DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Wina dan Ritmi


__ADS_3

Wina berkeliling, menunggu itu membosankan. Potka menyuruhnya menunggu, lelaki itu akan melihat keadaan Phoenix Way.


Belum lagi Potka berkata jika ia tak diperbolehkan dekat dengan Morana. Karena itu sangat berbahaya.


Morana itu satuan elit yang bertugas memantau orang-orang terbuang macam dia. Agar tidak membuat masalah.


Mereka yang mengenakan Armor adalah kesatuan elit Phoenix Way. Mereka adalah prajurit hebat. Mungkin Morana terlihat baik dan ramah, tapi itu hanya kedok. Mereka tidak tahu bagaimana jika ia sedang bertugas.


Wina keluar kamarnya, ia benar-benar bosan di kamarnya. Ia turun ke bawah, akan ke ruang tengah. Ruang yang ada pemanasnya.


Wina melihat ada lemari besar dengan banyak buku di sudut dekat jendela. Setidaknya sambil menunggu Potka ia akan menyibukan diri dengan membaca buku-buku itu.


Ia mendengar keributan di lobby, Wina mengintip, Morana kedatangan banyak tamu. Perlahan ia melangkah ke ruangan dengan pemanas.


Ia menuju depan lemari besar. Berdiam. Ia tak begitu paham. Tapi dari judul. Mengejar pangeran buaya? Semalam bersama pangeran Burung Hantu yang arogan? Wedding hurt, dengan gambar pemuda elf dan wanita dari bangsa ular? Ini bukan buku yang ia bayangkan akan ia temukan di lemari besar ini.


"Kau suka novel?" Morana berdiri di belakangnya dengan melipat tangannya. Wina berbalik. Ia belum sempat membuka lemari kayu itu hanya membaca beberapa judulnya. Dan ia tak berminat lagi.


"Tidak terlalu." Wina menjauh dari lemari kayu itu menuju salah satu sofa.


"Ini semua milikku, tapi aku tahu apa yang kau cari" Morana mengayunkan langkahnya mendekati lemari kecil di sebelah lemari kayu itu.


Ia membuka lacinya dan meraih tumpukan buku tebal dengan sampul kulit berwarna merah gelap. Diatas buku itu tertulis Phoenix Way.

__ADS_1


"Ini, buku tentang Phoenix Way,  Kau pasti ingin keluar berkelilingkan? ini peta Phoenix Way" Kucing dengan armor biru itu mengulurkan buku yang memang menjadi tujuan Win.


Wina memangku buku-buku itu. "Kau akan dibuat sibuk oleh Ritmi. Aku tinggal ya" Morana keluar ruangan dan kembali ke tempatnya.


Wina membuka buku tapi sangat susah. Seperti menempel erat. Apa kucing itu membohonginya?


Bahkan petanya pun kosong.


BRAK!


Buku tebal itu melompat dari pangkuan Wina ke atas meja. Ia mendesah. Buku itu hidup. "Kenapa tampangmu begitu? Terkejut? Ah sudah biasa" 


Buku itu berdiri. Ia memiliki mata juga mulut. Wina terdiam pada tempatnya, "Kau penunggu buku?" Buku itu berdecih. "Dasar manusia! Mereka kenapa selalu sok tahu! Tentu aku bukan penunggu aku penjaga!"


"Kau mengerti tidak manusia? Kenapa melamun!" Lagi buku itu mengomel.


"Hei Ritmi ramahlah pada orang baru!" Tegur Morana dari pintu. Ia mendekati Wina dan duduk disamping gadis itu.


"Huh! Buat apa, aku bukan kau!" Ucap buku itu ketus.


"Kenalkan Ini Ritmi penjaga buku dan mengetahui setiap sudut Phoenix Way. Dan Ritmi ini teman baru, aku harap kalian bisa berteman," Senyuman mengembang Morana dibarengi oleh cibiran Ritmi.


Kling!

__ADS_1


"Aku tinggal lagi"


"Kau sangat sibuk sekali Morana, mereka kembali karena penobatan Ratu atau ingin mendapatkan Kristal abadi?" Pertanyaannya yang tak harus dijawab.


"Kau lebih tahukan tujuan mereka kan? Aku ke depan dulu" Morana beranjak dari tempatnya.


"Kau juga pasti mengincar Kristal abadi kan manusia," Ritmi melirik meremehkan pada Wina.


"Manusia? Aku punya nama! Kau pintar tapi harusnya kau bertanya nama orang itu sebelum melabeli seseorang" Wina tak suka dengan cara buku itu.


"Aha kau akhirnya mengeluarkan suaramu manusia, aku kira kau bisu" ucap ketus Ritmi. Buku itu seperti dengan sengaja mencari gara-gara dengannya.


Wina beranjak dari kursinya, ia tak ingin meladeni buku arogan di depannya ini. Lebih baik ia keluar saja.


"Kau harus membawa ku! Tempat ini sangat rawan untuk mu manusia, kau harusnya menyimpulkan kenapa Morana memberimu diriku"


Wina yang tadinya berhenti untuk mendengarkan omongan si buku, menjadi lebih malas lagi. Ia melangkah tanpa memperdulikan teriakan Ritmi memanggil-manggilnya.


"Aku tahu kau ingin menghancurkan penobatan, bawa aku aku akan membantumu" Ucapan buku itu menghentikan langkah Wina. Ia melihat buku itu lama. Dan meraih bersamanya.


"Bagus!"


"Aku suka keributan!" Ucap Ritmi

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2