
"BHARAT BELAKANG MU!" teriakan Camy, saat ujung pedang mengkilap mengarah ke tubuhnya.
ZLINK!
Cahaya muncul dari punggung Bharat. Disana sayap putih keemasan muncul melebar melingkupi tubuh Bharat.
Menghempas pedang mengkilap yang terbang jauh. Bersamaan dengan tubuh wanita yang memegang pedang ikut melayang jauh.
Bharat berbalik, ia melihat Wina dengan mata memicing. Ia merogoh kantong dan mengeluarkan senjata api miliknya.
Kotak yang dengan cepat merubah dirinya menjadi senjata api berukuran besar. Mengarahkan senjata itu pada Bharat. Ia membidik dan menekan pelatuk,
DOR! DOR! DOR!
Berondongan tembakan menyerang Bharat. Sayap bercahaya itu menangkis semua serangan bertubi dari Wina.
DOR! DOR! DOR!
Lagi serangan bertubi. Bharat maju, dengan sayap bercahaya itu melindungi dirinya. Ia menyiapkan tangannya. Ia memilih menghadapi Wina dengan tangan kosong saat ini. Ia terus maju.
Ctek!
Ctek!
Senyum miring terukir pada wajah Bharat. Ia menghempas sayapnya dan meraih senjata Wina. Ia melempar senjata itu menjauh.
Dan menghantam wajah wanita itu. Wina oleng, tak siap dengan serangan Bharat. Wina menatap bengis Bharat yang tersenyum padanya.
Tentu saja Wina geram. Kali ini ia akan melawan hingga ia menang. Kepalannya mengerat.
"HYAAAA … " Wina berlari maju dan menyiapkan hantaman, tinjuannya meleset, Bharat menghindar dengan gesit. Semakin Bharat menghindar, semakin semangat menyerang Wina meningkat.
Dirinya sudah dikendalikan oleh emosi. Ia terus menyerang, dengan membabi buta. Bharat melihat celah dan tinjuannya mengenai dagu bawah Wina.
Wina melayang kencang, dan punggungnya menabrak dinding. Rintihan nyeri terdengar, nafasnya tersendat. Ia terbatuk.
__ADS_1
Bhatar mendekat ia mengatur nafasnya. Ternyata lumayan juga kekuatan yang Wina miliki.
Bharat kembali mendekat pada Wina yang masih meringkuk pada lantai. Ia menodongkan senjata miliknya, yang Camy berikan padanya, senjata itu menjadi lebih canggih akibat armor yang ia gunakan saat ini.
Ctek!
Bharat tak akan segan pada perusuh. Mata Bharay berkilau. Seperti dirasuki kekuatan besar.
Wina mengintip dari ringkukkannya ia melemparkan bubuk yang ia genggam, pada wajah Bharat.
"Ark!" Bharat mundur, matanya pedih, entah apa yang Wina lempar pada wajahnya.
Kemudian Wina mengambil senjatanya yang tergeletak didekatnya. Dan kembali mengayunkan pada Bahrat.
"Harg!" Ia tak bisa menghindar. Dan terkena sabetan Wina. Wina yang merasa ini kesempatannya menghabisi Bharat merasakan adrenalin membunuh pada dirinya memuncak.
Kembali Wina sabetkan pedangnya. Ia memutari tubuh Bharat. Dan terus menyabetkan pedang, Hingga Wina siap untuk menusukan pedang itu pada jantung Bharat.
"Kau harus mati, Bharat, kau mengambil semuanya dariku terima ini, dan aku yang akan menggantikan dirimu menjadi penguasa Desa Arctos!"
Ia bisa melihat sosok Marky disana, keinginan mendapat pengakuan dari Marky membenarkan keputusannya saat ini.
"Hyaaakk"
TRANK!
Dalam keadaan terpejam Bharat bisa menghalau serangan Wina yang agresif. Ia mempelajari gerakan langkah kaki Wina. Dan tadi ia sengaja mengumpankan diri. Dan membuat Wina menang,
Ia teringat, kita perlu mundur selangkah untuk bisa melompat maju tiga langkah.
Bharat menghentikan Wina dengan pedang miliknya menebus jantung Wina.
"Hurgh! Uhugh … " Wina memuntahkan darah segar. Matanya menahan kesakitan, dengan rintihan.
Wina memandang dingin pada Wina saat ia menyambut pedangnya. Tubuh Wina meluruh dengan darah menciprat ke lantai. Wina tewas.
__ADS_1
Berus menjadi incaran Marky, bahkan klan Guapo sudah berada disana dengan Braxton dan Willow menyelinap dan mengintip apa yang terjadi di dalam ruangan tetua Deep Inside.
Namun Marzon menghalangi Marky, ia kesal dan menyerangkan sebuah tinjuannya pada Marzon. Lycan itu menghindar. Matanya menatap Wina disana bertarung dengan Bharat.
"Dasar tak berguna!" Makinya saat melihat Wina yang tewas.
"Kau menghalangiku Lycan!" Bentak kesal Marky. Matanya menatap target. Ia mendorong jauh tubuh Lycan itu hingga terpental.
"Ah mengesalkan mengapa aku harus membuang tenagaku untuk kau!" Kekuatan Marky meningkat dasyat. Kekesalannya memacu kekuatan rahasianya keluar belum saatnya.
Ia menghantam cepat para pengganggu. Tujuannya adalah Berus. Bukan, yang benar tujuannya adalah Kristal Abadi yang Berus simpan.
Simba menyerang Braxton yang mengintip. Dengan gesit Braxton tahu serangan Simba. Ia menghindar dan membuka persembunyiannya.
Mau tak mau mereka bergabung dalam perkelahian di ruangan luas itu. Willow dengan santai melemparkan peledak di tengah pertarungan.
DOOM!
Ledakan terdengar beberapa prajurit Phoenix Way juga pasukan Nokturnal terhempas ledakan itu. Mereka terpental jauh.
Ia tak peduli siapa yang ada di perkelahian itu, ia hanya ingin tahu dimana Krisgal itu berada. Camy menuntun Berus menjauh dan Willow bahkan Marky melihatnya.
Marky menancapkan pedangnya dan melumpuhkan Marzon dengan kekuatan yang ia punya, menggunakan sihir hitam, selama ini, Patrik berusaha mencari peneliti ilegal yang lebih hebat dari Zale.
Dan ia bertemu dengan Husbistus. Seorang penyihir hitam. Marky diajak Husbistus ke tempatnya, Desa BlackMud.
Dan disana Marky mempelajari perubahan diri juga mendapatkan kekuatan magis. Kekuatan sihir hitam. Karena tubuhnya sendiri memiliki aura yang bisa menarik kekuatan gelap level tinggi. Membuat Marky bisa menguasai ilmu sihir hitam dengan cepat.
Dan dengan tujuan utama Marky mengambil Kristal Abadi dan membuatnya menjadi hitam.
Agar ia bisa menjadi yang terkuat di bumi, orang akan menunduk dan menyembahnya ia ingin menjadi Tuhan. Ambisi yang luar biasa.
Ia berlari menyusul Camy yang menjauhkan Berus. Begitupun dengan Willow yang mengejar Camy.
Sedangkan Marzon dihadang sang adik Braxton. "Lama tak jumpa kakak?" Ucap Braxton.
__ADS_1
Tbc.