan diri.
Nafanya tersendat. Keningnya mengernyit dalam. Ternyata banyak dari kalan rambut perak dan juga klan Trudy. Yang mengarah ke arahnya.
Dengan tenang, Lisica melompat dari tempatnya keatas. Setelah diatas ia menumpu pada udara meluncurkan tubuhnya pada gerombolan yang berlari ke arahnya.
Gerakannya menjadi gesit dan terlihat. Seperti angin ia mengincar titik lemah lawannya. Menggunakan kekuatan matanya mencari segala kelemahan lawan. Ini salah satu kekuatan yang Lisica dapatkan saat menerima armor dan menjadi prajurit Phoenix Way.
Keluar dari gerombolan, suasana nampak slow motion di matanya. Disusul kemudian teriakan dan jeritan kesakitan dan sekarat.
Lisica meninggalkan kelompok itu ia meluncur pada tempat yang memerlukan bantuannya.
Orso berhadapan dengan miyan buatan Nokturnal, sama sepertinya berkepala beruang dengan tubuh yang gempal.
Lisica ikut masuk dalam pertarungan satu lawan banyak itu. Ia menempelkan dirinya pada punggung lebar Orso.
"Kau tampak senang?" Orso bisa melihat wajah menantang yang Lisica perlihatkan untuk lawannya.
"Sihir, sangat membantu," ucapnya dengan mata yang awas memindai sekeliling.
"Kuat sekali dia, manusia membuatnya seperti apa?"
"Yang pasti sebagai senjata pembunuh hidup yang tak terkalahkan, kau lihat jahitan yang menjijikan itu." Ucap Lisica.
"Sungguh kasihan" ucap Orso. Dengusan terdengar dari wanita rubah itu.
"Kau harusnya mengasihani dirimu sendiri"
ZRAK!
Mutan beruang didepan mereka terbelah menjadi dua. Memperlihatkan sosok Leonard di belakangnya dengan pedang besar miliknya di antara tubuh terbelah itu.
"Kalian terlalu lama berdiskusi" ucap singa itu enteng.
"Aku akan menghabisinya dengan cepat jika tadi tidak mendengarkan Orso dengan rasa kasihan pada mutan beruang itu" ucap Lisica, ia melengang, dengan mata Orso menatap Lisica malas. Dengan kekehan Leonard.
__ADS_1
"Mari kita menuju ke 1003 dan 1004" kemudian mereka dengan kuda masing-masing meluncur masuk dalam hutan.
"1001 bersih!" Laporan dari Earpiece Berus yang berada di Deep Inside.
"Pusat bersih!" Dari Simba,
"Bagus!"
SRAK!
TRANK!
TRANK!
TRANK!
Sabetan pedang menyerang dirinya, Berus terus melawan, ia tak menyangka pada penyerangnya, tak ada dalam pikirannya bahwa sosok di depannya akan berkhianat,
"Ternyata kau musuh dalam selimutnya"
Serangan semakin agresif, pedang beradu pedang, sosok itu sungguh lihai dan terlatih. Berus menahan dengan payah serangan sosok itu hingga pedang Berus terlempar jauh.
TRANK!
PRANK!!
Sosok itu terkekeh, ia senang hari yang ia nantikan tiba. Kembali ia mengangkat pedang, mengayunkan didepan Berus, Ingin menghabisi macan hitam itu dan mengambil kristal abadi yang Berus simpan.
DOR!
"ARK!"
TRANK!
PRANK!
"KAU TAK APA BERUS?"
__ADS_1
Tbc.