DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Hide Dome 4


__ADS_3

Nokturnal menyebar beberapa orang untik mencari keberadaan Leon.


Juga untuk menyelidiki keadaan Hide Dome. Marky telah berada di kawasan Hide Dome. Merasa nostalgia. Sudah lama ia tak pernah lagi menginjakkan kaki di tanah ini.


Marky membuka kaca mobil menikmati hembusan angin yang seperti membencinya. Ia turun. Bersandar pada pintu mobil dan menikmati cerutunya.


Ia merasa tiupan angin yang menerpa dirinya. "Sudah berapa belas tahun?" Monolognya. Ia melangkah dengan Mr. Ruler yang juga merasakan hantaman kenangan saat dulu.


Suasana yang terasa familiar. Mr. Ruler mendengus. Mengingat ia adalah salah satu penghuni Hide Dome. Marky sangat antusias, ia harus menemukan catatan Ayah Camy. Saat Mr. Ruler menyebutkan Hide Dome yang terbuka maka yang terbayang adalah jurnal yang di buat oleh Aldy.


Yang ia lihat hanya hutan belantara. "Henry bawa kita ke terowongan itu." Mr. Ruler memerintahkan robot manusianya, yang tadi menyupiri mereka untuk membuka jalan untuk mereka. Karena ia tak melihat adanya jalan ke dalam hutan, bahkan jejak atau bekas orang masuk kehutan saja tak ada.


Apa iya informasi yang ia dapat itu benar. Tapi ia dapat dari sumber terpercaya. Tapi nyatanya sekarang. "Bos sepertinya kita menunggu dimobil saja, biarkan Henry membuka jalannya dulu untuk kita"


Marky yang sedari tadi tak sabar akhirnya menautkan alis, tak suka. "Kenapa? Kata lau mereka telah membuka pintu ke Hide Dome?"


"Benar Boss tapi tadi saya lihat tak ada jalan menuju dalam hutan, Saya takut ... kalau ... ru ... rum---"


"Aku tak suka orang yang bertele-tele Ruler! Kau tahukan!" Potong Marky desisnya pelan, ia marah. Kesenangannya dihancurkan begitu saja.


"Aku juga tak suka pembohong! Kalau kau lupa!" Marky mengambil telapak tangan Mr. Ruler dan mematikan ujung cerutunya pada telapak tangannya. Pria tua itu meringis. "Me ... Mengerti Bos" ia membukakan pintu belakang mobil. Mengepalkan tangannya yang terbakar perih.


"Obati!" Perintah Marky yang menyandarkan kepala pada jok kursi mobil. Dengan menutup matanya. "Baik Bos" Mr. Ruler segera mencari kotak p3k. Lalu ia keluar mobil guna mengobati telapak yang terbakar.


Dengan cepat ia menguyurkan revinol. Ia kembali meringis. lalu menutupnya dengan kapas dan membalutnya dengan kasa. Setelahnya ia masuk, menjnggu kabar dari Henry.


"Sepertinya kita harus kembali dahulu bos" ia memantau Henry namun robot itu masih belum menemukan apapun. Marky hanya menguman sebagai jawabannya.


Mr. Ruler melajukan kendaraannya dan membawa mereka kembali ke Nokturnal.


*


*


*

__ADS_1


Setelah Hudson membisikkan Theo tentang terbukanya Hide Dome, ia pun bergerak ke tempat yang sama dengan Marky. Kendaraan Theo tiba lima menit setelah Marky meninggalkan lokasi Hide Dome.


"Dimana lokasinya Hudson?" Theo telah lebih dulu keluar ia tak sabar. "Saya juga kurang begitu paham Ketua, saya telah memasukkan alamat yang diberikan dan hanya sampai disini."


Theo menghembuskan nafasnya kasar. "Cari kedalam! Black Sea" perintah Theo. Yang lalu diangguki Hudson. "Baik Ketua" Mereka masuk dalam kendaraan dan kembali ke Black Sea.


Theo ada janji dengan Wina disana. Ia juga akan mengajak Willow bertemu, ia akan mengorek tentang Hide Dome ini dari mereka si Ex DarkHole.


*


*


*


Camy tidur dalam gelisa, ia melihat bocah kecil yang adalah dirinya berlari kearah seorang pria seusia sang Ayah. "Paman!" Teriak senang Camy kecil. Pria itu menyambut Camy lalu mengendongnya.


"Hai Princess" sapa pria itu.


"Paman mana hadiah ku?" Tanyanya pada pria itu.


Camy ingat ia adalah pria yang ada dalam foto yang berada dalam jurnal Ayahnya.


"Hey Mark kau datang" Ayah Camy yang baru keluar dari kamar, menghampiri pria yang ia panggil Mark juga Camy yang ada di pangkuannya.


"Bagaimana keputusanmu? Kau bersedia bekerjasama kan dengan mereka? Ini peluang yang bagus bagi Noktunal untuk melebarkan sayap ke bisnis lain." Pembicaraan kedua pria itu semakin serius.


Camy ikut duduk disebelah Ayahnya, wajahnya menjadi tak enak, dari arah ruang makan Camy melihat raut sang ibu juga tak enak. Ada apa?


"Sepertinya Nokturnal belum membutuhkan mereka Mark, kita tak perlu dengan investasi mereka yang menurutku terlalu menuntut Nokturnal. Lagi pula, kau yakin? Ini bisnis properti, sesuatu yang baru bagi kita."


"Kau tenang saja, percayakan padaku, mereka tak akan mengetahui tentang pohon uanh milik kita itu, kalau kau takut jika mereka akan mengusik keuangan Nokturnal." Marky masih terus merayu? Ayahnya.


"Apa jaminanya hingga kau seyakin ini?"


"Aku jaminannya aku jika mereka membuat masalah maka kau bisa memecatku" Ayah Camy, memandang Mark, dan ia mengangguk. "Kau bawa mereka kemari. Sekalian agar mereka.melihat contoh Hide Dome"

__ADS_1


"Kau memang sahabatku!" Mark memeluk kencang Ayahnya. Ibunya dengan kesal kembali kedapur. Bukan kesal tapi marah.


Camu berpindah pada kamar orang tuanya, "Aku hanya membarinya kesempatan" Ayahmya mengancing kan kemeja lengan tangannya.


"Harusnya kau tidak melakukan itu? Coba-coba? Di Nokturnal ada banyak pegawai, proyek coba-coba ini bisa saja membuat mereka kehilangan pekerjaan mereka jika gagal." ucap Ibu Camy didepan meja riasnya. Ia marah pada suaminya. Nokturnal tak memerlukan pelebaran sayap ke arah yang bukan rananya. Ini terlalu riskan.


Apalagi mereka buta tentang proyek yang sedang di pegang Mark ini. Bukannya tak percaya pada sahabat mereka namun ini terlalu dini untuk Nokturnal yang baru saja berkembang.


"Kita lihat saja sayang, mari beri waktu Mark untuk mengerjakan proyek itu" ibu Camy masih membuang muka pada suaminya. Ia tetap pada pendiriannya tak setuju. Dan memang keputusan Ayah ya salah, beberapa bulan, memang proyek Mark itu berjalan lancar, sangat lancar malah.


Ia menjadi lupa diri dan mengiginkan Nokturnal untu dirinya sendiri. Ketamakan juga hasutan dafi berbagai tempat dengan tega menghabisi siapa saja yang menjadi penghalang untuk tujuannya.


Dengan bantuan beberapa orang yang juga tak suka dengan regulasi Nokturnal. Mereka membelot dan mengambil kekuasaan penuh Nokturnal, Ayah Camy yang tahu rencana Mark.


Juga sudah memiliki rencana juga. Ia tahu Mark sangat terobsesi dengan pohon uangnya setiap bwetemu ia selalu menyigung bagaimana ia bisa membuat pohon uang itu.


Camy kembali pada mimpi yang sama dengan sebelumnya. Saat orang tuannya yang menyuruhnya berlari pada terowongan tanpa menengok kebelakang itu.


Camy melihat jelas sosok pria yang menembak sang ibu juga menodongkan pistolnya pada sang ayah. Wajahnya, Mark, pria yang ayahnya anggap sahabat itu dengan tega menembak ibu juga ayahnya.


Camy berkeringat banyak dalam tidur gelisanya. Ia masih memejamkan matanya, Dan tersentak bangun. Nafasnya terengah, putus-putus, Elle yang tidur seranjang dengannya pun ikut terbangun.


"Ada apa Cam?" Elle melihat keringat Camy lalu mengambil segwlas air dinakas miliknya.


"Ini" Camy menyambar gelas itu dan meneguk airnya hingga tandas. "Kau bermimpi lagi?" Camy hanya mengangguk. "Aku panggilkan Druw?"  Camy menggeleng,


"Tak perlu, aku hanya bermimpi saja, tapi kepalaku tak terasa sakit lagi" jelas Camy


"Maaf ya Kau bis alanjutkan tidurmu lagi, aku tak apa" Elle menguao lebar lalu memgangguk dan kembali merebahkan diriny.


Camy tak bisa lagi tertidur. Ia pun beranjak keluar kamar. Ia melangkah ke pintu masuk Hide Dome. Melakukan yang sama dengan Elle lakukan, Hide Dome terbuka.


Camy beranjak kearah ruamgbkerja Ayahnya dan membuka jurnal juga foto yang ada didalamnya. "Marky?" Rasanya familiar.


Sekelebat ingatan muncul. Tentang gambaran pria paru baya dengan topi fedora, seseorang yang ia lihat di parkiran DafkHole juga yang menjadi Bos di Nokturnal.

__ADS_1


"Bornt Marky?" Mata Camy melebar.


tbc.


__ADS_2