
Marzon berada di kubangan lumpur, danau ini serasa familiar untuknya, ia sudah memasuki misi selanjutnya.
Kubangan yang ia sebut danau penuh lumpur itu, hampir memakan semua tubuhnya.
Marzon terus berjalan melintasi tengah-tengah danau tujuannya adalah meraih lempengan yang berada ditengah danau. Misinya kali ini.
Ia tetap waspada. Karena tak tahu apa yang akan menyerangnya. Ia ingat dengan Rooth.
"Ada apa Yang Mulia?" Terdengar suara dari dalam kepalanya. Marzon terkejut.
Apa ini merupakan muslihat tempat ini.
"Yang Mulia apa anda ada dalam misi? Apa anda butuh bantuan saya, Yang Mulia?" Rooth bertanya dengan intens. Sudah lama ia tak lagi bertemu dengan mahkluk itu.
"Kau benar Rooth?"
"Saya Yang Mulia."
"Sebutkan kau pertana kali mengajakku berkeliling, kau mengajakku masuk kemana?" Marzon masih tidak percaya, takutnya ini adalah tipu muslihat dari tempat ini.
"Cahaya Ilusi"
"Okay, kalau aku ingin meminta batuanmu saat ... ini ... apa kau ... bisa kemari?" Tanpa sadar ia berjalan semakin dekat dengan tujuan juga lumpur yang semakin dalam, lumpurnya seperti melahap Marzon.
"Baik Yang Mulia"
Tak berapa lama Marzon merasa tubuhnya terangkat. Lumpur telah menutupi sebagian wajahnya. Ia memijak dahan pohon membawanya ke tengah-tengah danau.
__ADS_1
"Terimah kasih Rooth"
"Sama-sama Yang Mulia." Marzon melanjutkan misinya. Gemuruh dibarengi dengan gempa. Menghentikan langkah Marzon. Ia menjadi lebih waspada.
Teriakkan melengking terdengar saat Marzon kembali melanjutkan misinya. Ia mengangkat lempengan itu. Gempa menjadi guncangan. Dari tepi-tepi danau, terlihat pusaran lumpur yang meletup-letup.
Dan dari sana keluar akar-akar pohon yang meliuk panjang diudara. Daratan yangbada ditengah danau, tempatnya berpijak bergerak naik. Dan pijakannya menjadi miring.
Marzon melompat dengan lempengan yang berada ditangannya, ia melompat tergesa ke arah dahan Rooth.
Dataran ditengah danau adalah sosok penjaga danau lumpur ini. "Mahkluk apa itu?" Rooth membawa Marzon menjauh.
"Namanya Mold, ia penjaga danau lumpur ini Yang Mulai, tampaknya ia marah."
Krak ...
Krak ...
Krak ...
Akar yang meliuk itu mulai menyerang Rooth. Rooth dengan sigap menepis serangan dan melindungi Marzon.
Marzon menggunakan sihir yangbia pelajari sebelumnya. Tangannya menggambar pentagram dan bibirnya melafalkan mantra.
Sigil itu meluncur kesalah satu dari ketiga sosok Mold. Dan menghanguskan sebagian tubuh sosok itu.
"NGIIIIING!!!!" Lengkingan menyakitkan kuping terdengar. Kembali Marzon mendapatkan celanya.
__ADS_1
Ia menyerang dengan sigil dan pentagramnya. Rooth membantu menangkis, berbagai serangan akar meliuk.
Akar meliuk menyerbu Marzon dan Rooth. Rooth lengah, akar meliuk itu membebat tubuh Rooth. Membawanya masuk tenggelam dalam lumpur yang seakan hidup.
Akar itu melilit kuat dan menarik Rooth hingga tubuhnya tenggelam setangah. Marzon mengerahkan kekuatannya. Ia menggambar pentagram yang lebih kuat.
Dari pentagram itu muncul sebuah oedang dengan cahaya kuning jeemasan yang menyilaukan. Pedang berukuran besar itu terasa ringan di tangan Marzon.
Dengan membaca beberapa mantra ia mengnyabetkan pedangnya pada tubuh ketiga Mold itu.
Tak berapa lama ledakan besar terjadi. Ketiga tubuh Mold itu meledak. "Yang Mulia kau harus menghunuskan pedangmu ke lempemgan yang kau ambil"
Marzon mengambil lempengan yang ia simpan meletakkan dekat kakinya. Ia memainkan pedangnya sebelum menancapkan pada tengan lempengan itu gemuruh terdengar dari langit, kilat menyambar silih berganti.
Marzon mengacungkannpedangnya ke arah langit. Langit terbelah petir seketika menyambar pedang Marzon.
Kilatan menyilaukan mata terpancar dari pedang Marzon yang berganti rupa. "Selamat Yang Mulia, Anda lulus dari Misi ini" ucapan itu keluar dari mulut Rooth.
Tak lagi ia memandang rendah Rajanya ini. Bukti yang ia lihat sudah cukup membuatnya mengakui kekuatan yang Marzon miliki.
Hecate mengutus Rooth menjadi pemandunya dalam dunia bawah, bukan tanpa alasan.
Semua yang ia kenal bisa membantu dalam misi yang akan ia lewati dalam penobatannya menjadi Raja.
Marzon menatap kagum pedang dengan sinar biru keemasan yangbmasih berada di tangannya.
"Ini adalah bekalmu, kedepannya kau bisa menggunakannya, dan Misi akan semakin menantang dan aku percaya padamu, kau pasti bisa melewatinya, jangan mengecewakanku" itu pesan yang Hecate katakan padan Marzon.
__ADS_1
Tbc.