
Ia merasa tubuhnya semakin ringan. Sunna menggiring Bharat ke tempat lain. Ia memasuki kawasan lebih gelap dengan banyaknya pepohonan tanpa daun, rantingnya saling menyilang layaknya pagar berduri.
Hutan dengan kabut dingin menyelimuti, suasana dingin menambah keseraman sekitarnya.
Untung ia mengenakan pakaian tebal. Bharat terus mengikuti Sunna, terdengar suara hewan malam, juga kecipakan entah dari mana, ah ternyata di kirinya terdapat danau yang permukaannya ditutupi kabut dingin.
Dan serangan itu terjadi, dengan ringan Bharat menghindar. Sunna tak terlihat. Ia meninggalkan Bharat. Manun tak lama ia menemukan keberadaan Moon Goddess itu.
Ia hanya melihat dari jauh. Dengan cepat otak Bharat berpikir. Ia masih dalam ujian ternyata.
Dan lagi serangan itu muncul dari danau yang ia lewati. Bola-bola api itu mengejarnya.
Dengan hanya belati kecil Bharat menangkis serangan itu. Ia bersembunyi dibalik batu besar.
Dengan gesit Bharay yerus menghindar. Hingga suara gemuruh terdengar dari tengah danau. Air di tangah danau mengeluarkan gelembung mendidih, lama-lama gelembung mendidih itu naik dan semakin besar.
"GHAAARGH!"
Muncul sosok berwarna hitam besar meraung, mulutnya menganga, lidah api menjulur keluar, dengan mata merah yang terlihat marah. Tubuhnya sekaku batu dengan aliran lahar api mengelilingi tubuhnya.
Ia terus menyerang Bharat, seperti afa yang berbisik pada telinganya,
"Vatra, panggil pedang yang kau dapat dari Lachrym Dragon, tancapkan pada titik lemahnya."
Bharat kembali kebalik batu, dimana Vatra menyemburkan api putih. Panas. Mata Bharat terpejam. Ia kembali mengosongkan pikiran dan membersihkan hatinya.
"Berikan kekuatanmu padaku! Aku memanggilmu! INCAZILDRAAK!" teriakkan Bharat dengan tangan mengacung keatas,
BLAR!
BLAR!
__ADS_1
BLAR!
langit berubah menjadi kelam, petir menyambar, dari tubuhnya memancar cahaya Bharat melayang, kekuatan besar masuk dalam tubuhnya, rambutnya memutih, dengan bola mata kristal berwarna merah, dan ditengah dahinya ada kristal putih.
Jatuhlah pedang kristal dengan pedar cahaya memancar terang kekuningan.
Tubuh Bharat terbang kearah pedang, tangannya meraih pedang itu, ia memainkan dengan sangat lihai. Kembali bola mata Bharat berkilat.
Ia menatap dahi monster api didepannya,
"Aha," senyuman mengembang, Bharat melempar pedangnya ke atas dan menangkapnya. Ia memegang pedang itu seperti tombak. Ia menemukan kelemahan monster itu.
Dengan gerakan yang luwes ia melempar pedang itu kearah dahi Vatra. Pedang kristal itu melesat cepat dan mengenai sasaran.
Serangan Vatra berhenti. Hening sesaat.
Dan tubuh Vatra luruh menjadi bongkahan batuan tak berbentuk, tenggelam tersedot kedalam danau penuh lumpur. Dan hilang.
Bharat menapak ketanah, ia masih memainkan pedang kristalnya, masih dengan wujud barunya.
"Kau cepat belajar" lagi, Bharat hanya menatap datar.
ZLINK!
Seketika tubuh Bharat kembali ke semula. Pedangnya juga menghilang. Lelah. Ia bersandar bongkahan batu.
"Istirahatlah sebentar, pulihkan tenagamu, Incazildraak sungguh menguras tenaga, kau tak akan sanggup mengangkat dan memainkannya seperti tadi dengan wujudmu yang sekarang ini,"
"Benda itu sungguh berat, dan aku takjub dengan kemampuanmu meleparkannya ke dahi Vatra" lanjut puji Sunna.
Setelah beristirahat sebentar, Bharat kembali mengikuti Sunna ke tempat ujian selanjutnya.
__ADS_1
Hembusan angin menerpa kulit Bharat, ia mengeratkan syal yang dikenakan.
Persiapannya sangat matang. Ini berbanding terbalik dengan cuaca di desa Arctos yang cenderung hangat.
Tak lama kegelapan agak kehijauan menyambut netra Bharat.
Ia bisa melihat barier tinggi menjulang, Barier berwarna kehijauan itu seperti dinding tebal.
"Dan aku hanya bisa mengantarmu sampai sini." Sunna mengangguk tanda hormat.
"Tunggu!" Pekik Bharat, tanpa sadar suaranya meninggi.
"Ya," Sunna yang tadi akan meninggalkan Bharat ia berbalik.
"Kata kau, Haiyla menyerahkan aku padamu?" Sekali lagi Bharat dibuat tak mengerti. Kerutan di dahinya Sunna tersenyum mengerti.
"Benar, Tugasku menemanimu hanya sampai Lachrym Dragon dengan ujian Vatra dan selamat kau lulus dengan cepat"
"kau masuk ke tahap selanjutnya, masuklah kedalam, disana sudah ada yang menunggumu." Ucap Sunna dengan tatapan lebih bersahabat.
"Jadi kita berpisah disini? senang mengenalmu Sunna." Bharat ikut menundukkan kepala sebagai penghormatan. Dibalas dengan anggukan yang sama.
Setelah penjelasan sedikit itu Sunna menjauh. Tak memberi kesempatan Bharat untuk bertanya lagi.
"Mengapa banyak sekali teka-teki." Tidak ada *******, entah mengapa ia merasa senang, jantungnya berdetak tak karuan, menimbulkan senyuman dibibirnya. Kejutan apa lagi yang akan ia hadapi. Rasa percaya dirinya melesat.
Bharat mengamati tempat ini.
Hutan gelap, dengan pepohonan yang hanya menyisahkan ranting-ranting tajamnya, pancaran sinar kehijauan ditambah suara hewan malamnya menambah kesan menyeramkan, dingin.
Kembali Bharat melangkahkan kakinya, seperti awal portal yang membawanya pada Dragon Eye, tak serta merta membuat nyali Bharat hilang. Malah yang ada adrenalinnya seperti dipompa.
__ADS_1
Bharat telah berada didalam barier, membuat naik alisnya, ia terheran apa yang didapatinya sekarang, penampakannya sangat berbeda, sangat berbanding terbalik. Dengan keadaan diluar.
Tbc.