DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Kembali ke Arctos


__ADS_3

Wina kembali kedesa Arctos bersikap lugu tak tahu tentang pembicaraan yang ia dengar sebelumnya.


Perasaan tersisih masih ada hanya entah ia merasa hatinya ringan, dengan itu sedari pagi, setelah ia pulih tempat pertama yang ia ingin singgahi adalah desa Arctos.


Ia dalam perjalanan ke desa Arctos. Namun ia melihat dinding tipis transparan didepannya, Wina menghentikan kendaraannya.


Sebelumnya ia tak pernah melibat dinding ini, pikirnya,


Dinding apa ini, "Junior, dinding apa itu didepan?" Tanyanya pada robot yang mendapinginya.


"Tidak ada, dinding didepan kita Madam" robot itu menjawabnya.


"Hah! Kau tak lihat itu dinding transparan itu" tampang Wina mengerut.


"Saya tidak menemukan dinding yang Madam maksut" jawabnya lagi.


Sangat aneh. Ia melihat gambar-gambar yang diperlihatkan Junior. Dan memang tak ada dinding yang ia lihat sekarang.


"Lanjutkan perjalanan, Junior" keputusan Wina. Walau perasaan was-was menyelingkupi hatinya. Takut semacam jebakan.


"Baik Madam"


Sinar terlihat saat kendaraan Wina menerobos dinding transparan itu. Dan hutan lebat menyapa Wina.


Hutan yang sangat ia kenali, karena ia pernah mempercayai, tempat ini adalah rumahnya. Desa Arctos.


Wina menurunkan kendaraannya, ia keluar dan melihat kearah dinding trasparan itu terlihat. Ini ternyata pelindung yang menutupi desa Arctos.


Wina dapat melihatnya dengan jelas. Entah mengapa kekuatannya semakin besar. Setelah ia meminum formula buatan Ethan.


Kemampuan pengelihatannya semakin tajam. Dan ini contohnya ia bisa melihat pelindung dari desa Arctos.


Ia menatap tajam dengan sudut mengembang. Licik.


"Wina?" Sapaan terdengar dari sisi belakangnya. Disana Linka dengan keranjang buah.


"Linka" ucapnya, senyuman ramah ia keluarkan. "Kau sedang panen rupanya, huh" ia mendekati Linka.


"Yah, mengapa kau diam disini? Kau menunggu sesuatu?" Tanya Linka penasaran,

__ADS_1


Wina mengambil apel segar yang ada di keranjang Linka. Lalu memakannya, terdengar gigitan Wina pada apwl segar itu. Garing dan berair.


"Sangat segar, tidak aku tadi hanya penasaran dengan kijang yang hampir kutabrak, saat aku periksa, ternyata ia telah kabur, padahal ingin kujadikan oleh-oleh untuk kalian"


Wina merangkul pundak Linka dan menggiring wanita itu kearah rumah Roxane.


"Kalian apa kabar? Kemana yang lain" Wina merasa sepi, biasanya ia masih bisa melihat Ricky yang sibuk melatih diri. Namun ini sangat sepi


"Baik, kau kemana saja, baru terlihat lagi, mereka sibuk menyiapkan kepulangan Ratu" Mereka telah sampai dirumah Roxane.


Linka meletakkan keranjang buahnya didapur. Bahkan Roxane tak terlihat didapurnya.


"Kepulangan Ratu? Roxane juga?"


"Iya kami semua, ini aku akan menyusul mereka, kau mau ikut?"


"Tak apa aku ikut?" Linka hanya mengangguk, karena Linka mengangap Wina adalah rasnya.


"Iya, kau adalah bagian dari kami" Linka menyimpulkan dari Simon yang membawanya kemari juga kenyataan Wina bisa memasuki desa Arctos. Jika bukan kerurunan dari ras mereka tak akan bisa masuk ke desa Arctos.


"Ayo" setelah ia mengemas buah untuk dibawa ketempat Simon dan yang lainnya berada.


"Kepulangan Ratu?" Tanya Wina lagi.


"Tahap dua, Kesabaran" Linka menjelaskan. Wina menunggu.


"Pengukuhan sebagi Ratu, Bharat sedang menjalaninya, mungkin nanti malam ia kembali dari dunia para Moon Goddess, begitu yang Simon katakan"


"Makanya kami akan memberi pesta penyambutan selamat datang pada ras kami"


"Tahap awal kami tak sempat melakukannya, karena kejadiannya yamg mendadak, jadi kami tak memiliki persiapan apapun, Bahwa, Moon Goddess telah mendapatkan Ratu baru untuk melindungi desa"


Wina mendengarkan dengan tangan mengepal keras. "Harusnya itu tempatku" ia bergumam selirih angin.


"Hah! Kau bicara apa?" Linka membalikan tubuhnya, melihat kearah Wina, sekilas ia mendengar gumaman lirih dari Wina.


"Ah, apa aku tak apa ikut, kejadian terakhir aku kema---"


"Kejadian itu saat Ratu masih baru, ia tak bisa mengontrol kekuatannya, amarahnya saat itu memancing Moon Goddess lain merasuki. Kau jangan menyinggungnya, mungkin sekarang tak akan Ratu sudah bisa mengendalikan kekuatannya"

__ADS_1


"Yah kau juga harus hati-hati jangan menyingungnya"


"Simon juga memperingati Ricky" lanjutnya lagi.


Linka melewati pondok Simon, ia berjalan kearah belakang pondok, dan tampak sebuah hutan gelap. Wina mengikuti dalam diam.


Ia melihat belukar yang menutupi tebing, Linka menyibak belukar yang mengantung dan masuk kedalamnya. Untuk sesaat Wina ragu.


Linka masih memegangi belukar, menyilakan Wina untuk masuk. Namun Wina hanya diam terpaku.


"Ada apa? Tempatnya didalam sini" Linka terheran melihat Wina yang ragu.


"Tak usah takut, tak ada apa-apa didalam sini" Wina beranjak dari tempatnya dan masuk. Gelap.


Linka menyalakan obornya, yang entah ia dapat darimana asalnya. Ternyata ini sebuah gua. Dinding batu dengan tetesan air yang membentuk stalaktit dan stalakmit.


Wina mengikuti dibelakng Linka. Wanita didepannya memasuki lorong dan masuk dalam ruangan dengan pedar terang yang terpancar keluar lorong.


Linka mematikan obornya. Dan ia Wina tercengang melihat bayaknya keindahan yang ada disana. Ia sesaat tak bisa berkata-kata. Tak menyangka ada sebuah tempat seperti ini di desa Arctos.


Pantas saja mereka sangat melindungi tempat ini. "Ini kristal meteor, kekuatan dari desa ini" Linka terus berjalan. Wina meliriknya dan mengikuti Linka secara perlahan


Kristal yang membentuk stalaktit dan slalakmit dengan ujung runcing, sangat indah dan mengerikan.


Mereka keluar dari dalam gua dan disambut sinar matahari yang menyilaukan. Wina menyipit, didepan sana terdapat sebuah desa dengan banyak orang sedang melakukan aktifitasnya.


"Ini pemukiman tempat kami tinggal." Linka menyapa salah satu orang disana.


"Rumah Roxane?"


"Itu seperti pos jaga, garda depan perlindungan desa" Linka memberi tahu tanpa ada rasa curiga.


"Kau bisa mengikuti jalan setapak ini nanti kau akan menemukan mereka di ujung sana, aku akan meletakkan ini dulu didalam" Linka meninggalkan Wina.


Wina memeruskan perjalanannya. Dengan banyak informasi yang didapat dan sedang ia cerna diotaknya. Kembali senyuman liciknya mengembang.


Tangannya mengepal, seringaian miring itu masih menghiasi wajahnya. Tempat yang Linka katakan ternyata tak jauh dari pemukiman.


Menatap tajam pada satu orang disana, Wanita dengan rambut bergelombang dan juga lelaki tua yang menunduk hormat didepannya diikuti dengan orang yang ada di belakangnya menunduk.

__ADS_1


"Selamat Ratu Putih" Wina berdiri ditempatnya, terkekeh lalu mendengus melihat itu. Meremehkan.


 Tbc.


__ADS_2