
"Si,silakan Yang Mulia" dengan tubuh yang bergetar, takut. Regulas menyajikan minuman untuk Marzon, dari sekumpulan rasnya yang mengintip dari lantai atas ia tahu bahwa Marzon adalah raja dari tempatnya berada.
Pantas tak mempan dengan sihir hipnotis yang mereka gunakan. Dengan santai Marzon menerobos barier yang telah dibuat oleh nenek moyang mereka.
Puluhan mata mengintip dari segala sisi kearah mereka, Marzon bisa merasakannya.
"Sekarang berceritalah, hilangkan kebosananku" ucap Marzon. Ia ingin tahu tentang cahaya ilusi ini. Mengapa banyak dari mereka diluar sana ketakutan masuk kemari.
"Cer,cerita apa Yang Mu,Mulia" Regulas tergugup. Rasa ketakutan juga rasa bingung menyegrapnya.
"Tentang mereka yang takut akan masuk kedalam cahaya ilusi." Regulas melebarkan matanya, ia susah payah menelan salivanya.
"I,itu ... itu ... " ia terbata.
"Kalian menghipnotis mereka" tebak Marzon.
Regulas memalingkan pandangannya, ia ketahuan, tak berani menatap Marzon.
"Regulas, kalian tak usah takut, aku akan melindungi kalian" Entah mengapa Marzon merasa dorongan kuat mengatakan kesediannya membantu ras kerdil ini.
"Suruh mereka turun, aku tak akan memakan kalian" Marzon terkekeh, Regulas bergidik ngeri dengan candaan Marzon.
"Aku menunggu, panggil mereka semua kesini, Regulas" lagi, Marzon melihat adanya sedikit pergerakan, ia masih menunggu.
Marzon meraih cangkir dan menyesapnya, "Hem ... apa ini? Rasanya menyegarkan." Kembali Marzon meneguk cairan itu hingga tandas.
"Aku ingin lagi" ia menyodorkan cangkir kosong pada Regulas dengan wajah terkejut.
__ADS_1
"Sebenarnya air apa itu?" Regulas bukannya jahat, ia hanya ingin melindungi rasnya saja. Kebiasaan.
Itu adalah cairan kejujuran. Akan bereaksi pada tubuh mahkluk yang memiliki niat jahat saat masuk kedalam cahaya ilusi.
Sama seperti Marzon yang berubah wujud menjadi manusia, ternyata ia sama sekali tak memiliki tanda-tanda manusia jahat. Terbukti dengan tak terjadi apapun pada dirinya setelah meminum cairan itu.
Efek yang paling terlihat, setelah meminum cairan itu, jika mereka memiliki niat jahat, mereka akan merasa ketakutan yang amat sangat dengan apapun yang mereka takuti.
Lalu mereka akan linglung. Dan saat keluar, didalam ingatan mereka, mereka bertemu dengan sesuatu yang membuat mereka trauma.
Makanya mereka yang berhasil keluar pasti membawa cerita menyeramkan dan cerita itu akan menyebar dari mulut ke mulut ke semua penduduk dunia bawah diluar berier cahaya ilusi.
Setelah menyadari Marzon tak berubah, mereka sedikit demi sedikit mendekat, bahkan ada sosok berlari kearahnya, ia memiliki tubuh lebih kecil, mengenakan rok tutu berwarna merah jambu dengan rambut pirang panjang yang dikepang dua, juga pita senada dengan rok tutunya. Ia berdiri didepan Marzon.
Tampangnya lugu, ia tersenyum pada Marzon.
"Raja, kau Raja dunia bawah?" Tanyanya polos.
Bocah kecil itu berjalan, berdiri didepan kursi yang terlihat besar didepannya. Dengan agak susah bocah itu memanjat kursi disebelah Marzon.
"Aku Sibra," mengenalkan diri. Setelah ia telah berhasil duduk ditempatnya. Banyak yang penasaran dengan interaksi si bocah dengan Marzon, mereka semakin mendekat, ingin tahu apa yang bocah kecil itu lakukan.
"Cairan yang kau minum itu adalah cairan kejujuran Raja, siapapun yang meminum itu pasti akan menjadi monster mengerikan dan akan memangsa kami, anak kecil. Mom selalu mengomel jika aku berdekatan dengan monster-monster itu" Marzon menatap kearah Regulas mencari pembenaran.
Regulas sekali lagi, membuang tatapannya kesembarang tempat.
"Jadi apa kau takut dengan ku? Aku telah meminum cairan kejujuran itu."
__ADS_1
Sibra hanya menggeleng, "Kau berbeda dengan mereka, para monster itu"
Ia memilin rok merah jambunya. "Berbeda?"
"Iya ... kau tak mengamuk dan jahat, jadi kau benar seorang raja?" Tanyanya lugu.
"Aku Raja baru dunia ini" Marzon agak canggung menyebut dirinya Raja. Namun melihat dan merasa lebih dekat dengan salah satu ras didunia bawah, selain Rooth membuat hatinya senang.
Ia mengelus kepala Sibra. "Jadi kalau aku tak menakutkan, apa kita bisa menjadi teman?"
"Kau mau menjadi temanku" pekik Sibra kesenangan.
"Kau seorang raja, dan tempatmu ... jaauuuhhh ... disana" ia menunjuk barier itu.
"Iya, nanti aku akan membawamu ketempat tinggalku" Marzon melihat, ia sudah dikerumuni oleh bangsa peri. Ternyata mereka banyak dan bermacam bentuk. Yang sama, hanya kuping mereka yang meruncing keatas. Dengan tubuh yang mungil kecil.
"Kata Mom, disana berbahaya, aku tak bisa" Sibra menunduk dengan suara lirih. Marzon kembali menatap Sibra bocah kecil itu tertunduk lesu dengan tangan memilin ujung rok tutunya.
"Kenapa? Aku bisa membawamu kesana, kalau kau mau"
"Benarkah!" Sibra mendongak cepat padanya dengan mata berbinar.
"Tak bisa!" Seruan kencang terdengar dari ujung, ia melihat, ras peri dengan tongkat ditangannya yang membantu ia berjalan, pria tua mengenakan kacamata, ia melangkah ke depan Marzon. Wajahnya terlihat marah.
Tampak juga dibelakangnya seorang wanita mengepalkan kedua tangannya didada, ia terlihat mencemaskan sesuatu.
"MOM" Sibra turun dari kursinya segera. Dan ibunya mernyangkan tangannya dan mendekat erat Sibra. Ia sangat ketakutan Sibra terlalu dekat dengan mahkluk asing yang sedang menikmati cangkir ketiganya.
__ADS_1
"Granpa D" guman lirih Regulas.
Tbc.