DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Incaran Braxton


__ADS_3

Camy merasakan walaupun ia telah mendengar Walabi tidak jadi bekerjasama dengan Nokturnal.


Firasatnya mengatakan Braxton tidak akan melepaskan Walabi Corp semudah itu. Ia telah menyampaikan semua pada Esmas, sang ayah angkat, juga Pina dan Kola, kakaknya.


Mendengar bahwa Braxton menawarkan diri untuk bekerjasama. Juga melihat peluang dari pertemanannya dengan El Pinado Collen. Membuat Braxton percaya Walabi tidak akan menolaknya.


Hingga projek yang melibatkan Marzon ua harus membatalkan rapat penting dwngan Walabi dan itu menjadi kesempatan Pina untuk membatalkan kesepakatan sebelum final mereka bekerja sama.


Walabi Corp adalah perusahaan penyedia perangkat lunak, dimana banyak orang hebat didalamnya, mereka yang membuat sebuah sistem untuk memudahkan manusia.


Braxton mengincar Walabi bekerjasama untuk perusahaannya, Braxton Projek. Mendompleng nama Nokturnal untuk iming-iming, agar Walabi tidak curiga. Ia mengetahui kualitas dari Walabi sekarang menjadi nomor satu dalam bidang perangkat lunak.


Walaupun ia bisa membuatnya sendiri dengan timnya, ada maksud lain dalam kerjasama ini, ia ingin tahu lebih perusahaan itu. Setelah dengan isengnya dan menyusupi cctv dan mendapat hal yang terduga.


Jika DarkHole memiliki taman dengan pohon uang berhamburan maka Walabi memiliki berhertar ladang pohon itu.


Dan nilainya entah setinggi apa, ini incaran Braxton sesungguhnya.


"Hudson kapan rapat dengan Walabi?" Braxton mengesampingkan dulu masalah Marzon yang sudah terkurung dalam penjara yang ia rancang khusus.


"Walabi membatalkannya Tuan" Hudson menjawab sambil memperlihatkan surel yang Walabi kirim. Permintaan maaf.


"Sambungkan aku pada pemimpin Walabi, Cepat!" Perintah Braxton dengan rahang mengeras. Ia tidak mengerti mengapa Pina tiba-tiba membatalkan perjanjian dengannya.


"Hai Brax ada apa?" Braxton langsung menghubungi Pina secara pribadi.


"Hai dude, aku minta maaf sebelumnya, membatalkan rapat kita" Braxton bukan orang yang suka basa basi.


"Oh tidak masalah," jawab Pina, benar kata Camy, Braxton tidak melepasnya begitu saja.


"Kapan kami bisa reschedule rapat ulang dengan Walabi? Sambil makan siang? Kau ada waktu?" Braxton harus mendapatkan kerjasama ini. Tidak bisa tidak! Harus!


"Sebentar aku akan melihat jadwalku ... Logan, jadwal?" Pina menjauhkan alat komunikasinya.


"Untuk jadwal kerjaan, tidak ada yang kosong hingga tahun depan, Tuan." Logan menjelaskan.


"Sorry Braxton, jadwalku sangat padat, sampai tahun depan. Maafkan aku ya dude" Pina melihat jadwalnya yang memang sangat padat, mereka sedang dalam posisi atas dan Pina akan mempertahankan itu.


"Okeh, thanks, kabari jika kami mendapatkan slot kosong di jadwal kerjamu" kelakar Braxton dengan didiringi tawa hanya pada mulut namun berbeda dengan ekspresi yang terlihat.


Wajahnya kaku juga garang sambil memandangi cctv yang memperlihatkan Pina duduk dikursinya. Sambungannya terputus. Ia masih melihat ke layar besarnya.


"Pina kau menantangku!" Braxton menaikkan bibirnya, seringaiannya licik.

__ADS_1


Pina membereskan berkas yang ada di mejanya, ia beranjak keluar ruangan, dengan Logan, asisten Pina, mengikuti atasannya.


"Logan, kita disusupi, periksa menyeluruh, serang dengan virus level middle, laporkan secepatnya!"


"Baik Tuan" Logan mengangguk.


Pina menaiki kendaraannya, dan meluncur ketempat Ayahnya, untuk menjemputnya.


"Cam aku perlu bertemu di rumah!"


*


*


*


Mereka telah berkumpul. Dorina sangat senang, Anak gadisnya itu kembali mengunjunginya, setelah sebulan lalu bertemu kembali dengannya.


Dorina dan Dolores dengan cekatan memasak untuk Camy.


"Sayang kau harusnya lebih sering memginjungiku!"


"Aku menunggumu mengunjungiku lagi, setelah kau pulang, dan sebulan kemudian kau muncul dan masalah kerjaan!" Omel Dorina yang tak terima Camy hanya menginjungi suami juga putra-putranya dan membahas masalah pekerjaan.


"Kau tidak kangen dengan ibumu ini, Huh!" Dash yang juga ikut makan siang menggerakan mulutnya 'drama queen' sambil memasukan sendiknya dalam mulut.


"Sayang biarkan Camy makan, ia pasti sangat sibuk di kantornya, makanya tidak sempat kemarikan, Cam?"


Camy mengangguk dengan mulut yanh bergerak tanpa suara, kata terima kasih tergambar disana. Esmas mengerlingkan matanya.


"Oh astaga aku terlalu berdrama, sampai lupa, tambah lagi, nanti aku bawakan untukmu pulang"


"Thank god, atas kesadaran yangbkau berikan pada Mommyku, Ameenn" Kola menangkupkan tangannya di dada, ia sangat suka menggoda Mommynya. Seperti yang lainnya.


Mengganggu ratu drama di keluarga mereka. Tawa hangat menyelingi makan siang mereka. Setelahnya, Camy digiring keruang kerja Esmas, dan Pina menceritakan tentang Braxton pada yang lain.


Esmas bertanya tentang perkembangan Marzon yang hilang dan mereka tercengang dengan apa yang dipaparkan Camy.


Segala penemuannya waktu ia dalam misinya saat itu. Penemuan projek rahasia yang mengerikan.


 "Mengapa ia begitu menginginkan kerjasama ini, sebegitunya?"


Kola membuat semuanya terdiam. Ini yang menjadi pertanyaan besar mereka.

__ADS_1


"Kita harus lebih waspada. Kantor telah disusupi namun kami masih mencari siapa penyusupnya." Saat makan siang tadi Pina mendapatkan laporan dari Logan, memang benar Walabi telah disusupi.


Tapi penyusupnya sangat lihai menyembunyikan diri.


"Terus pantau berkala, rumah ini juga, karena pusat dari perusahaan ada disini" Pina dan Kola saling menganhguk mengerti dengan perintah ayahnya.


"Aku akan menambah shield dari tempat ini, kita bisa minta bantuan dari Simon Solomo, ia yang membuat Shield untuk bukit Rfizt."


"Aku ikuti katamu, adik kecil" Pina mengusap rambut Camy, sesuatu yang membuatnya nyaman.


KLING!


(Laporan penyusup. Kita bisa menyusupinya, saya telah mengirimkan rekaman cctv.)


(The X.file)


Pina mengirim file itu pada layar besar di sana terlihat namun agak buram. Camy mengambil alih dan mulai mengerakkan jemarinya. Ia mencoba membuat gambar terlihat jelas.


Namun tidak bisa. Sepertinya penyusup sangat cerdik. Camy menyusuri alat apa yang penyusup gunakan.


"Ia menggunakan alat apa? Kenapa programku ini tidak bisa digunakan?" Camy frustasi. Ia sangat ingin melihat siapa penyusupnya. Walau tak dipungkiri Camy bisa menebaknya.


"Sini serahkan padaku" Camy menyerahkan dengan wajah terlihat kesal dengan otak yang berputar keras. Ia berdiri dibelakang Kola melihat apa yang dilakukan pria muda itu.


"Ah aku tahu pantas saja, aku tak bisa menjangkaunya." Setelah melihat Kola mengotak-atiknya, Kola menggunakan alat klasik yang sekarang menjadi barang antik dipasar loak.


"Hasilnya memang hitam putih, namun ini lebih jelas. Cerdik juga caranya. Sayang ketahuan dengan mudah." Kola bangga.


"Braxton!" Pina mendesis. Dan dugaan Camy benar adanya. Pria ini tidak dengan gampang melepaskan Walabi.


"Cari tahu, sejak kapan menyusup, dan berikan laporannya padaku!" Esmas merasa ini masalah besar.


"Baik Dad" Kola kembali berkutat dengan jarinya yang lincah diatas keyboard. Ia menyisir penyusupan dimulai.


"Bajiingan sialaan!"  "Ouch!" Maki Kola yang mendapat jitakan dari Pina.


"Hei your mouth!" Kola mengangkat tangannya, lalu kembali menjelaskan temuannya.


"Ia menyusup dalam rumah ini!"


"Diruangan ini, tepatnya dibalik rak itu" Kola menunjuk rak buku, tepat dimana ada pintu menuju ladang pohon uanh milik keluarga Collen.


Mereka menatap dimana telunjuk Kola mengarah, dan mereka saling menatap satu dengan lainnya.

__ADS_1


Mereka telah menemukan incaran Braxton.


tbc.


__ADS_2