DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Keluarga Orso


__ADS_3

"Ugh ... Donovan bantu aku!" Endruw yang mengejar kakak-kakaknya tadi meminta kakaknya yang lebih tua untuk membawanya pada kursinya. Ia menjulurkan tangan keatas, kode untuk minta digendong.


"Kau panjat saja sendiri." Tolak Donovan, ia melengos dan duduk dikursinya.


"Theodooorrr ... " Andruw sudah mau menunjukan tanda-tanda akan menangis dan mengarahkan tangannya kearah kakaknya yang lain, dan kakaknya yang ini, langsung mengendong dan meletakkan dirinya pada kursinya.


"Kau ini!" Theodor memukul kepala Donovan yang memang suka usil pada adik-adiknya.


Donovan terkekeh, ia tak akan berhenti menganggu jika sang korban belum menangis.


Dan membuat Orso atau Kalea murka.


"Morning" Orso datang dengan Mina digendongannya. Anaknya yang paling kecil. Ia melangkah menuju tempat Kalea.


"Morning honey!" Ia mengecup bibir sang istri. Lalu menuju kursinya. Keluarga Orso dipagi hari. Ribut.


"Sayang, akan ada tamu yang akan kemari" Orso membuka percakapannya.


"Siapa? Berus?" Kalea meletakkan sepiring besar pancake ditengah meja makan.


Dok! Dok! Dok!


Kalea dan Orso saling pandang. "Siapa yang bertamu pagi-pagi begini? Kau ada janji dengan bibi Hera? Aku saja yang buka" ia melihat Kalea yang menggelengkan kepalanya.


Biasanya Hera, Bibi istrinya, yang sering bertandang sepagi ini untuk memberikan susu segar untuk mereka.


"Siapa?" Orso melangkah mendekat pintu, namun tak ada jawaban dari tamunya.


Ia membuka pintu dan melihat cengiran Berus didepan pintunya.


Siaal! Makinya dalam hati.


"Pagi Orso, boleh menunpang sarapan. Berus tak bisa memasak, kudengar istrimu hobi memasak?" Tanpa mendengar balasan Orso, Marzon memasuki rumah Orso.


Ia menatap tajam Berus, yang hanya menhentakkan bahu. Dan masuk mengikuti Marzon.

__ADS_1


Kalea, mengelap tangannya pada kain yang mengikat dipinggangnya, dan berjalan mengintip ke pintu depan.


"Siapa sayang?" Kalea melihat sosok asing sedang mengamati ruang tamunya.


"Selamat pagi Nyonya, Kau pasti Kalea?" Kalea terkejut. Bagaimana bisa ada seekor Lycan berada di ruang tamunya? Didalam rumahnya.


Kalea membelalak, dan mundur kebelakang. Ia mencoba menutup pintu ruang makannya.


Sebuah proteksi diri. "Mommy?" Terlambat. Andruw ada dibelakangnya. Ia merangsek kedepan dengan cepat.


"ANDRUW MENJAUH!" Jerit Kalea.


Orso dan Berus yang mendengar jeritan Kalea merasakan perasaan yang tak enak.


"Ck! Kau belum memberitahu istrimu!" Decakan Berus.


"Kau yang datang tiba-tiba!" Orsopun kesal.


"Sayang!" Orso mendekat pada istrinya.


"Tenang sayang! Tak apa"


"TAK APA BAGAIMANA?! LYCAN ADA DIRUMAH KITA ORSO! CEPAT SELAMATKAN MEREKA!"


Orso memeluk istrinya, ia melirik Andruw yang digendong Berus.


"Kau lihat, Andruw bersama Berus" Kalea melihat kearah Berus dengan nanar.


"Lihat kan?" Kalea mulai tenang. Ia mengangguk.


Namun netranya bersimborok dengan Marzon.


"ITU ... ITU ... AYO KITA LARI!" Ucapnya meninggi.


"Tenang sayang, ia Raja kita" Orso menenagkan Kalea.

__ADS_1


"Ayo kau bawa cepat pergi dari sini!"


"Hei-hei ... dengar, Lycan ini tak akan melukai kita, ia Raja kita yang baru, Sayang, lihat aku, kau dengar aku!" Kalea mengangguk.


"Ia adalah Raja kita, Raja Dunia Bawah" jelas Orso.


"Ia tak mungkin mencelakakan kita" Kalea mengangguk, ia mengintip dari bahu Orso melihat beberapa anaknya mengerubungi Marzon.


Kalea mendorong keras tubuh Orso, dan melangkah cepat kearah anak-anaknya dan menyeret beberapa untuk menjauh dari Marzon.


"Kesini! Kalian masuk semua!" Perintah tegas Kalea.


Marzon merasa tak enak. Harusnya ia tak keras kepala. Ia hanya ingin mengakrabkan diri.


Tapi ternyata mereka sama seperti Agrabella yang juga melihatnya seperti monster.


"Yang Mulia, anda tak apa?" Maezon hanya mengangguk. "Kita kembali ke penginapan" Marzon berdiri. Ia melangkah tanpa pamit.


Orso tengah menengakan istrinya. Berus mendekati anak tertia Orso yang masih berdiri disana.


"Apa benar ia Raja kita?" Tanya Thomas. Berus mengangguk. "Keren!" Seru Jake anak ketiga Orso. Berus tersenyum. Ia mengusap kepala anak ketiga Orso yang matanya berbinar melihat punggung Marzon yang menjauh.


"Pamitkan pada Ayah kalian bilang kami kembali ke penginapan." Berus tersenyum dan menyusul Marzon. Kedua anak Orso itu mengangguk.


"Lycan. Aku melihat Lycan! Sangat keren, aku akan bercerita pada Lola" Anak keempat Orso muncul. Ia tadi hanya mengintip karena takut.


"Lola pasti tak akan percaya padamu!" Celetuk anak kedua, yang keluar dengan mulut mengunyah. Sedari tadi ia hanya mengitip dari ruang makan dan sibuk dengan sarapannya.


"Kan ada Kalian yang juga melihat Lycan itu. Aku melihat Lycan! Jadi aku mengalahkannya sekarang" Bangga Ramon. Anak keempatnya itu selalu kalah dengan teman wanitanya, yang bernama Lola yang lebih tangguh darinya.


Beruang kecil dengan kacamata yang bertengger di wajahnya itu, menyeringai, ia tahu siapa Raja baru.


Ia sangat senang bisa mengalahkan anak perempuan, tetangganya itu.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2