DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Haiyla Moon Goddess


__ADS_3

"Masuklah" Hah! Apa sebenarnya? Simon mendekat, dan mengarahkan telapak tangannya pada punggung Bharat.


Bharat tersentak. Matanya kosong, Dengan perlahan tanpa lagi bertanya, ia melangkah ke dalam sungai.


Bharat terus masuk dan berhenti di tengah, air sungai mencapai dadanya. "Tenggelamkan seluruh tubuhmu, beberapa detik" perintah Simon dari pinggir sungai.


Bharat mengangguk, ia menenggelamkan dirinya. Beberapa detik lalu muncul dipermukan dalam keadan terbatuk, ia tersedak banyak air.


Dan ia tersadar berada ditengah sungai, dengan arus kencang, tapi ternyata suhu airnya hangat.


Bharat memasukan lagi seluruh tubuhnya. Ia menikmati air hangat dari sungai itu. Lalu ia menatap sekelilingnya. Melihat Simon, dan yang lainnya di pinggir sungai.


"Sudah bermain-mainnya!" Teriakan Simon dari pinggir. "Sekarang pusatkan konsentrasimu pada batu di bawah kakimu!"


Bharat menatap lempengan batu yang ia injak, batu itu memancarkan cahaya biru keputihan, ia ingin menyentuhnya, namun peringatan Simon menghentikan gerakannya.


"Hei gadis muda! Tetap pada tempatmu!" Bharat pun kembali berdiri.


"Kau bisa tenggelam jika menyentuh stone's throw" Jordan menimpali,


"Pantulannya memang cantik namun itu hanya jebakan, terlihat dekat nyatanya kita tak pernah tahu di mana ujungnya" Lanjut Jordan.


Bharat terdiam, Hah! Makasudnya apa? Ia masih dibuat bingung dengan apa yang ia lakukan sekarang. Sendirian ditengah sungai dengan arus deras ini.


"Konsentrasilah! Berikan kekuatanmu pada stone's throw, biarkan warna birunya menjadi dirimu"


Arahan yang aneh namun Bharat lakukan saja, konsentrasi kumpulkan tenaga ke telapak tangan, lalu dorong perlahan ke lempeng berpedar di kakinya.


Bharat tersentak. Ia merasa ada yang menjalar masuk di pembuluh darahnya melalui kakinya. Terasa hangat aliran menjalar keatas.


Rasanya sangat nyaman. Bharat mendongak. Stone's throw memberikan kekuatan, pancaran terang membuat yang melihat sangat takjub.


"Simon apa ini yang selalu kau sebut dengan Silver lining?" Jordan dan Emmanuel terpaku pada cahaya putih yang terpancar dan melambungkan tubuh Bharat.


Ia melayang. Rambutnya melambai dan mengering juga dengan gaunnya.


Bharat  melayang di atas sungai. Sinar putih menyelimuti tubuh Bharat. "Penyatuan Moon Goddess"


Rambut Bharat berubah warna, putih keemasan.


"Kau membawa apa yang aku minta?" Jordan mengangguk,


"Siapkan semua" Manuel menurunkan tasnya. Ia membuka dan mengeluarkan bongkahan batu meteor kristal.


Ia meletakkan di sebuah batu besar di pinggir sungai. Sinar yang melingkupi tubuh Bharat menyambar batu meteor kristal.


Ctazzz ...


Sinarnya menembak keatar arah pada bulan sabit. Lalu terjadi getaran halus ditanah. Lempengan stone's throw bersinar lebih terang,


Bzzzzrt ...

__ADS_1


Secepat kilat sinar lempengan itu memotong sinar meteor kristal yang menembak kearah bulan sabit. Dan sinarnya memantul kembali ke tubuh Bharat.


Tubuh Bharat memutar ia berdiri, masih dengan dikelilingi sinar terang berwarna putih kemasan. tubuhnya melayang.


Perlahan matanya terbuka dengan tatapan lembut, Menatap meteor kristal. Simon menunduk hormat, diikuti Jordan dan juga Manuel.


Sinar yang terpancar ditubuh Bharat terlihat menyerupai balutan gaun yang melambai tertiup angin, bergerak cantik.


Pesona Goddess terpancar membuat Jordan dan Manuel yang baru pertama kali melihat penampakan Haiyla Moon Goddess tak bisa berpaling.


"Selamat datang Haiyla Moon Goddess" Sapaan hormat Simon.


"Lama tak jumpa Simon, Apakah anak ini penerus Amarin?" Haiyla, Moon Goddess yang merasuk dalam tubuh Bharat. Ia tersenyum anggun, dengan suara lembutnya.


"Iya Moon Goddess" Simon mengangguk.


"Sekarang biarkan aku yang mengurus anak ini, Kalian pergilah"


Simon hanya mengangguk. Lalu beranjak pergi dari tempatnya. Jordan dan Manuel walau bingung, mereka mengikuti Simon. Meninggalkan Bharat disana.


Jordan dan Manuel saling berpandangan setelah menengok kebelakang, mungkin ini salah satu ritual yang harus Bharat lewati.


Merasa sudah jauh dari sungai, "Elder apa yang akan terjadi dengan wanita yang kita tinggalkan disana?"


"Iya Elder apa yang akan terjadi?"


"Kau juga akan melalui ini Jordan, tapi nanti ada saatnya."


Jordan dan Manuel mendengar penjelasan Simon.


*


*


*


Bharat terbangun diranjang putih keemasan. Ruangan terang, dengan dinding bercat putih.


Ia masih mengenakan gaunnya yang semalam, Bharat beranjak dari tidurnya, tempat apa ini, apa aku sudah berada di surga? Sebenarnya apa sedang terjadi? Kebingungan yang Bharat rasa semakin bertambah.


Kepalanya terasa ringan. Didalam ruangan ini, terdapat meja laci, diatasnya ada beberapa benda. Juga ada rak lemari disudut ruangan. Ia melihat sebuah vas bunga yang memancar pedar aneh.


Bharat mendekat ia ingin menyentuhnya, tangannya menjulur, sedikit lagi ia meriah vas, suara wanita menyela,


"Kau bangun" Bharat terkejut, ia mencari keberadaan suara itu, ia kembali ke tengah ruangan.


"Siapa kau?" Tanya nya pada angin. Karena ia tak menemukan wujud apapun di ruangan itu selain dirinya.


"Aku Haiyla" jawab Moon Goddess,


"Haiyla? Siapa Kau? Jangan bersembunyi!" Bharat, netranya mencari, memutar tubuhnya, ia tidak melihat ada siapapun kecuali dirinya, ia hanya sendiri.

__ADS_1


"Aku yang menggantikanmu, untuk sementara, Kau perlu menuntaskan tugas dan bantuanku sangat diperlukan" penjelasan Haiyla. Ia mendengar suara diotaknya.


"Tugas? Bantuanmu?"


Sebuah layar muncul didepan Bharat. Ia bisa melihat apa yang Haiyla lihat. Haiyla sedang mengambil alih tubuh Bharat. Dan yang Bharat lihat adalah pantulan dirinya yang menyeringai pada genangan air.


"Apa yang kau lalukan dengan tubuhku!" serunya, ia tak tahu apa tujuan wanita ini hingga ia memenjarakan jiwanya di ruangan putih ini.


Bharat bisa melihat dinding batu, sebongkah batu besar, juga ribuan batu meteor kristal di layar itu. Haiyla memperlihatkan semuanya. Dan Bharat menyimpulkan ia sedang berada didalam gua.


Bertapakah?


"Aku meminjam tubuhmu" lanjut Haiyla. "Kita akan menyatukan kekuatan, kau adalah sang penerus"


"Sang penerus?"


"Ya, sang pemegang ras tertinggi, ras serigala putih" Bharat tercengang. Ia masih saja kebingungan dengan semua peristiwa yang menimpanya akhir-akhir ini.


"Kau bicara apa? Jangan ngawur! Tunjukkan wujudmu, sekarang juga!"


Cukup! Bharat sudah tidak tahan lagi. Simon, Jordan dan Manuel sama sekali tidak memberi petunjuk apapun pada dirinya mengenai ras yang dibicarakan wanita ini,


Suara tawa lirih, "Kau memang sang penerus, watakmu sama seperti ibumu! Keturunan penerima tahta, Amarin juga mempertanyakan diawal"


"Ibumu? Amarin?"


"Ya, sepertinya mereka tidak bercerita padamu, Aaahh... rasanya sangat menyenangkan bisa kembali melihat desa Arctos"


"Rasanya sudah lama sekali, terakhir kali Amarin terkoneksi denganku, saat ia meminta bantuanku untuk menyelamatkanmu"


Bharat mendengarkan apapun yang keluar dari mulut Haiyla.


Entah kenapa otaknya bekerja lambat, Bharat merunut sendiri, tentang Amarin, tentang ritual aneh yang mengharuskan dirinya masuk dalam sungai, ras serigala putih.


"Amarin? Luna yang hilang? Apa hubungannya ia menyelamatkanku?" Kesadaran Bharat kembali, ia bisa mengendalikan ke linglungannya sekarang.


"Hah! Hubungannya? Kau adalah keturunannya," sekarang giliran Haiyla yang dibuat kebingungan. Bharat yang terkejut.


"Keturunan? Maksudmu, aku memiliki darah yang sama dengan Amarin?" Lirihnya memastikan, pendengarannya tidak salah.


"Kau, anak dari Amarin dan Alpha terdahulu" penjelasan gamblang Haiyla membuat Bharat terpaku.


"Hey Haiyla jangan bercanda! Kau siapa sebenarnya? Dan mengapa kau menggunakan tubuhku!"


"Astaga! Kenapa anakmu ini bodoh sekali, Amarin! Aku sudah memberi tahumu dari awal tadi" Keluh Mood Goddess yang tak percaya dengan kebebalan Bharat.


Dan Bharat tak bisa lagi berkata-kata mengetahui fakta yang baru diungkap oleh wanita ini.


"Wanita ini! Wanita ini! Aku Haiyla! Aku Moon Goddess!" kesabarannya yang menipis untuk Bharat.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2