DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Ethan


__ADS_3

Sihir yang Bill beri untuk Ethan meluruh, pria itu mendengar percakapan Bill dengan sesama penelitinya itu.


"Apa yang mereka katakan" pikir Ethan, jadi selama ini Bill yang menghilang kan dan memanipulasi datanya,


Ethan mencoba diam ditempatnya, ia membuka hasil terakhir yang ia perlihatkan pada Bill ternyata sudah tak ada,


Hasil ia mengembalikan potongan yang hilang itu lenyap. Ethan mengeratkan kepalan tangannya.


Obrolan Bill dan Peneliti yang Patrik cari untuk menambah orang pada misi radar ini.


Namanya Vusily peneliti tingkat tinggi sama sepertinya. Dan apa tadi yang Ethan dengar untuk desanya?


Desa siapa? Bill? Bill tak pernah menyinggung masalah desa kerena ia ditinggal oleh orang tuanya dan tim sepakat tak mengungkitnya.


Dan ini apa? Apa yang Bill sembunyikan? Selain tentang rahasia Bill yang paling membuatnya murka adalah hasil kerja kerasnya yang lenyap begitu saja.


Dan tanpa sepengetahuan Bill, Ethan mengkopi data dan menyembunyikannya. Ia akan melakukan pekerjaannya secara diam-diam hingga ia tahu apa yang sebenarnya Bill rahasiakan.


Dan setelah ia tahu, tentu ia akan menggungkapkannya pada Marky dan pastinya ia akan lebih dipercaya oleh pria yang ia kagumi.


Bibirnya melebar, walai hampir tak terlihat, namun Ethan puas dengan rencananya. Ia tak sabar.


*


*


*


Ethan berada di kamarnya, pertama yangbharus ia tahu, projek apa ini? Ia telah menontonya berulang, dan ini hanya radar saja.


Apa yang istimewa hingga Marky, pemilik nomor satu Nokturnal ini terjun langsung untuk mendengar laporan darinya.


Besok adalah hari liburnya, ia akan mengikuti kemana radar ini membawanya.


Yang penting mengembalikan potongan video yang hilang. Ethan menarikan jemarinya di atas keybord, memasukkan banyak kode.


Ia bahkan menggunakan kode-kode yang dilarang. Selagi tak ada yang tahu, ia akan menggunakannya.

__ADS_1


Tangannya terus bergerak, tanpa jeda, hingga ia mendapatkan hasil yang ia inginkan.


"Tunggu sedikit lagi" entah apa yang Ethan lakukan. Ia seperti berkejaran dengan sesuatu.


KLIK!


"Yeah ... " ia langsung berlari kekamar mandi. Iya menuntaskan segalanya. Tubuhnya bergidik. Akhirnya.


Ia keluar kamar mandi dengan wajah sumringah, dan menuju pantrynya. Menyeduh kopi mungkin bisa membuatnya releks.


Didepannya terdapat benda yang tertutup kain tipis. Ia menyingkap kain itu. Wajahnya sumringah.


Ia mengelus perlahan, dingin. Ia menampilkan layar hologram, "Music On" dan suara kencang terdengar di seluruh kamarnya. Ia menggoyangkan kepala dan pundaknya.


Mengambil cup kopi dan memasukkan pada gusto. Cangkirnya telah terisi expresso, ia menuang expresso pada cangkir lebih besar, ia berlari kecil kearah lemari es dan dua scoop ice cream ia letakan dalam cangkir besar lalu menuangkan cairan expresso kedalamnya ... Viola affogato siap!


Ia melangkah ringan kembali ke depan layar-layarnya. Ia melihat progres peng Uploadan data menunjukan sudah 70 persen. Tinggal sedikit lagi.


Ethan menyesap kopinya. Merasakan aliran cairan hitam pahit bercampur dengan gurih manis, membuat sudut bibirnya terangkat.


Ethan beranjak dari tempatnya, ia mengambil sebuah berkas. Dan mencocokkan.


Raut senang tergambar diwajahnya. Ini. Apa yang Marky cari. Lelaki itu telah menemukannya. Tapi agar terbukti solid, Ethan bersabar menjnggu proses yang sudah mencapai 85 persen.


Kembali ia menggoyangkan kepalanya. Ia merayakan keberhasilannya. Gelengan kepalanya berhenti, apa ia terlalu cepat untuk merayakan keberhasilannya? Tentu tidak! Ethan membesarkan volume musik nya.


Klink! Klink! Klink!


Peng-upload-an data telah 100%, ia akan mulai, bersiap lah, ia akan menyelesaiakan apa yang tak selesai. Ia merenggangkan kepalanya kekiri dan kanan, merenggangkan jari-jarinya. Dan kembali tangannya dengan lincah bergerak.


*


*


*


Wina ingin masuk dalam desa Arctos, namun ia harus melewati beberapa penjagaan. Wina bersihleras bahwa ia sering ke desa Arctos pada penjaga. Namun penjaga tetap melakukan prosedur yang telah ditetapkan.

__ADS_1


Ia medasa sangat iri dengan Bharat. Harusnya ia yang berada di posisi Bharat menerima semua perlakuan yang luar biasa ini.


Dengan kesal ia mengambil tanda pengenalnya. Dan ia melihat beberapa dari mereka berjalan ke arah yang berbeda dengan desa Arctos. Wina mengikuti dengan mendengar omongan orang di depannya.


"Kau pulang karena kristal abadi?" Sosok rambut panjang.


"Yah apa lagi, karena selentingannya, bulan saat itu akan sangat dasyat kekuatannya, aku tak akan menyiakannya" sosok berambut pendek.


"Sama, tak sabar kekuatan apa yang akan aku terima" seorang dengan topi.


Wina semakin penasaran. Kemana mereka akan pergi.


Batu kristal? Acara apa yang akan mereka rayakan, Wina mengikuti arus antrian. Ia berada pada cermin besar, ia hanya melihatnya, tidak langsung masuk pada cermin, sebelum petugas datang karena antrian berhenti tanpa adanya pergerakan. Seseorang menyeret tangannya dan menarik masuk dalam cermin itu.


Mereka berada pada keramaian. Wina masih dalam gandengan orang itu. "Ini dimana?" ucap polos Wina yang melihat keadaan ramai sekelilingnya.


Banyak orang berlalu lalang, dengan wajah, wajah bahagia, layaknya festival kembang api atau sebuah pasar malam.


Banyak pedagang di kanan kiri, ada yang bermain, anak-anak kecil berlarian. Sungguh pasar malam yang menyenangkan.


"Kau haus?" Suara orang yang mengandeng, Wina tak tahu siapa sosok itu, karena mantel tudung yang ia kenakan.


"Kau mau membeli sesuatu?" tawarnya lagi, Wina masih linglung, disorientasi tempat. "Boleh aku melihat itu?" Wina menunjuk pada lapak liontin, sosok itu mengangguk.


Wina ditariknya mendekat lapak itu. Wina melihat liontin itu dnegan seksama, ia teetarik dengan kilauannya.


"Kau mau?" tanya sosok itu.


"Sayang aku tak punya uang," jawabnya dengan merengut. Ia tak memiliki apapun disini.


"Ambil yang kau mau" Wina seperti bocah kecil yang mendapat balon.


"Boleh?" wajahnya menengok kearah sosok itu.


"Potka?" ia dapat melihat wajah dari sosok yang menariknya.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2