DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Pheonix Way


__ADS_3

Memasuki portal dimensi, Marzon dibawa kesebuah padang rumput dengan langit senja, disana mereka telah ditunggu oleh sosok hitam ditengah padang rumput itu.


"Berus" Hecate menyapa sosok itu. Penampakan harimau dengan baju armour berwarna emas. Tampak gagah.


"Dewi Hecate, lama tidak bertemu" ia menundukkan kepalanya.


"Aku serahkan dia ketanganmu, dan aku menunggu hasil yang memuaskan"


"Marzon, ini Berus, dia yang bertanggung jawab di Pheonix Way" Marzon mengangguk. Tanda penghormatan.


"Kalau begitu aku tinggal," tanpa kata lagi Hecate meninggalkan keduanya.


"Ikuti saya Yang Mulia" Berus menunjukan jalannya. Dudepan Marzon melihat hutan gelap. Pohon tinggi dan rimbun menutup sinar matahari untuk masuk kedalamnya.


Rumput dan lumut tumbuh subur di tanah dan akar-akar pohon yang menyembul ditanah.


Agak licin, namun Marzon dengan santai melangkah di tanah yang lembab. Mengikuti Berus dengan armournya. Mirip ksatria.


Netranya menangkap gua dengan sosok penjaga didepannya. Sosok besar hitam. Mereka semakin mendekat. Dan Marzon melihat sosok itu, beruang dengan Armour. Mengapa mereka menggunakan Armour.


"Orso" panggil Berus. Kemudian ia melihat beruang itu mengangguk dan mengikuti Berus.


Mereka bertiga melanjutkan perjalanan, mereka masuk dalam gua itu. Didalam mereka disambut oleh sebuah batu besar dengan ukiran disekeliling batu itu.


Orso meletakkan sesuatu disana, sebuah benda yang bersinar ditangannya. Memasukan dalam sebuah lubang. Dan portal terbuka tepat ditengah batu.


Marzon hanya berdiam, ia menunggu. Tapi ia dapat melihat beruang berarmour itu masuk lebih dahulu. "Yang mulia silahkan ikuti Orso" Berus mempersilahkan Marzon mendahuluinya.


Karena ia akan menyegel portal dan gua ini. Agar tak menganggu acara penobatan Raja.


Padang bunga camomile luas menghampar didepannya. Ia tak menyangka akan menemukan pemandangan ini.


Dalam pikirannya, iakan dihadapkan dengan lembah gelap berlumpur, atau lahar panas. Mungkin Marzon terlalu mengkhayal.

__ADS_1


Karena sekali lagi Armour yang mereka kenakan, ia membayangkan pertempuran dasyat akan ia hadapi.


Dan ini, padang bunga, ini bukan bercanda kan? Pikirnya.


Kembali ia mengikuti Orso mereka melewati sungai dengan air yang jernih. Semakin jauh ia mendengar suara ribut didepan sana. Marzon siaga.


Ia kembali dengan pikirannya akan ada pertarungan didepan sana. Keributan didepannya semakin terdengar jelas.


Adrenalinnya semakin terpacu, detak jantungnya berdebar kencang. Tubuhnya ingin segera bergerak menuju keributan itu. Semakin mendekat senyum terlihat di wajahnya, memperlihatkan keruncingan taringnya. Namun kenyataan tak seindah ekspetasi.


Marzon kembali dibuat tertegun. Ia melihat sebuah perkampuangan yang ramai. Banyak orang beraktifitas disana.


Berjajar rumah-rumah dari pohon.


Juga yang membuat Marzon tak percaya, banyak burung Pheonix berterbangan kesana kemari. Dari rumah satu ke rumah lainnya.


Burung Pheonix dengan warna semerah api, akrab dengan mahkluk lain dan bahkan mereka menjadi peliharaan seperti anjing jika ia di dunia manusia.


Ini pemandangan uang sangatbluar biasa bagi Marzon. Mahkluk mitologi berseliweran didepannya.


Kialat cahaya cepat memancar di diri Marzon. Rasa senang yang amat sangat membuat Marzon kembali pada sosok manusiannya.


Berus melirik dengan tatapan yang datar begitu pula dengan Orso. "Yang mulia kau berubah menjadi sosok manusiamu"


Marzon menatap kearah tangannya dan ya ia berubah. Bagaimana bisa?


Selama ini ia belum menguasai cara mengontrol sosoknya. Dan sekarang terjadi lagi. Saat dirinya terlalu senang, sebentar, terlalu senang? Apa ia berubah, karena emosinya berubah?


Marzon masih diam, "Mungkin karna aku terlalu senang, melihat kota Pheonix Way ini"


Orso, mengalihkan pandangannya, apa benar yang Lycan bicarakan tentang Raja dunia bawah yang lemah? Saat ia tak sengaja dengan Lycan di dunia bawah beberapa waktu yang lalu.


Jika melawan Lycan yang menurut Orsa lemah itu saja si Raja tak bisa bagaimana melawan Thaja? Orso melirik lagi pada Marzon.

__ADS_1


Thaja, monster lumpur larva, di tahap akhir, Pengakuan sebagai Raja dunia bawah akan didapat Marson jika ia bisa mengalahkan Thaja.


Belum lagi hanya karena melihat ini, sosok Lycannya berubah. Selemah itu kah Rajanya? Mungkin ia tak akan bisa sampai pada tahap bertemu Thaja.


Mungkin keluar dengan selamat keluar dari sarang Ragoo saja syukur. Lagi Orso merendahkan Marzon.


Marzon mendengar aliran air didepan sana, apa ada sungai lagi? Terdengar keras. Apa sebuah air terjun? Dan pemandangan didepannya sangat berbeda dengan rumah pohon yang ia lihat tadi. Ini sebuah gedung megah.


Mereka mendekat pada bagunan besar didepan mereka yang berada ditengah danau yang juga luas, bangunan dengan atap seperti permen, bulat berkerucut diatasnya, seperti krim pada cupcake.


Namun ada tembok tembus pandang, memperlihatkan bangunan kokoh sampai kedalam danau. Bangunan yang terlihat di permukan hanya bagian kecil dari bangian yang terendam air danau, layaknya akuarium raksasa dengan hiasan bagunan yang juga raksasa.


Berus melangkah masuk, dan didepan pintu berjaga dua sosok singa berarmour, dengan tombak ditangannya. Mereka masuk lebih kedalam. Senyum mengembang si wajah Marzon.


Ternyata dalamnya sangat modern, banyak ruangan menggunakan mesin, dilapiri partisi kaca, layar-layar besar terpampang didepan sana. Juga banyak sosok berarmour yang sedang sibuk.


"Selamat datang di Deep Inside, pusat pemerintahan dari Pheonix Way, Yang Mulia!" Berus, memperlihatkan kegiatan yang sedang dilakukan para pekerja disana.


"Orso antarkan Yang Mulia kekamarnya." Berus menatap Marzon.


"Selamat beristirahat Yang Mulia" Marzon hanya mengangguk.


"Silahkan ikuti saya Yang Mulia" suara pelan namun besar itu mendahului Marzon masuk dalam lift.


"Kau Orso?"


"Saya Yang Mulia"


"Antar aku berjalan-jalan" pinta Marzon ia ingin tahu apa yang mereka punya di kota ini.


"Anda seharusnya beristirahat Yang Mulia, karena esok, hari berat anda dimulai" Saran Orso, ia masih mengingatkan agar Rajanya tak kepayahan melawan Ragoo.


"Ah, tak apa, aku siap melawan apapun esok" kata Marzon ringan. Akhirnya Orso mengangguk ia menyetujui pinta Marzon yang ingin berjalan-jalan setelah makan malam.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2