
Marzon mengalihkan tatapannya ke mahkluk kerdil lainnya itu.
"Selamat datang di cahaya ilusi Yang Mulia," si tua itu menunduk hormat namun tak mengurangi kemarahan pada wajahnya.
Pria tua itu mengetakkan tongkatnya ke tanah dengan keras. Lalu para peri yang mengelilingi Marzon pun mundur teratur, begitu pun dengan Sibra dan ibunya.
"Maaf jika aku membuat anda marah, Granpa D, bisa aku memanggilmu begitu?" sopan Marzon.
Granpa D mengangguk, "Silahkan Yang Mulia" Pria tua itu mencoba meredam kemarahannya,
"Aku suka disini sangat nyaman, mengapa kalian menyembunyikan tempat senyaman ini dan memusuhi mahkluk lain?" Marzon menanyakan rasa penasarannya.
"Yang Mulia pertanyaan anda terlalu naif, banyak dari mereka memiliki sifat darah dingin, walau mereka dekat, belum tentu tak memiliki niatan jahat"
"Pengalaman yang membuat kami harus menutup diri" lanjutan pria itu.
"Menutup diri?"
"Kau harus lebih banyak belajar lagi, Yang Mulia" Granpa D dengan mulut tajamnya ia meraih cangkir yang Regulas ambilkan untuknya tadi.
"Banyak orang terlihat ramah di awal, namun ternyata ia seorang kejam, kami pernah merasakan itu, dan hampir menghancurkan ras kami." Pria itu bercerita.
Marzon sangat tertarik dengan barier ini. Jebakan menangkap nyamuk nakal. Seringaian terlihat dibibirnya walau tipis. Ia ingin tahu bagaimana mereka menciptakan barier ini.
Namun jika ia memintanya dengan gamblang maka yang ada ia akan dimusihi. Siasatnya bermain.
Marzon tahu banyak yang menyepelekan dirinya. Dengan statusnya ini, ia pun tahu bahwa bangsanya, bangsa para Lycan sendiri memusuhi dirinya.
Karena ia hanya buatan bukan keturunan asli. Iya, namun itu masalah nanti. Sekarang ia sedang menuruti kata hatinya. Entah mengapa ia merasa harus menjalin hubungan yang baik dengan para peri ini.
"Iya aku tak begitu mengenal dunia bawah, banyak, aku sedang berusaha sekarang."
"Kami bisa melihat itu"
__ADS_1
"Kalian tahu banyak dari mereka takut dengan barier yang kalian buat ini" ucap Marzon.
"Tentu, Yang Mulia, anda juga pasti bisa menebaknya"
Marzon mengangguk, Melindungi kelompok. Dua kata itu cukup untuk Marzon mengerti.
"Boleh ajak aku berkeliling tempat ini, aku ingin mengenal kalian"
"Silahkan namun jangan melanggar apa yang sudah menjadi ketetapan disini" peringatan pria tua itu.
"Regulas!" Panggilnya.
"Ya, Ganpa G?" Ia menatap pria tua itu yang diam dikursinya, lalu beralih pada Marzon yang menyesap cangkir ke limanya.
Regulas mengerutkan keningnya, Melihat Marzon yang sangat menikmati minumannya, apa seenak itu? Sedari tadi hal ini yang berada dipikiran pria itu, saat dirinya sibuk membuatkan Marzon bercangkir-cangkir minuman.
"Kau antar Yang Mulia berkeliling"
Kembali Regulas mengangguk. Sibra berlari kearah pria tua itu, "Gpa, aku ingin ikut" pintanya pada pria itu.
"Boleh saja, tapi kau jangan nakal ya" Wajah pria tua berubah lembut. Ia mengilurkan tangannya kekepala Sibra dan menepuk-nepuk pelan.
Ia cukup percaya dengan Marzon, ia melihat interaksinya dengan Sibra tadi. Senyum gembira terlihat dari raut wajah Sibra.
"Okay Gpa" ia berjinjit dan mengecup pipi Granpa D. "Ayo paman, Ayo Raja ikuti aku, akan kutunjukan kalian dengan sesuatu yang indah"
"Sibra! Tapi tidak ketempat itu!" Seruan Granpa D.
"Yaaahh ... " Sibra melihat gelengan kepala Granpa D. Yang berarti jangan coba melanggarnya.
"Okay, Gpa, tenang masih banyak tempat indah disini"
Marzon yang mendengar semakin penasaran mengapa ia tak boleh ketempat itu. Apa disana pusat kekuatan mereka.
__ADS_1
Ya sudah sekarang ia tak boleh gegabah, ia tak memiliki niatan jahat, hanya saja ia ingin barier itu.
Membantunya nanti dalam perang dengan adiknya, Braxton. Maka ia mengumpulkan kekuatan, walau ia tak ingin membuat dunia bawah terlibat. Dan akan menimbulkan hal yang tak diinginkan.
Braxton tipe yang sangat percaya teknologi dan science. Semua yang bisa dibuktikan dengan alat. Ia tak terlalu percaya dengan sihir dan kekuatan dari semesta.
Walau banyak juga teknologi terimbas dari sihir, portal, salah satu contoh gabungan dari teknologi juga ilmu sihir.
Marzon tidak pernah menghubungi Bukit Rfizt karena situasi belum sepenuhnya tenang. Barxton masih saja mencari tahu keberadaan Juan dari dirinya. Maka ia menutup semua akses agar asistennya itu tak menghubungi dirinya.
Menjaga agar tempat mereka tak diketahui. Karena Nokturnal juga masih mencari anggota tim DarkHole.
*
*
*
"Alex kau jangan keluar dulu sembarangan, klan Trudy dengan besar-besaran mencari keberadanmu dan Loreen" Jenny, yang iseng datang ke Wildlife. Disana banyak bertebaran gambar Alex dan Loreen.
"Mereka menemukan kita Lex" Loreen yang ikut bergabung dengan mereka. Tak lama Camy menarik kursi samping Alex.
"Kalian harus berhati-hati. Aku akan ke Walabi, ingin membantu adik angkatku, Marky ingin mengusik Walabi"
"Ia tahu Walabi memiliki ladang pohon uang" Jo meletakkan nampan dengan gelas-gelas jus di tengah meja. Mereka sarapan bersama.
"Minum dulu, kau jadi mengajakku kesana?" Jo menyela,
"Jadi, disana ada satu yang aneh dan kau harus meliahatnya"
"Okay aku akan bersiap" Jo meninggalkan mereka. Walabi sedang mengetatkan penjagaannya. Sejaj bermasalah dengan Nokturnal.mereka harus semakin waspada.
Tahu seperti apa kelakuan musuh dihadapan mereka. Maka perketat adalah jalannya. Nokturnal, Marky, memang selicik itu.
__ADS_1
Tbc.