DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Target Indukan


__ADS_3

"Ini kerjasama yang kita sepakati bukan, oh ... bukan kita, tetapi perusahaan kita" tegas si bongsor.


"Kita ini sama seperti dia di mata perusahaan, kita tinggal menunggu saja kapan waktunya, 00.00, perubahan 100% kembali" si kurus menutup jurnalnya.


"Kita akan lanjutkan besok, hari ini sampai disini, silakan kembali kekamar kalian" perintah si kurus.


Si wanita seksi itu semakin dibuat kesal dengan perlakuan si kurus. Ia dan anggotanya dari perusahaan Walabi keluar tanpa kata.


Si kurus menghela nafasnya, ia memandang wanita didepannya, setelah sebulan, ia menemukan sebuah fakta yang membuat nya terkejut, bagaimana tidak, jika wanita didepannya ini masih memiliki darah yang sama dengan atasan mereka.


Si bongsor menatap temannya yang terdiam itu tahu kemana arah pandangnya. Ia pun sama tidak habis pikir. Setega apa atasannya bisa memperlakukan darah dagingnya sendiri seperti ini.


Ia tidak mengira, awalnya ia sangat takut mengetahui siapa sebenarnya wanita yang terbaring didepannya ini, mereka takut dibunuh.


Bahkan binatang saja melindungi anakanya mati-matian dari musuh. Ini. Memang manusia itu mahkluk paling mengerikan. Mereka sendiri contoh nyatanya.


Tetapi perintah selanjutnya yang lebih mengerikan dari hukuman mati untuk mereka. Atasannya memerintahkan mereka melakukan eksperimen dengan wanita yang ternyata darah daging atasannya itu.


"Ayo istirahat." Si bongsor menepuk bahu temannya. "Kita sudah setengah jalan" si bongsor membereskan jurnal yang berada dimeja. Kemudian melangkah keluar.


Menyesal. Iya, tapi obsesi dan keserakahannya mengalakah rasa kemanusiaannya.


Si bongsor menunggunya di dekat pintu dan mematikan semua sistem diruangan itu. Dan wanita itu sudah kembali kekamarnya semula. Kamar dengan fasilitas yang luar biasa, seperti kamarnya di site sebelumnya.


Kamar temaram yang nyaman berbeda dengan brangkar besi yang dingin diruangan observasi. Wanita itu mengeliat. Ia terduduk. Rasanya sangat pegal. Entah mengapa tubuhnya ini sangat lelah, padahal ia tidak melakukan kegiatan yang memerlukan banyak tenaga.


Dan setiap bangun tidur ia pasti sangat kehausan. Ia meraba nakasnya dan disana hanya ada gelas kosong.


Dengan malas ia melangkah dan melihat ke arah meja juga tidak ada air. Berjalan kearah pendingin mini, ia buka tidak ada apa-apa disana, Ia pun mengarah ke pintu. Dengan sebuah botol besar.


Tenggorokannya kering dan sakit. Tanpa melihat keadaannya ia keluar kamar. Menuju pantri yang disediakan di tengah lantai. Berjalan dengan perlahan. Langkahnya mengema di lorong yang sepi.


Ia masuk dalam pantri. Selain mengambil air ia juga mengambil beberapa makanan beku yang akan ia panaskan dikamarnya. Ia melihat ke bawah, roknya rusak terkoyak.

__ADS_1


Ia menautkan alisnya, roknya, mengapa? Ia berjalan agak cepat, ia tidak ingin ada yang melihat dalam keadaan semengerikan ini.


Ia menempelkan kartunya pada pintu. 893. Nona Becs. Tertulis di atas nomornya. Dia Wina Bronya anak kandung atasan Nokturnal.


*


*


*


Seorang lelaki duduk tenang dengan menikmati segelas wine. Tatapannya lurus pada brangkar besi. Diatasnya sudah ada seseorang di sana yang tangan dan kakinya terikat rantai besi.


Ia menyesap winenya. Ia menunggu lelaki itu sadar. Ia melihat gerakan matanya. Sebentar lagi pikirnya.


Benturan besi dengan besi terdengar. Tatapan tajam lelaki itu terfokus pada seseorang diatas sana yang mulai tersadar.


" ... us " gumaman yang terdengar lirih. Ia belum membuka matanya, ia mengangkat tangannya dan merasakan sesuatu yang dingin juga berat membelenggu pergelangan tangannya.


Ia menyipit, tak kuat dengan sinar lampu yang dengan kuat menyorot pada kedua matanya. Linglung.


Ia menutup mata dengan tangan, dan mencoba mengembalikan kesadarannya. Terakhir yang ia ingat, ia berada di sebuah ruangan dengan Braxton.


Matanya membuka lebar. Dengan cukup panik memutar pandangannya ke berbagai arah.


"Mencariku?" Suara yang Marzon kenali di sudut gelap. Ia hanya bisa melihat bayangan siluet hitam bergerak mendekat. Dan semakin terlihat jelas.


Braxton mendekat dengan tangan masih membawa gelas wine-nya. Sudut bibirnya terangkat melihat kesadaran kakaknya yang cepat pulih. Ia tak mengira.


"Haus ... " lirih Marzon.


"Kau haus kakak?" Braxton lebih mendekati brangkar Marzon, "Ayo kita rayakan kakak" ia mendekatkan gelas wine nya pada mulut Marzon.


Marzon yang kehausan hanya bisa menerima, dengan kasar Braxton membantunya, Marzon yangb masih lemah ia tidak bisa menerima cairan itu pun tersedak, ia terbatuk.

__ADS_1


"Uhghuk ... uhghuk ... hhh ... " Cairab merah itu tercecer dimana-mana. Marzon mencoba mencari nafasnya kembali. ia merasa sakit pada hidungnya yang ikut menghirup wine itu.


"CK!" terdengar decakan Braxton. "Kenapa kau selalu tidak bisa menerima kekalahan kakak?" kesal Braxton yang mulai meracau.


"Kau selalu saja iri dengan keberhasilanku!" raut wajahnya beubah mendung yang palsu. lelaki itu hanya berakting. Ia tak suka meluhat wajah kakaknya yang hanya linglung sesaat saja.


Ia pikir pasti akan ada disorientasi yang lama namun hanya sebentar, ia semakin tersenyum senang, berarti indukan kakaknya ini indukan bagus.


Braxton mengeluarkan sebuah remote dari dalam sakunya, ia menekan beberapa tombol yang ada disana dan tarikan rantai pada tangan dan kaki Marzon menguat. Lalu sebuah tabung kaca keluar dan menutupi seluruh tubuhnya.


"Bedebah! Apa-apan ini!" Teriak Marzon yang memberontak. Braxton menikmati apa yang ia lihat. Kakaknya didalam sana yang memberontak juga dengan suara teredam. Itu ia senang.


"Kau akan tahu nanti" ucap Braxton.


Marzon terus berontak hingga pergelangan tangannya memerah dengan luka goresan.


"Apa yang kau lakukan padaku! Breng seek!" Marahnya. Entah apa yang adiknya ini lakukan padanya. Otaknya memikirkan banyak hal.


"Kau ingin jadi pemberontak kan! Akan aku kabulkan!" Braxton menyesap cairan merah itu.


Mata Marzon memerah amarah juga putus asa merajai dirinya. Ia terus berontak dengan kuat.


"Jangan buang tenagamu, tapi termyata akau tidak salah memilihmu! Kau indukan yang bagus, kakak" Braxton menyesap habis cairan itu lalu menekan lagi remote dan mengeluarkan asap putih pekat yang menyelubungi tubuh Marzon yang terus bergerak semakin liar.


"Indukan" lemah, Marzon dibius. Kesadarannya semakin lama semakin menjauh. Ia terasa mengantuk. Braxton memang menunggu kakaknya itu sadar dan kemudian memperlihatkan keadaan nya, sebelum ia memulainya.


Pintu kaca itu terbuka, asap dingin keluar dengan cepat, dan ada sebuah robot dengan peralatan juga berbagai macam botol kecil berwarna coklat pekat dengan cairan didalamnya. Mata Braxton mengikuti gerakan sang robot.


Braxton kembali ke mejanya. Ia melihat persiapannya. Ia mengenakan sarung tangannya secara perlahan. "Putarkan musik!" Musik klasik mengalun memenuhi ruangan dengan gemanya.


Marzon masih bisa mendengar musik itu dari dalam tabung kaca dengan samar sebelum semuannya hilang bersamaan dengan kesadarannya.


"Satu persatu" Braxton menyentuh gambar didepannya. Tawa Braxton bersautan dengan musik klasik yang ia putar menggema dalam ruangan itu.

__ADS_1


tbc.


__ADS_2