
Alamira, Braxton dan Willow sampai pada jembatan melayang, disini ia baru bisa menggunakan sihir juga penemuannya yang dianggap ilegal.
Ia mendapatkan pentagram dari kaum paus, klan Trudy. Ia bisa menggunakan nya untuk melintas portal dimensi. Ketempatnya langsung jika menambah pentagram dalam kunci portal yang diberi oleh Agrabella. Sebagai pintasan jadi ia bisa langsung ketujuan.
Tidak harus transit dulu ke desa lain. Dalam perjalanan Braxton dan Willow masuk dalam bangsa ular dan ia diberi portal ke desa ular. Namun tujuan asli mereka ke Phoenix Way jadi dengan menggabungkan kunci portal dan pentagram itu bisa membawa mereka ke Phoenix Way dan terdeteksi mereka ke desa ular.
Yang membuatnya terbuang di Nokturnal adalah para mutan yang menyembunyikan adanya dunia bawah dari kaum manusia. Yang masih menjaga agar dunia bawah tetap aman dari kaum manusia yang sekarang hanya bisa mengacau.
Dan kaum terbuang sepertinya juga dijaga ketat. Maka mereka diam-diam. Dan tak ada yang berani melanggar dengan konsekuensi dilenyapkan.
Portal terbuka. Alamira mengangguk dan ia masuk lebih dulu. Lalu Braxton menyusul dan Willow. Mereka masuk kesebuah bangunan gelap. Ia melihat Alamira telah bersimpuh dengan tangan terangkat. Dan ada dua sosok besar disamping kanan kirinya dengan tombak. Menodong Alamira.
"Duduk!" Braxton yang tak siap mengikuti arahan kencang itu. Willow yang terkejut akan menyerang, dengan cepat ada yang meregut belakang lehernya dan membuatnya bersimpuh seperti Alamira Braxton.
Braxton menatap sengit Alamira yang membelakanginya. Begitu pula Willow. "Siaal!" Maki Willow.
"Siapa kalian?" Suara tinggi itu membentak. Mereka tak ada yang menjawab. Braxton dan Willow terdiam. Mereka lebih baik menunggu perintah dari Alamira. Tak ingin mati konyol dalam dunia yang asing bagi mereka.
"Jawab!" Sosok besar itu mendekati pada Alamira. Ia membuka paksa tudung kepalanya.
"Alamira!" Mendengar sosok lain bersuara.
"Saya Tuan Shawhel, saya membawa manusia masuk dalam dunia bawah, maaf, Tuan"
"Silahkan saja namun jangan berulah" Alamira mengangguk. "Baik Tuan"
"Bebaskan!" Perintah Shawhel. Dan kedua sosok besar tinggi yang berada di samping Alamira, mundur dan kembali kesamping Shawhel.
__ADS_1
Willow masih mengenggam kencang tangannya. Ia merasa direndahkan oleh mutan yang tak berharga jika mereka berada di Nokturnal.
Willow tak terima. Menatap tajam pada sosok Shawhel. Tatapan lebih ke merendahkan. Jangan sampai kita bertemu di Nokturnal, jika itu terjadi, aku akan habisi kawanan kalian, Willow membatin.
Alamira menatap kearah Willow ia tak ingin wanita itu membuat ulah. Tangannya menyuruh Braxton untuk berdiri dan mendahuluinya.
Ia memperharikan Willow yang mengepalkan tangan, dan mengikuti Braxton untik beranjak dari tempat itu sebelum adanya perkelahian.
Alamira merasa kelegaan. Willow berjasil menutup mulutnya. Mereka sudah berada diluar gedung pengap dan becek.
Hutan menjadi santapan mereka. Braxton tak menemukan sesuatu yang berbeda dari dunia manusia. Semua sama.
Dan begitupun dengan Willow yang diliputi rasa kesal. Namun ia diam saja. Sejak keluar dari gedung itu.
Alamira merasa lebih baik begini. Mereka tak menyusahkannya. Ia melirik kesudut mata. Menangkap kelebatan bayangan yang mencurigakan.
Kecurigaannya terjawab beberapa saat kemudian mereka dikelilingi bandit. Dengan menggunakan kain untuk menutupi identitas mereka walau Alamir tahu kumpulan bandit ini dari bangsa bajing.
Alamira menghela nafasnya. Ketenangannya terganggu. "Willow aku tahu kau sangat kesal, aku akan memberimu kesempatan melampiaskannya" Willow yangbmerasa dipanggil mendongak.
Ia kekesalannya direndahkan oleh mutan rendahan masih bercongkol. Dan didepannya ada enam atau tujuh mutan siaalan. Willow melepas tudung kepalanya. Terdengar siulan menggoda dari para mutan rendahan itu.
Willow menatap tajam siulan dan godaan dan kata-kata bejat keluar dari para bandit kelas cere itu.
Willow melepas mantelnya. Dan merangsek maju, berdiam lama didepan salah satu bandit yang merasa senang ia hampiri. Ia membiarkan bndit itu menyentuh tubuhnya. Willow pun tak segan menyentuh pinggang bandit itu. Siulan menggoda semakin terdengar keras.
Lalu KRAK!
__ADS_1
Willow mematahkan pergelangan tangan bandit itu. Lolongan panjang menyakitkan terdengar.
Ia berbisik, "bagaimana nikmatkan?" Lalu Willow tak membiarkan sang incaran mundur selangkah pun.
BRAK!
Tangannya ia ulurkan ke pinggang lawan dan mengangkat dan menjatuhkan dibelakangnya. Dan tewas.
"Hyaaah ..." kawanan bandit tadi hanya terdiam karena ulah Willow yang lihai. Yak ingin seperti temannya yang tewas mereka menyerang Willow, Braxton dan Alamira.
Dengan sekali mengerakan sikunya Braxton bisa melemparkan tubuh bandit itu ke arah pepohonan.
Alamira melawan, ia merasa ini sangat membauang tenaga mereka nantinya, karena perjalanan mereka masih cukup panjang. Ia menggunakan sihirnya. Membakar sisa bandit itu hingga jadi abu.
Gangguan mereka hilang.
Senyum sumringah terpancar diwajahnya, ia akhirnya bisa menggunakan penemuannya, mengagabungkan sihirnya dengan pentagram yang ia kumpulkan.
"Sudah mari kita lanjutkan perjalannan," Ucapnya ringan. Willow memperhatikan Alamira yang harus ia pertimbangkan untuk ia hindari.
Ia bisa saja mengalahkannya, tapi melihat banyak yang wanita itu sembunyikan ia tak akan gegabah. Biarkan seperti ini dulu.
Begitu pula dengan Braxton ia tak boleh melakukan hal gegabah. Ia harus mempelajari lebih dalam tentang dunia yang baru ia tapaki ini. Ketiganya pergi.
Satu bandit yang mereka anggap tewas, membuka matanya, nafas tersenggal merasakan beberapa tulangnya patah. Juga luka-luka yang tak ia pedulikan.
Ia bangkit, dan jalan dengan tertatih. "Ras Ular! Berani sekali mereka!" Satu bandit yang masih hidup itu menyandar ke pohon, ia memanggil para anggotanya yang lain agar menjemputnya.
__ADS_1
Ia harus melaporkan tentang kejadian ini pada ketua mereka.
Tbc.