
Camy tak bisa hanya berdiam, ia ingin cepat menguak semuanya, permasalahan Hide Dome dengan Nokturnal semakin menjelas.
Sekarang ia kembali ke DarkHole. Takutnya jika masih disini ia akan menghancurkan terowongan itu.
"Kita kembali ke markas Sandos"
Camy meletakkan ipadnya sembarangan. Nyeri lagi kepalanya. Ia ingin meredakan amarahnya. Karena Mr. Ruler hanya kaki tangannya saja pikirnya. Camy masih harus mencari dalang utama penghancuran Hide Dome dan menjadikannya yatim piatu.
*
*
*
Jenny menyiapkan dirinya, ia sudah mencari tahu apa itu Nokturnal Wildlife. Sebuah area pembantaian. Itu yang disebutkan pada keterangan yang Jenny temukan.
Sebenarnya itu hanya tempat hiburan semata, banyak pelelangan ilegal, area judi, juga klub dan wanita malam. Red Line adalah klub yang paling terkenal di Wildlife.
Area yang berada dalam nauangan dua Side, Foxes Side dan Bats Side.
Dan tak banyak yang Jenny temukan tentang Bats Side juga Monts Side. Jenny sudah pulih dari beberapa hari yang lalu hanya ia senang tinggal di rumah sakit yang memanjakannya.
Beberapa kali Riby akan menemaninya ke gym yang ada di Foxes Side. Dan sparring bersama Riby atau Wina. Tapi lebih sering bersama Wina. Riby sering kali menghilang.
Jenny membebat tangannya dengan hand wrap. Jenny melakukan pemanasan. Ia menghantam samsak dengan brutal. Entah mengapa hari ini energinya melimpah dan Jenny melampiaskan pada samsak didepannya ini.
Bajunya sudah basah dengan peluh, sudah satu jam ia menghabisi samsak didepannya. Harusnya ia berlatih dengan Riby tapi tak tahu kemana perginya temannya itu, begitu juga dengan Wina. Ia tak melihat batang hidungnya sejak kemarin.
Jenny meneguk kasar minumannya. "Perlu partner?" Seorang pria mendekat. Jenny hanya melirik, ia malas berurusan dengan yang namanya pria.
Jenny memang seperti ini. Menjauh jika ada lawan jenis mendekat. Jangan tanyakan tentang rasa. Sudah ia kubur dalam-dalam.
Ia berdiri dengan memeluk sarung tinju dan botol minumnya. Handuk ia sampirkan ke pundak dan berlenggang pergi, menjauh.
Ia akan melanjutkan dengan jogging saja di tread mill. 30 menit saja cukup. Jenny melangkah kearah ring tinju. Sedang ramai disana. Jenny mengintip, melihat sedikit permainan.
Jenny mengangguk, melihat kehebatan si celana biru. Ia tertarik mendekat. Bersandar pada dinding dan menikmati trik-trik si celana biru.
"Boleh juga" Jenny melangkah ke kamar mandi. Sudah saatnya ia kembali. Membersihkan diri dengan air hangat. Melemaskan segala ketegangan ototnya.
Selesai ia keluar dari kamar mandi, lapar sekali. Melihat ipad, menelusuri kantin di Nokturnal ini, menyediakan berbagai macam makanan.
"Bagaimana? Bisa jadi partner?" Jenny mendongak. Dengan alis menungkik.
"Marzon Wright" pria itu mengulurkan tangannya. Jenny hanya melihat tangan terulur itu. Lama. Lalu mengulurkan tangannya. "Jenewa Speer"
"Jadi minat sparring partner?" Jenny merasa Marzon pria yang keras kepala juga cerewet. Ia sedari tadi mengikuti kemana Jenny pergi.
__ADS_1
Sampai dikantin. "Aku rekomendasi restoran Buchi Hashi, Ramennya nomero uno!" Marzon terus saja berceloteh bahkan saat Jenny hanya menanggapinya seadanya.
Jenny berjalan cepat masuk dalam Buchi Hashi. Marzon merasa senang Jenny ternyata mendengarkannya.
"Hei Riby, dimana ponselmu?" Tanya kesal Jenny. Ia melihat Riby dan Leon yang sedang menikmati ramennya.
Riby mendongak dengan mie masih di mulutnya. Ia menyedot mie dan mengunyah perlahan dengan menatap Jenny tak bersalah.
"Sudah duduk dulu, Ramen disini enak banget." Riby berdiri menyapkan sesendok sup ramennya pada Jenny.
Jenny menghirup sup ramen dan matanya berbinar. Ia duduk dan memesan. "Jen itu?" Riby melihat Marzon yang sibuk memesan. Merasa dibicarakan. Ia mendongak. Dan mengulurkan tangan pada Riby.
"Marzon Wright, teman Miss Speer" Jenny melirik malas. Sejak kapan mereka berteman.
"Oh aku Ribella Scoot, panggil Riby, Mr. Wright, senang berkenalan denganmu"
"Marzon saja Riby, semoga kita menjadi teman baik ya"
"Apa kabar Leonidas?" Sapa Marzon,
"Baik tuan Marzon" Riby penasaran mengapa Leonidas begitu hormat pada Marzon-Marzon ini. Siapa dia? Sedangkan Jenny sebaliknya ia tak peduli.
"Riby nanti ayo sparring" Jenny merasa harus melawan orang bukan hanya karung pasir.
"Maaf Jen, aku harus ke lab, Maria nanti kebakaran jenggot kalau aku tak kesana lagi" Cengir gadis itu. Jenny hanya pasrah.
"Bagaimana kalau denganku?" Tawar Marzon.
"Kau mau berduel lagi Jen, hai salam kenal aku Leonidas teman Riby, aku melihat videomu dan aku terkejut ada wanita yang berani melawan ketua Foxes Side itu"
"Jangan menatapku begitu, bukan aku yang memberitahukannya, vodeomu sudah tersebar di perusahaan ini" Riby membela dirinya, saat mata menyipit Jenny seolah ia yang ember pada temannya itu.
"Bagaimana? Aku bisa mengajarimu teik untuk mengalahkannya" Marzon memberi tawaran pada Jenny.
Marzon memang sudah mendengar tentang rumor santer itu. Tapi tak menyangka bahwa wanita didepannya ini yang menjadi topik utama menghebohkan itu, bahkan topik itu juga telah masuk dan di bicarakan orang-orang Monts Side. Membuat Marzon semakin penasaran.
Janny mau tak mau menyetujuinya. Benar kata Riby, agar ia tak timpang nanti lagipula Marzon dengan suka rela membantunya.
Riby dan Jenny berpisah dikantin, Riby mengikuti Leonidas. "Kenapa kau memanggil Marzon, dengan sebutan Tuan, Leon? Penasaran Riby.
"Karena dia memang Tuan, dia anak petinggi disini, ia tinggal di Monts Side."
"Iya Monts Side. Tempat para level tinggi. Mereka bisa masuk dimana saja, alias pandai dalam semua Side. Dan mseeka dengan kemampuan itu tinggal pada Monts Side. Kau pernah bertemu Mr. Ruler kan?" Riby mengangguk, pernah ia bertemu dengn Pria berkulit gelap itu. Memancarkan aura, Dingin dan tak tersentuh.
"Ia salah satunya. Dan Tuan Marzon sangat pandai beladiri. Ia adalah nomor satu di Nokturnal Corp." Jelas Leon antusias.
"Terus Theo katamu dia nomor satu?" Riby masih belum puas.
__ADS_1
"Iya nomor satu di Foxes Side, sangat jauh kalau di bandingkan dengan Tuan Marzon, sangat beruntung, dilatih langsung olehnya"
" Semoga saja, berarti Jenny ada ditangan yang benar" Habisi bajinngan itu Jen lanjut Riby dalam hati.
"Jadi tak sabar menunggu duel mereka. Ah akau bari ingat, Tuan Marzon juga pernah melatih Theodor, makanya kwnapa ia bisa menjadi ketua Foxes Side" Info yang mencengangkan buat Riby.
"Murid baru berduel dengan murid lama, Menarik!" Guman Riby.
Riby mendial nomor Jo. "Kau harus kesini Jo, saat Jenny duel dengan Theo. Ini akan menarik," Riby tak menceritakan detailnya, ia sudah memutuskan sambungannya, lagian Jo juga ada di antah berantah sekarang ini.
"Bharat kau punya dendam denganku?" Saat ini Jo sedang beeistirahat. Ia sangat amat lelah. Bharat mengajaknya mencari para leluhurnya. Bayangkan Le. Lu. Hur! Iya orang yang telah hilang dari bumi ini! Gone! Dan sekadang ditengah gurun bersavana ini. Jo dan Bharat berada.
Bharat hanya tersenyum. Menanggapi gerutuan Joana.
*
*
*
Jenny terkapar, Marzon benar-benar tak ada ampun dengannya. Nafasnya tersegal. Tapi ia puas. Itu terlihat dari senyuman yang sedari tadi ia pajang di bibirnya.
"Nih" Marzon melemparkan air mineral dingin padanya. Jenny menangkapnya. Dan menempelkannya pada pipinya. Menyegarkan.
Ini sudah hari ketiga ia sparring bersama Marzon. Sedikitpun Marzon tak memberi Jenny cela untuk menang. Atau memang itu cara Marzon melatihnya.
"Tolonglah beri aku sedikit cela jangan terlalu tega kau padaku Mar" Jenny masih dengan nafasnya yang putus-putus itu.
"Kau biasa seperti ini? memohon lawan, untuk mengalah Jen?" ya setelah sehari mereka menjadi sparring partner, mereka menyepakati menjadi teman.
"Tidak!"
"Nah pertahankan sikap itu, kita tak akan melakukan itu, tapi kita harus memiliki trik dan intrik." Marzon menaik-naikkan alisnya mencoba menggoda partnernya itu.
Jenny tahu dari Riby, Marzon pertarung handal. Ia ingin bertanya tapi ia urungkan.
Ini bukan rananya. Ia tak ingin hubungan ini menjadi sesuatu yang tak ia inginkan. Biarlah seperti ini saja.
"Riby, berikan lokasi kalian" Jo keluar dari kamarnya. Ia telah tiba barusan.
Kling!
"Bawa aku ketempat ini" scooter itu pun berjalan.
Jo memasuki lantai Foxes Side dengan banyak penjaga dan sangat ketat. Agak menyeramkan. Sudut matanya menangkap sesuatu.
"Berhenti!" Perintahnya. Ia mengarahkan kamera yang ada di scooter itu dan memperbesarnya pada layarnya.
__ADS_1
"Tak mungkin!" Jo memandang kearah dua orang yang memasuki sebuah ruangan itu.
tbc.