DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Keluarga Collens


__ADS_3

"Jangan beri mereka kesempatan menghancurkan Walabi" guratan tua pada dahi Esmas semakin terlihat. Lelaki dan wanita di depannya ini berusia sama seperti orang tuanya. Kerutan- kerutan halus semakin terlihat saat wajah penasaran Esmas menatap Camy.


"Sudah jangan mengobrol masalah kerjaan aja, ayo kita makan siang"


"Bibi sudah pesan tempat" Dorina mengambil tasnya dan menarik Camy.


"Camy kau tahu kami semakin kesepian Pina sibuk dengan keluarganya, Kola juga sibuk bekerja sama sepertimu jika kuhubungi ia kan menghela nafas panjang dan kau tahu Dash apalagi, ia ikutan sok sibuk seperti ayah dan kakak-kakaknya, Bibi sangat kesepian Camy"


Curhatan Dorina, ya wanita ini mempunyai sifat yang sangat ramah, hangat dan ceria, jika semua tidak memperdulikannya Ia akan membuat drama.


Dan itu sudah sesuatu yang mereka maklumi. Ah ... Camy menghela nafasnya. Ini yang ia rindukan.


Sebuah keluarga hangat yang sempat hilang dulu, lalu terganti dengan keluarga di DarkHole dan sekarang setelah sekian lama ia menghilang ternyata Paman dan Bibinya masih menganggapnya sama. Sama seperti dahulu.


Dorina mengandeng tangan Camy menyeretnya keluar ruangan Esmas. Si suami, dibelakangnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sang istri, ia tahu bagaimana senangnya, istrinya itu, saat ini.


"Bibi sudah mengubungi Pinakoladash tapi seperti biasa, tidak ada satupun yang menjawab. Jadi Bibi kirim ultimatum. Kita lihat siapa yang akan datang lebih dahulu." Seru Dorina kegirangan. Ia bisa melakukan hal yang sama seperti dahulu.


"Bibi sangat merindukanmu, anak gadis Bibi" Dorina memeluk Camy. Camy hanya bisa membalas pelukan itu dengan sama kencangnya.


"Sudah sudah ayo sebelum jam makan siang habis" Esmas menggiring istrinya itu kekursi belakang mobil.


"Ck! Kamu itu! Memang kenapa kalau jam makan siang habis?! Kamu mau balik lagi kekarjaan- kerjaanmu itu!" Omel sang istri yang sekarang cemburut duduk manis disampingnya dengan menatap ke jendela.


Camy hanya bisa tersenyum melihat drama queen dari sang Bibi. Mobil meluncur ke tempat makan siang. Ternyata mereka menunu rumah dari pasangan itu.


Camy sudah menduga. Saat melihat jalanan yang familiar. Rumah dengan taman yang sangat luas dan cantik. Pintu gerbang otomatis terbuka.


Jhon sang supir melaju masuk ke dalam pekarangan itu. Hingga terlihat pintu besar dengan kayu juga terdapat ukiran disana. Rasa rindu menyeruak dada Camy. Kengangan yang hangat.


"Ayo! chef kita telah menunggu" Esmas membuka pintu mobil kemudian menunggu sang istri dan melangkaj masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


"Selamat datang nona Camy" Jhon menyapanya dengan senyuman hangat diwajahnya.


"Hai Jhon! apa kabar?" Dalam perjalanan juga tadi dikantor Jhon dan Camy tidak bertegur sapa, Jhon terlihat terkejut dengan kedatangannya, lalu tersenyum ramah khas orang tua.


"Baik Nona, senang melihat nona sehat, dan semakin cantik" goda Jhon, Camy menganggap Jhon seperti ayahnya juga. Karena apapun yang Camy dan PinaKolaDash butuhkan Jhon akan selalu siap tanggap dulu.


Camy memeluk Jhon hangat. "Aku masuk dulu ya." Menyusul pasangan suami istri Collen sudah lebih dulu masuk ke rumah mereka.


Camy mendorong pintu dan,


Ctar! Ctar! Ctar!


"Home Sweet Homeeeee ... Selamat Datang Cam Caaaaaammm ... " Seruan yang membuat Camy terpaku. Didepannya ada pasangan suami istri Collen, Pina Kola Dash, juga beberapa pengurus rumah. Masih sama. Batin Camy.


"Cam Caaaamm aku rinduu ... " Dash langsung menghambur ke pelukan Camy. Kola dan Pina mendekat. Kola ikut memeluk sedangkan Pina mengulurkan tangannya dikepala Camy. Hati Camy menghangat, haru.


"Cam kau kemana? Ayah mencarimu kemana-mana kau tidak ketemu" Dash menunduk, anak kecil ini, pikir Camy tapi tidak kecil.


Dash sangat tinggi, dengan badan yang tidak kurus juga. Camy merasa dihimpit dengan mereka yang memeluknya erat.


"Aku sibuk" balas Camy singkat namun matanya dan Pina saling mengkode.


Pina dan Esmas mengetahui Camy memiliki sebuah perusahaan, pernah ia bertemu sebagai klien tapi mereka tidak saling bertegur sapa, mereka menutup mulut. Karena memang kerjasama antar perusahaan mereka memang rahasia.


Sebenarnya mereka pernah juga bertemu, dan Camy sudah menjelaskan pada mereka. Mereka maklum, walau harus diam-diam dari orang rumah. Terutama Dorina.


"Nanti aku ingin mendengar penjelasan darimu" Pina berbisik dengan mata tajamnya. Camy hanya menghela nafas panjangnya.


"Mereka juga sibuk tapi tidak menghilang sepertimu kak," Dash yang lebih kecil dan belum mengetahui apa-apa merasa heran, menyangka Camy kembali kekeluarga aslinya. Karena doktrin itu yang ayahnya katakan saat Camy pergi dari mereka.


"Sudah Dash jangan bicara lagi, Camy pasti ingin kangen masakan Dolores" Esmas menghentikan percakapan mereka.

__ADS_1


"Nona Cam Cam" seseorang menjatuhkan spatula ditangannya ia mendekat dengan tergopoh lalu memeluk Camy. "Hai Dolores senang melihatmu lagi"


"Anak nakal kemana saja kau!" Dolores, pengurus rumah yang mengurusi segala masakan dirumah. Dan Camy sangat menyukai apple pie juga blackout cake buatan Dolores.


"Kau tak merindukanku? Yaaahh aku kecewa" ini lah Camy jika dirumah ia sangat hangat.


"Anak nakal! Aku merindukanmu! Kau pergi dan tak pernah kembali" terlihat wajah Dolores yang muram.


"Hei hei aku kembali kan, sehat dan cantik tentunya" Camy merangkul Dolores masuk diikuti dengan mereka masuk satu per satu di ruang makan.


"Kau ini" Jitakan menghampiri Camy, lalu Pina memeluk Camy dan mencium puncak kepalanya.


Ia sangat merindukan adiknya ini. Sedikit banyak ia tahu masalah yang dihadapi sang adik. Makanya ia memutuskan untuk bekerjasama dengan Nokturnal.


Walabi memang tidak pernah ingin bekerjasama dengan Nokturnal karena Esmas tahu bagaimana cara Marky bekerja.


Sangat berbeda saat awal mereka merintis Nokturnal. Walaupun sekarang Nokturnal menjadi sangat besar tapi Esmas tidak ingin melibatkan sedikitpun Walabi di sana.


Esmas dan Pina mengetahui perusahaan Camy yang dihancurkan oleh Nokturnal namun mereka tidak tahu ada alasan apa dibaliknya. Makanya Pina meminta ijin Esmas untuk Walabi bisa bekerjasama dengan Nokturnal.


Pina ingin mencari tahu tentang masalah DarkHole juga Nokturnal. Esmas menyetujuinya. Lagi pula Esmas masih memiliki saham di Nokturnal. Ia masuk jajaran tinggi Nokturnal. Dan memiliki sebuah unit di Monts Side.


Esmas tidak perna memakainya. Ia hanya menurunkan orangnya untuk terus memantau. Tentang pemberontakan di Nokturnal pun Esmas mendengarnya. Walau tidak secara mendetail, namun ia tahu apa yang terjadi.


Dan kerjasama ini membuatnya seperti sedang berjudi. Ia percayakan semua pada anak sulungnya El Pinado Collen.


"Dolores,terima kasih makanannya" Camy memeluk Dolores yang sedang membersohkan dapur. Ia bisa melihat sisa air mata di wajahnya. lalu wanita tua itu kembali meneteskan air matanya.


Camy tahu seberapa sayang Dolores padanya, ia sudah dianggap anak oleh mereka para pekerja dirumah Collen ini.


"Maaf" hanya kata itu yang bisa Camy ucapkan. Karena ia mungkin akan kembali menghilang setelah menyelesaikan ini semua. Dan tetap tidak bisa bersama mereka.

__ADS_1


"Hai, Wanita tua, dimanapun aku berada aku akan sehat selalu, kau lihat kan jadi kalian juga harus tetap sehat juga ya" kembali Camy menghapus air mata Dolores.


tbc.


__ADS_2