
Braxton mengaduk pumpkin supnya, tanpa sedikitpun memasukkannya ke dalam mulut. Dalam otaknya banyak rencana yang ia rancang.
"Kau bisa mengajak kami berkeliling, aku melihat iklan di televisi, ada pasar malam, aku ingin kesana" ia menghentikan tangannya mengaduk sup berwarna oranye itu.
Ia sejak tadi tak berselera. Willow terheran melihat atasannya itu. Ia tahu Braxton bukan tipe penyuka pasar malam, yang ada diotaknya hanya lah kekuasaan dan bagaimana merebut apa yang ia inginkan deri orang lain.
Willow dengan perlahan menyuapkan sup hangat dalam mulutnya, ini sup sangat lezat. Dan tatapannya sesekali melirik atasannya yang bibirnya tertarik keatas.
"Oke, aku akan mengantar kalian berkeliling tapi jalaian harus bertemu dengan tetua disini"
Alamira mengelap bibirnya. Ia menyudahi sarapannya dan memberitahu Salim untuk mengantar Braxton dan Willow kekamarnya setelah mereka selesai sarapan.
Willow berada dikamarnya, ia seperti terpenjara. Mengitari kamar. Ia ingin menjelajah keluar namun Alamira tak membiarkan mereka bebas berkeliaran sebelum bertemu dengan Tetua tempat ini.
Lebih baik ia melemaskan ototnya. Berolahraga dengan pemandangan dijendela, nafasnya terengah, melihat jam, ternyata masih lama, waktu yang Alamira janjikan bertemu dengan tetuanya.
Ia telah membersihkan tubuhnya dari lengket peluhnya. Dan Ia akhirnya merebahkan dirinya. Bergelung dibawah selimut tebal dan hingga kantuk datang.
Bel terdengar, membangunkan Willow. Wanita itu terduduk dengan mengumpulkan nyawanya. Kantuk masih menganduli kedua kelopak matanya.
Ia membuka pintu, Alamira sudah berada didepan pintunya.
"Ayo kita akan bertemu tetua." Ucap Alamira.
"Sebentar berikan aku semenit untuk mencuci wajahku." Willow bergegas kekamar mandi. Ia menyalakan keran air dan membasuh wajahnya.
Ia berkaca dengan mengeringkan wajahnya dengan handuk. Ia tampak segar. Dan beranjak ketempat dimana Alamira dan juga Braxton sudah siap menunggunya.
__ADS_1
"Lekas, setelahnya aku akan mengantar kalain ke pasar malam, Tetua memberi ijinnya pada kalian untuk mempelajari dunia ini." Ucapan Alamira merupakan angin segar untuk Braxton. Dan sudut bibirnya mengembang.
"Cepat" Braxton berucap.
"Kau sungguh ingin ke pasar malam itu, ketua?" Willow mulai bertanya tentang penasarannya pada sikap Braxton ini.
"Iya" jawab singkat Braxton.
Tak lama mereka melihat Salim berada didepan sebuah pintu raksasa yang amat kokoh.
Salim membuka pintu itu. Dan sebuah aula besar menyambut mereka. Aula dengan banyak obor di sudut-sudut tempat menghiasai aula besar itu.
Mereka melihat sederet sosok menunggu mereka. Ada sekitar lima orang yang duduk disinggahsana mereka.
Braxton memperhatikannya satu persatu. "Selamat datang di High Majesty, untuk kalian berdua"
"Tenanglah Dios, kau tak sopan pada tamu kita" ucap Alodron.
"Sudah hentikan dan buat ini cepat Alodron, aku masih ada keperluan lain" Joval ikut menyela.
"Baiklah kawan - kawan, aku percepat saja, kalian berdua akan aku beri kalian sihir buatan, dan kalian akan bisa keluar masuk dengan bebas"
Dan kemudian sosok yang bernama Dios juga Joval berdiri dan meninggalkan kursinya.
"Jadi kalian bisa bebas berkeliaran disini, tapi sama seperti didunia kalian, disini juga ada penganggu"
"Sudah kau bisa mengantar mereka kemana yang mereka mau Alamira"
__ADS_1
"Baik Tetua"
Alamira pun menunduk hormat dan meninggalkan tempatnya.
Brandon dan Willow tak menyangka tetua yang tadinya ia pikir sangat menakutkan ternyata konyol. Hah! Tetua? dengan kelakuan mereka yang begitu?! Kekanakkan, cibir Willow dalam hati.
"Jangan meremehkan mereka, yang kalian lihat tadi hanya sedikit tentang mereka"
"Tapi itu konyol, aku kira akan semenakutkan Marky, ternyata hanya kumpulan---"
BRUG!
"Hhugh ..."
"Kumpulan apa?" Alamir juga Salim menghimpit tubuh Willow ke dinding, dengan siku dan tangannya memegang belati tajam dan berkilat yang ia arahkan ke leher Willow. Suara wanita itu mengancam.
Willow terbelalak. Ia tak menyangka Alamira dan Salim akan menyerangnya.
"Jika kudengar kau berkata tak pantas tentang tetua, kau akan menerima akibatnya!" Ucap Salim yang melihat tubuh Willow bergetar tak terima.
Mereka masih dalam posisi seperti itu. Kemudian Salim melepaskan diri. Dan kembali berdiri di belakang Alamira.
"Jaga perkataanmu wanita! mungkin bukan hanya kami yang akan merobek mulutmu dengan belati tapi orang lain di sini" peringatan Salim.
Alamira juga menjauhkan belatinya. Ia masih menatap Willow tajam.
Braxton selalu menjadi pengamat, ini bukan waktunya berulah, nanti, bukan sekarang, ia menaikkan sudut bibirnya. Membayangkan rencana dalam otaknya.
__ADS_1
Tbc.