
Bharat menangkap jendela di netranya dan segera beranjak membuka jendelannya. Dan pemandangan Phoenix berterbangan sekarang yang ada didepan matanya. Burung-burung itu begitu dekat.
Warna merah mendominasi burung mitologi itu. Sangat indah. Ia keluar kamarnya. Ia ingin menemui Lisica.
"Lisica kau ada didalam?" Bharat mengetuk pintu kamar Lisica.
"Ya Ratu, aku berada di dapur" teriak rubah wanita itu dari ruangan lain dirumah itu.
Bharat segera melangkah kedapur. "Kau punya roti?"
"Ratu anda lapar? Sebentar saya carikan" Lisica membuka lemari yang mengantung diatas kompor.
"Ada? Aku ingin memberi Phoenix itu makan" Lisica menaikkan alisnya.
"Phoenix tak memakan makanan itu Ratu" jelas Lisica.
Bharat tak tahu itu.
"Mereka memakan abu pohon wangi, dan sayangnya aku tak mempunyai makanan Phoenix, tapi aku mempunyai teman ia memiliki Phoenix nanti akan aku mintakan"
Jelas luntur kesenangan Bharat. "Oke baiklah, aku kembali dalam kamarku" Bharat mencari seperti apa pohon wangi itu di layar hologramnya. Dan tentu saja, layar itu tak memberikan jawaban apapun. Karena didunia atas tak ada yang namanya pohon wangi.
Kembali Bharat mendekati jendela, ia duduk ditepinya dengan menikmati pemandangan yang berada didepan matanya. Phoenix terbamg silih berganti. Banyak juga jenisnya.
Ada yang kecil menggemaskan, ada juga yang besar bayangannya saat melintas seperti pesawat menutupi sebagian rumah. Kepakan sayapnya indah, warna merah keunguan juga jingga, warna yang mendominasi tubuh mereka.
Diekornya juga ada yang mengeluarkan percikan api yang dengan cepat meghilang.
Hingga Bharat mengantuk dan tertidur. Ia bermimpi, berada dalam taman tempat Haiyla tinggal.
"Mengapa aku disini?" Bharat mendekat pada Haiyla yang sedang duduk si kursi taman dekat sungai dengan air jernih.
"Aku memanggilmu, ada hal yang perlu kau tahu Ratu, tahapan ini kau akan bertemu dengan Raja dunia bawah." Haiyla memandang Bharat.
"Dan nanti mungkin kalian akan menjadi partner atau malah menjadi musuh. Kau ingat seekor Lycan yang menyapamu kala itu?"
Bharat mengangguk,
"Dia Raja dunia Bawah, namanya Lycan Marzon." Kembali Haiyla menarik nafasnya berat.
"Marzon?" Bharat membeo. Tidak mungkin kan itu Marzon dari Exside? Yang hilang?
"Kau mengenalnya? Karena ia sempat menyapamu bukan?" Ia menatap pada Ratu yang sepertinya mengenal Raja baru dunia bawah itu. Semoga saja mereka teman, batin Haiyla.
"Ini bisa jadi kabar baik atau sebaliknya" Haiyla melemparkan pandangannya pada sungai mengalir didepannya.
__ADS_1
"Hecate yang ada dibalik Raja dunia bawah, ia yang memilihnya. Dan kau tahu aku tak begitu akrab dengan wanita itu"
"Ah ... ini mengapa kau bilang, bisa menjadi partner atau musuh?"
"Iya benar, mungkin kau bisa memintannya menjadi partnermu, karena jika ia menjadi musuh, aku yakin, ia --Hecate-- tak akan dengan mudah melepaskanmu"
"Dan kita perlu cepat untuk penobatanmu juga." Bharat juga tahu mereka harus mengejar bulan purnama. Dimana sinar bulan purnama bertemu dengan batu kristal akan memcapai kekuatan tertingginya.
Dan Haiyla perlu kekuatan tertinggi itu untuk menyeimbangkan dunia Moon Goddess.
"Dan dipastikan jika Raja dunia bawah menjadi musuh maka Hecate akan membuat semuannya terhambat, bahkan tak terjadi?"
Bharat mendapat jawaban dari senyuman yang dipaksakan oleh Haiyla.
Jika Lycan itu benar Marzon, mungkin ia akan berbicara pada lelaki itu. Namun mengapa ia bisa berubah menjadi Lycan? Karena yang Bharat tahu Lycan itu bukan keturunan murni.
Ia tercipta dari tangan manusia, alias mutan. Yang terlahir dari penelitian laboratorium.
Siapa yang tega menjadikannya Lycan? Apa penculik itu? Bharat dan pikirannya.
"Ratu!"
"Ratu!"
"Pergilah" usir Haiyla. Bharat beranjak dari tempatnya.
Blush!
Matanya terbuka. Ia merasakan semilir angin malam. Ternyata ia tertidur di jendela. Dan suasana terang berganti gelap, dengan taburan bintang. Sudah tak terlihat lagi buring mitologi yang sedari tadi berseliweran di depan Bharat.
"Ratu, Makan malam"
"Iya, sebentar"
Bharat membuka pintunya, "Maaf aku ketiduran"
"Maafkan saya Ratu menganggubistirahat Anda" Lisica agak tak enak.
"Tak apa, ayo kita makan, kau pas sekali memanggilku, Aku lapar sekarang" Tumpukan daging, juga ada hati tumis. Dan berbagai masakan ayam. Roti dan Sangria.
"Wah banyak sekali, kau akan mengadakan pesta?" Lisica tersenyum.
"Tidak Ratu aku hanya mengundang satu orang teman saja. Ia memiliki Phoenix, dan akan memberi anda makanan Phoenix"
"Benarkah? Apa ia datang dengan Phoenixnya?"
__ADS_1
"Emm ... Saya tak tahu Ratu,"
Ketukan pintu terdengar. "Itu pasti dia" Lisica berdiri dan menuju ke pintu depan. Terdengar Lisica menyapa tamunya.
Bharat berdiri di temoatnya menunghi kedatangan tamu mereka.
Ia melihat sosok macam dengan armour, sama seperti Lisica, mereka mengenakan armour dan membuat mereka menjadi terlihat layaknua ksatria petarung.
"Ratu, kenalkan ini Berus, dan Berus ini Ratu Putih, Ratu Pelindung yang baru"
"Saya Berus, senang bertemu dengan anda Ratu"
"Mari silahkan duduk Berus" Bharat menjamunya sebagai tuan rumah.
"Ngomong-ngomong, kau memiliki Phoenix Berus, aku mendengarnya dari Lisica," Bharat menyelesaikan kunyahannya. Makanan yang lisica buat sungguh sedap. Ia meraih kain dan mengusap pelan bibirnya.
"Benar Ratu, saya juga dengar Ratu tertarik dengan phoenix, dan ingin meminta abu pohon wangi?"
"Benar aku tertarik sekali dengan mahkluk mitologi itu, mereka sangat mengagumkan bukan?"
"Ya, sangat walau kadang suka berulah" Berus tersenyum dan kemudian mengangguk, ia meraih cangkir dan meneguk sangrianya
Ketukan pintu terdengar. "Boleh saya mohon ijin Ratu, itu sepertinya rekan saya yang akan menyusul"
"Silahkan"
Berus meninggalkan tempatnya, ia menuju ke pintu bersama Lisica. Bharay mendengar percakapan. Dan langkah kaki mereka kembali ke ruang makan.
Lisica masuk, disusul oleh sosok beruang yang gak asing, dan sosok Lycan yang menyapanya saat itu.
Lycan Marzon.
Mereka saling tatap, "Bharat?" Gumaman Marzon.
Bharat melebarkan matanya, saat sosok Lycan itu berubah menjadi sosok yang ia kenal. Tubuhnya yang berbulu itu menghilang. Taringnya yang tajam dan menyembul, berganti menjadi wajah lelaki itu.
Dan yang ada didepan Bharat adalah Marzon dari Exside.
"Marzon? Ini benar kau?" Bharat melesat mendekat ke Marzon.
Ia memegang bahu Marzon. Menatapi lelaki itu dari atas hingga bawah. Ia tak menyangka akan bertemu dengan seseorang yang ia kenal.
Senyuman menghiasi kedua wajah mereka. Bharat menarik tubuh Marzon dan memeluknya.
Tbc.
__ADS_1