DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Bharat dan Dragon eye


__ADS_3

Tempat tahapan selanjutnya berada di gua kristal meteor. Bharat mengikuti Simon. Mereka hanya berdua tidak seperti sebelumnya, Simon melewati tempat adanya kristal-kristal.


Bharat mendongak ia memasuki sebuah pintu dan dibaliknya terdapat patung-patung, menyerupai Haiyla salah satunya.


Apa ini tempat pemujaan? Ia melihat ada banyak beton dengan api yang menyala diatasnya. Penerangan tempat ini.


Juga ada patung singa bersayap di kanan kiri menyambutnya di pintu masuk.


"Aku hanya bisa mengantarmu samapai sini" setelah itu Simon berbalik dan meninggalkannya sendiri.


Bharat masih mengamati sekitarnya. Ornamen berbagai simbol tergambar di dinding. Cukup membuat Bharat bingung apa yang harus ia lakukan sekarang.


Namun tak lama sebuah dinding bergeser. Telihat pintu disana. Ia hanya manatap pintu itu. Ia menunggu perintah Haiyla, tapi tak ada suara apapun yang ia dengar.


Bharat mengambil keputusan ia akan mengikuti kata hatinya saja. Berdiri, menunggu tanpa melakukan apapun juga membuatnya bosan.


Bharat melangkahkan kakinya kearah pintu. Ia melongokan kepalanya kedalam. Gelap. Bharat menyakinkan diri. Ia harus masuk.


Kakinya berjalan masuk.


BLAZT!


BLAZT!


BLAZT!

__ADS_1


Seketika obor menyala dengan sendirinya. Makin masuk kedalam satu-persatu obor yang menempel pada dinding menyala.


Seperti menunjukan jalan pada Bharat. Ia berjalan mengikuti arahan obor yang menyala.


Ia harus berbelok diujung sana. Bharat kira ia salah, karena dari tempatnya hanya terlihat jalan buntu, tapi saat Bharat mendekatinya ada lorong kecil yang tersembunyi. Dan saat Bharat berbelok, banyak tangga menyambutnya. Tangga yang mengarah ke atas.


Bharat mendongak. Melihat sebanyak apa ia akan menapaki tangga-tangga itu, Bharat mendesah. Ujian tahap selanjutnya telah dimulai, pikirnya.


Bayangkan tangga mengelilingi ruangan persegi yang tak terlihat ujungnya karena gelap melingkupinya.


Bharat pasrah. Ia segera menapaki tangga-tangga itu, agar misi ini cepat selesai. Seperti tadi obor-obor yang berada didinding mulai menyala satu per satu.


Bharat menapaki satu-satu, sesekali ia melongok ke bawah yang nuga gelap karena setelah ia menapaki obor yang berada di belakangnya akan mati.


Tak tahu sudah sejauh apa ia menaiki tangga ini.


Kepalanya seperti terantuk sebuah batu. Bharat mendongak. Ia tak menemukan apapun diatas sana.


Lalu Bharat mencari sesuatu yang mengenai kepalanya. Berkilau di ujung tangga dekat kakinya. Bharat meraihnya.


Sebuah batu kristal dengan berwarna warni ditangannya. Petunjuk kah ini? Lalu?


Zlink!


Terlintas di otaknya. Keteranganbtentang batu ini. Ia pernah membacanya dalam buku yang ia pelajari sebelum kemari.

__ADS_1


Batu ini sebuah kunci. Bharat bergegas ia menjadi bersemangat mencari lubang kunci di sekelilingnya.


Ia melihat semakin lama tembok itu jadi kotor bsrlumut, ternyata dia telah masuk dalam ruangan yang lain. Bharat tak peduli sekarang yang ia lakukan adalah mencari di mana bentuk yang pas dengan batu kristal itu.


Setiap Bharat menemukan lubang ia akan memasukan batu itu. Ada yang kebesaran, kekecilan dan ada yang pas tapi tidak menimbulkan reaksi apapun.


Bharat terus mencari. Dengan belati yang ia bawa, Bharat menyingkar tanaman rambat uang menutupi dinding ruangan ini. Peluh mengaliri dahinya.


Ia meraup tanaman itu lalu menebasnya. Dengan teliti Bharat mencari lubang pas untuk batu itu. Entah mengapa ia sangat yakin ini sebuah kunci.


Ia mendekat, menyibak lagi tanaman rambat itu. Ia menemukannya, sebuah lubang ditengah dinding.


Senyuman terlihat diraut wajah Bharat. Dan tak pelu waktu lama Bharat menempelkan batu kristal itu. Dan muncul pintu lain. Suara dengungan seperti lebah.


Portal, batin Bharat.


Bharat meneguhkan sikapnya, ia mengangguk, ia siap, dengan apapun yang ada di balik portal itu. melangkah masuk.


Ia menapaki rerumputan. Dengan bebatuan besar yang ditutupi lumut disekelilingnya.


Ini seperti negeri diatas awan. Kepulan kabut menutupi pangelihantannya. Banyak bangunan berbentuk aneh warna warni disekeliling pepohonan.


Ia berdiri memandang takjub pada apa yang dilihatnya. Ia seperti melihat Bangunan warna warni seperti batu yang tadi menjadi kunci itu, layaknya bebatuan dengan kabut seperti aliran sungai, ini indah.


"Selamat datang Ratu Putih, di Dragon Eye," Suara wanita yang tak Bharat kenal terdengar. Ia mencarinya.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2