DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Menjebak Penyusup


__ADS_3

Marky tak perlu lagi susah payah menghilangkan seal, Camy telah menghilangkan seal yang menyelimuti Hide Dome.


Marky memerintahkan Mr. Ruler untuk kembali ke terowongan, ia mendekati hutan itu, benar-benar seal yang bagus, pikirnya, sebelumnya  saat ia datang, tak melihat apa pun hanya ada banyak pohon hijau dan dedaunan di sekelilingnya, sekarang nampak bangunan terowongan itu.


Henry telah membuat jalan untuknya, pikirnya, padahal Theo yang membuatnya. Ia mengerahkan anak buahnya dan sama saja ia tak menemukan apa pun.


Mr. Ruler menyusup, ia melihat keadaan terowongan itu dengan bantuan Paulo, robot seukuran lalat terbang memantau keadaan, ia melihat layar hologramnya. Ia terus berjalan dengan mengamati gambar yang diambil oleh Paulo.


Ia menemukan pintu besi itu, Mr. Ruler mendekat. Kemudian melihat bahwa pintu itu tak tertutup rapat. Ia mendorong perlahan. Agar deritannya tak menggema di terowongan ini.


Ia saja tadi harus berjinhkat takutnya ada yang mendengar. Ia tak tahu saja, Camy dan yang lain sedang menontonnya di 'tenda' mereka. Dengan berbagai cemilan.


"Kau lihat kelakuannya? Memalukan" Jenny mengunyah burgernya.


"Jam tiga, harus menjebak si kutu ini" Elle enggan ikut makan, ia mengantuk. Ia hanya memeluk bantal dan kepalanya tekulai. Ia sangat mengantuk.


"Kita lihat saja apa yang ingin dia ambil"


Camy masih dengan tajam menatap layar.


"Ia pasti akan mengambil jurnal marah milik ayahmu Cam" Amber menghirup aroma kopi susu yang menguar hangat di tenggorokaknya.

__ADS_1


Mr. Rulwr telah masuk ke Hide Dome. Sesaat lintasan ingatan tergambar. Ia menyeringai berjalan dengan ponggah. Entah apa yang ia bayangkan.


Ia menelusuri hutan dengan jalan setapak, gelap, hanya sinar bulan yang meneranginya. Tempat ini memang terkenal dengan pemandangan sinar bulan yang indah.


"Tak berubah!" Gumannya sambil mendongak memandangi bulan besar diatasnya. Ia agak terhanyut. Sesaat lupa akan misi yang ia emban.


Ia menggeleng lalu kembali melangkah dengan cepat. Tujuannya rumah Aldy's.


Melakukan misinya. Menyenangkan sang bos. Ia melihat lurus pada rumah yang ada didepannya.


Tak melihat adanya penjaga. Ia yetap berjalan cepat, tak ingin ada yang memergokinya.


Ia sudah berada didepan pintu. Lalu membukannya perlahan. Sepi dan ia masuk. Ia langsung menuju pada pintu-pintu lain, mencari tempat Mr. Aldy menghabiskan waktu. Ruang kerja.


"Saya sudah ada di ruangan kerjanya Bos" ia menghubungi Marky. "Cari jurnal dengan sampul merah! Ambil!" Perintah Marky.


"Tapi ... ini ... banyak Bos sebagian bersar sampulnya berwarna merah." Ucap Mr. Ruler yang bingung menyoroti jurnal-jurnal dengan sampul merah.


Camy cs yang memantau menikmati dengan tawa mereka. "Kau jenius Cam" Elle yang sedari tadi menonton layar di depannya itu malas menjadi hilang kantuknya dan ikut terkekeh. Lawakan. Mereka seperti menikmati sitkom di televisi.


Mereka melihat Mr. Ruler yang kebingungan pun memanggil robot lalatnya, ia mencari kain dan membungkus semua jurnal merah dan robot lalat itu membawanya terbang.

__ADS_1


Mr. Ruler berjalan kearah belakang, ke arah taman yang pernah ia singgahi, saat pertama ia lihat, ia tak percaya bahwa pohon uang itu ada. Saat Mr. Aldy memberinya sekantung penuh, ia kira itu hanya mainan. Dan ternyata saat ia masuknan dalam bank ternyata itu benar uang. Dan banyak berjatuhan di tanah.


Dari situ ia bersama beberapa orang ingin memilikinya sendiri dirumah mereka masing-masing namun Mr. Aldy sama sekali tak menyetujui usulan itu.


Mereka marah menganggap bahwa Mr. Aldy serakah dan tak mau berbagi. Terjadilan pemberontakan dan pemberontakan itu menjadi besar. Dan menghilangkan pohon uang itu.


Mr. Ruler keluar rumah Camy. Ia berjalan perlahan bukan kearah yangbsama dengan Paulo. Ia berbalik kearah salah satu rumah. Dan itu adalah rumah tinggalnya saat ia di Hide Dome.


Suara deritan pintu yang lama tak terbuka berbunyi nyaring. Ia melangkah masuk. Melihat keadaan yang membuatnya, mengenang. Ia tak akan mengatakan rindu.


Sejak kapan  ada kata rindu, cinta dan kasih sayang pada dirinya. Tak ada. Ia melangkah kearah raung tamu. Kenangan berkelibatan. "Keluarga bahagia" ia mendegus dengan gumanannya sendiri.


Menyusuri tempat itu membuat kenangan-kenangan yang lama ia lupakan kembali berkelibatan. kenangan yang tak berarti namun masih ada disudut hati kecilnya yang terus ia sanggah.


Ia terus melajukan kakinya kearah lain dirumah itu. Keruang dimana masih tercecer beberapa mainan anak perempuan.


Krak!


Ia menginjak sesuatu. Mainan terbuat dari plastik berwarna kuning. Berbentuk pisang, ia mendekat pada ruangan bertelevisi dengan berjajar rak dengan banyaknya foto-foto.


Ia mempersempit jaraknya dengan rak. Dan meraih sebuah foto. Ia menatap dalam foto yang terdiri dari tiga orang disana. Pria dewasa, wanita dewasa juga dengan anak perempuan mungil dalam gendongan pria dewasa. Senyuman ketiganya begitu bahagia.

__ADS_1


"Apa kabar Ayah?" Sapa seorang dalam kegelapan.


tbc.


__ADS_2