DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Perjalanan Misi terakhir


__ADS_3

Marzon telah mendapatkan sebuah pedang saat misi terakhirnya berlangsung. Bharat, Lisica, Berus dan Orso ikut menunggu tak jauh dari tempat misi terakhir Marzon.


Beberapa kali Bharat merasakan guncangan pada tanah yang ia pijak. Juga sebelum Marzon menampakkan dirinya. Tiba-tiba langit berubah mendung dengan petir saling bersautan.


 "Raja kau berhasil!" Berus berseru dengan kencang. Senyuman teegambar pada wajah macan berarmour itu.


Begitupun dengan Orso. Ia awalnya meremehkan dan selalu Marzon susahi itu memperlihatkan senyumannya yang jarang terlihat jika tidak bersama anak-anaknya.


"Aku jadi gugup"


"Tenang kau juga pasti bisa Ratu, kalian telah berlatih bersama, lawanmu itu lebih tangguh," Berus berusahan membesarkan hati Bharat.


"Aku hanya gugup Berus, bahkan aku bida mengalahkan Rajamu itu" pongah Bharat. Berus dan Orso telah mengetahui sifat Bharat yang suka meninggi, tetapi memang kenyataannya kemampuan Bharat tinggi.


Mereka bertiga adalah saksi mata. Marzon keluar dengan tubuh berlumur lumpur. Orso memberikan jubah pada Marzon.


"Kau bergulat dilumpur?" Ucap Bharat. "Monster lumpur hidup" jawab cepat Marzon. Ia ingin membersihkan dirinya. Rooth yang membantunya telah kembali ke tempatnya di danau Sorrow, dengan portal dimensi.


"Apa yang kau dapat?" Keingintahuan Bharat untuk menutupi kegugupannya esok ia akan bertemu dengan Thaja.


"Pedang yang naik level, maybe?" Marzon berjalan bersisihan dengan Bharat. Mereka menaiki kereta kuda yang Orso kemudikan.


"Selamat Yang Mulia" ucap Berus menyelamati Rajanya.


"Terima Kasih" Marzon melihat sungai, "Berhenti sebentar Orso, aku ingin menyeburkan diriku di sana" rasanya ia risih dengan lumpur pada seluruh tubuhnya.


Ia membuka jubahnya, sebelum Orso menghentikan kudannya, Marzon melompat keluar kereta kudanya.

__ADS_1


Tapi sebelumnya, ia berkata bahwa ia bisa kembali sendiri, bawa Bharat dan Lisica kembali ke rumahnya.


Berus turun dan Orso kembali melanjutkan perjalannan dengan Bharat dan Lisica.


*


*


*


Bharat melangkah di bawah lembah dengan air terjun diatasnya. Lembah dengan jalan masuk ke tempat Thaja berada. Misi terakhir Bharat.


Dan sampailah ia didepan pintu masuk yang tak layak disebut pintu masuk.


Bentuknya seperti pohon yang telah lama roboh, terdapat lubangbditengah pohonnya membentuk terowongan.


Disamping-sampingnya terlihat akar yang tercabut paksa akibat tumbang.


"Masuklah ke dalam" Haiyla tak pernah pergi dari sisinya. Bharat masuk kedalam pohon yang berlubang itu. Banyak hewan yang bersempunyi didalamnya.


Bharat dikejutkan oleh laba-laba yang melewatinya. Juga desisan ular. Bharat waspada.


Ia melihat cahaya didepannya. Ternyata terowongan ini tak begitu panjang jalurnya.


Bharat dihadapkan dengan dua buah puncak gunung yang tinggi disambungkan dengan jembatan meliuk aneh.


Bharat bisa merasakan hembusan kencang angin laut, di bawahnya terhampat lautan lepas. Bagaimana dia tak berniat pulang ke bukit Rfizt.

__ADS_1


Dalam hati Bharat ingin menyerah tapi Haiyla langsung mengomelinya.


"Kau ini! Majulah hingga tepi jembatan. Dengan berat hati Bharat melangkah. Ia merasa kakinya berat.


"Itu hanya ilusi" ilusi ilusi ... ilusi sialaan! Bharat mengumpat.


"Jangan mengumpat! Konsentrasilah Ratu" Haiyla menekan kata Ratu.


"Tutuplah matamu,  tariklah nafas kemudian hembusan, bayangkan apa yangkau inginkan sekarang dan buka matamu" Bharat mengikuti instruksi Haiyla. Dan matanya melebar. Bharat tak menemukan jembatan itu.


Yang ada hanya hamparan ladang lavender. Dengan tenang Bharat melangkah, Bharat memainkan bunga-bunga itu.


Dan ladang Lavender berubah lagi menjadi ujung jembatan. Ia telah melewatinya. Ia tak menyangka ternyata ini jembatan akan memperlihatkan apa yang kau pikirkan.


Jembatan halusinasi.


Bharat melanjutkan perjalannannya. "Aku tak bisa ikut kedalam" suara Haiyla, saat Bharat dihadapkan dengandua batu besar dengan cela yang tampak misterius.


"Masuk kedalam cela itu, dan kita berpisah disini, sampai nanti di Ujung Selatan batu ini"


"Tunggu kau tak membantuku" ia tak mendapatkan jawabannya.


"Hei kau jangan meniggalkanku dulu Haiyla, Hei! Yang benar saja!" Bharat mengamati dua batu yang tak aneh, hanya ia merasa cela yang berada di depannya ini yang aneh.


"Kau bisa Ratu Putih!" Bharat menyemangati diri sendiri.


"Perjalanan ini sungguh ... " ingin sekali Bharat memaki, namun ini adalah perjalan suci seorang Ratu Putih. Lama-lama ia bisa gila!

__ADS_1


Tbc


__ADS_2