
Banyak kegiatan yang harus Marzon ikuti. Pelatihan militer. Tak apa, sudah lama ia tak melatih tubuhnya.
Hingga siang hari. "Bagaimana pemuda itu?" Mereka sedang makan siang, Marzon bertanya pada Berus. Berus meletakkan alat makannya dan mengusap bibirnya, kemudian menjawab,
"Pemuda itu sudah kembali ke desanya Yang Mulia" Berus melihat Marzon yang mengangguk dan memasukan sepotong daging kemulutnya.
Serasa Marzon tak bertanya lagi, mereka melanjutkan makan siang dengan khitmat.
"Aku ingin berkeliling." Pinta Marzon, Berus kemudian memanggil Orso, untuk mendampingi Marzon.
Kembali marzon memacu kudanya, Hunter. Ia merasa dekat. Jadi Marzon menobatjan Hunter menjadi Kendaraannya selama berada di Phoenix Way.
Ia menarik tali kudanya, melihat adanya jembatan kayu, Marzon mengernyit, ia tak pernah melihat jembatan itu, apa ini jalan yang benar?
"Aku tak melihat jembatan itu kemarin saat kalian membawaku ke Deep inside, apa ini jalan yang benar?" Pertanyaan yang ia tujukan untuk Orso.
"Ini jalan yang berbeda Yang Mulia? Anda ingin berkeliling saya menujukan jalan yang berbeda"
"Okey, kita lanjutkan" Orso mendahului,
"Ini Yang Mulia" Orso memberikan lempengan kecil kristal berbentuk koin pada Marzon. Marzon memansangi koin kristal itu,
"Apa ini?"
"Koin Kristal, Nanti Yang Mulia lemparkan pada lubang disudut batu besar disamping jembatan itu, saya akan contohkan" Orso menarik tali kuda dan berjalan lebih dulu dan melempar sebuah koin.
Marzon mengikutinya dan memacu kudanya melangkah ke jembatan.
__ADS_1
ZLAP!
Mereka sudah berada diperkampungan yang pertama kali Marzon lihat saat ia baru saja datang.
Desa Pheonix Way. Dimana burung mitologi itu hidup berdampingan dengan mahkluk lainnya. Dalam jumlah yang banyak.
"Berus" Marzon melihat Berus yang berjalan di tengah keramaian dengan burung Pheonix
Di lengan tangannya. Burung itu berdiri gagah. Terlihat menawan.
Marzon mendekat dengan kudanya. "Yang Mulia" Berus menundukkan kepalanya, Marzon turun dari pelananya.
"Apa aku juga bisa memilikinya?" Marzon ingin menyentuhnya namun burung mitologi itu merasa enggan dan terbang pergi.
"Bherta tak suka disentuh oleh orang lain, senang berkenalan dengan anda Yang Mulia" sosok rubah dengan armour datang dari belakang tubuh Berus.
"Saya Lisica,"
"Kau harus bertanya dengan Berus Yang Mulia, Bherta adalah sahabat dekatnya" Rubah wanita itu terkekeh genit.
"Sahabat dekat" Marzon bergumam.
"Tapi jika Yang Mulia mengalahkan Ragoo kemungkinan anda akan mempunyai 'Sahabat dekat' itu" Ucap Lisica.
"Ragoo?"
"Tahap awal penobatan anda, Yang Mulia, Banyak mereka tak bisa mengalahkan Ragoo, banyak Raja sebelumnya hanya ingin keluar hidup-hidup agar lolos tahapan awal, mereka tak benar-benar mengalahkan Ragoo" jelas Lisica.
__ADS_1
"Sosok seperti apa Ragoo?"
"Kami yang hanya kalangan biasa tak tahu Yang Mulia, karena yang tahu sosok-sosok didalam sana ---ia menujuk sebuah gunung tertutup awan--- hanya para terpilih menjadi Raja dunia bawah" informasi baru bagi Marzon.
"Katanya sosok disana sangat menyeramkan, dan Thaja, Sang Pemusna,"
Marzon melihat kearah gunung ia tak sabar. Untuk segera memulainya.
"Berus apa ada yang gagal dalam penobatan ini sebelumnya?"
"Tak ada Yang Mulia" setelah mereka bertiga lanjut berkeliling, setelah Lisica pamit.
Mereka melewati pemukiman warga, pohon-pohon besar dengan jendela dan pintu di menghiasinya.
Banyak dan berjajar cantik, mereka menggunakan pohon untuk mereka tinggali, berbagai bentuk.
Rumah yang cukup unik. Dari pohon menjulur tinggi.
Marzon yang takjub berbanding terbalik dengan para warga disana, mereka memandang Marzon dengan waspada.
Sosok Lycan jahat. Itu yang ada dipikiran mereka. Mereka belum tahu Lycan yang mereka pikir jahat ini adalah calon Raja dunia bawah.
Berus melangkah masuk kesalah satu rumah pohon, Marzon ikut masuk,
"Klink!"
Suara pintu terbuka. Berus mendekati meja resepsionis disana. Marzon mengamati sekelilingnya hingga netranya bersimborok dengan seorang.
__ADS_1
Sosok wanita menoleh padanya, "Bharat?" pekik Marzon. Kejutan apa ini?!
Tbc.