
Willow memegangi lehernya yang perih terjangan siku Alamira dan salim tadi tidak main-main.
Sebenarnya ia bisa melawan namun ia terlalu terkejut. Dengan sidik jarinya yangbia tempelkan pada gelang ditangannya. Dan alat itu memindai sekelilingnya, ini yang sedang Willow kerjakan.
Memepelajari tentang dunia bawah. Ia menggerakan tangannya senatural mungkin. Nanti pindaian itu akan membantu mereka.
Mereka mengendarai gerobak, dan keluar dari High Majesty. Gerobak dipaxu cepat menuju pasar malam yang berada ditengah desa. Dan betul saja. Sangat ramai.
Willow masih dengan penyamarannya menjadi ras ular. Gerobak mereka menunggu dipinggir pasar malam. Mereka berjalan untuk melihat.
Willow masih memindai keadaan. Ia bisa merasakan, ada yang sengaja mengikuti mereka.
Banyak orang yang berteriak untuk menjajahkan makanan mereka. "Minuman dingin, menyegarkan, hanya satu keping koin."
"Silahkan Tuan"
"Gula-gula ... Gula-gula manis, anda mau nona?" Alamira memeperluhatkan telapak tangannya. Menolak.
Pedagang itu menjauh, "Miss lihat, hiasan rambut milik saya, pasti cocok untuk anda" seorang pedagang lain menghampiri mereka. Williw sudah menggelengkan kepala namun pedagang ini masih mengikuti, dan bahkan seperti mengarahkan mereka pada gang sepi.
Mereka ber tiga tidak bodoh. Namun secara sadar mengikuti arahan pedagang yang sepertinya hendak berniat jahat ini.
"Kalau kalian tak tertarik dengan hiasan rambut ini, lebih baik serahkan semua barang berharga kalian!" Segerombolan perampok seperti yang menyerang mereka sebelumnya datang bersamaan.
"Seberapa banyak kawanan mereka? Aku mulai malas harus bertemu hewan bau dan berbulu ini" Willow dengan cerocosan yang membuat geram bandit didepannya.
__ADS_1
"Jangan banyak mulut kau wanita ular! Berani sekali melawan kami!" Ucap pedagang hiasan rambut itu.
"Kenapa harus takut dengan tikus bau seperti kalian!"
"Sialaan! Serang!" Ucap si bandit lain.
Willow mengeluarkan senjata lasernya dan dengan kemampuannya empat dari mereka sudah tergeletak tak bernyawa.
"Siapa kau?" Melihat rekannya yang dalam sekejap tewas bergelimpangan. Ia mundur. Ia mengeluarkan sihirnya. Menyerang mereka dengan senjata tak kasat mata.
Whooss ...
Pipi Alamira mengeluarkan darah segar seperti teriris angin yang baru saja melewatinya. Juga dengan Willow dengan lengan yang tergores.
Alamira seakan baru kembali mengingat ia berada didunia bawah. Ia terlalu merendahkan para bandit dan lupa jika disini ia bebas menggunakan sihirnya.
Tubuh kawanan bandit itu menjadi kaku. Mereka seperti terikat sesuatu yang tak terlihat. Ketua para bandit terus mengerakan tubuhnya.
"Haargh ... " teriakan kencang dari salah satu mulut bandit.
"Aaarrkk ... "
"Panas ... lepaskan!"
"Kalian ular mengapa memiliki sihir ini, huurgh ... aaarkkk ... "
__ADS_1
"Alamira ... kalian dengar sampaikan pada bos kalian, sudah aku katakan kemarin saat kalian menyerang kami, ternyata kalian masih tak jerah!"
"Sekarang rasakan!" Alamira membuat gerakan seperti menari. Mengeluarkan jurus sihirnya. Terikaan menyakitkan bergema di gang sempit itu.
Lalu tubuh bandit-bandit itu menghitam menjadi arang yang kemudian luruh menjadi abu. Entah sihir apa yang Alamira gunakan. Tapi itu sangat menyeramkan.
Tak terlihat. Tapi membuat musuhnya tak berdaya. Alamira menghela nafasnya oasrah karena ia tahu bos para bandit tak akan diam saja. Bos bandit ini akan mengejarnya sampai dapat.
Sungguh menyusahkan!
"Ayo kembali, nikmati jalan-jalan kalian, aku sangat lapar, para bandit ini membuatku kelaparan. Sup rusa sepertinya menyenangkan"
"Salim bawa kita ke bar yang menyediakan makanan itu" Salim mendapatkan kode yang Alamira kirim. Tapi saat ia datang para bandit telah menjadi abu. Ia terlambat atau Nonanya yang sedang tak ingin diganggu?
"Baik Nona," Salim berjalan memandu mereka.
Mereka memasuki pasar malam. Ada kerumunan melingkar didepan sana. Ada yang membuat pertunjukan.
Mereka mempertontonkan. Sihir dengan ramuan. Tepukan tangan membuat fokus mereka teralih untuk melihat. Ternyata mereka memantrai tanaman agar menjadi hidup.
Willow tampak memindai dengan tangannya. Ia takjub bisa melihat mereka melakukan apa yang bisa Willow dan peneliti Nokturnal lakukan di lab mereka dan secara tertutup.
Karena percobaan atau penelitian mereka bukan bahan untuk hiburan. Berbeda sekali jika di pasar malam ini. Mereka menjadikan penelitian sebagai hiburan.
Dan mereka menjual ramuan itu secara bebas. Braxtom tertarik dan membelinya. Sebelum kemari Alamira membekali Braxton dan Willow dengan satu kontong koin.
__ADS_1
Dan Braxton akan membawanya ke dunianya.
Tbc.