
"Ayo keluar, makan malam siap" Ricky tak biasanya membawa nampan berisi makanan untuknya. Saat ini mereka malah mengundangnya untuk makan malam bersama.
Ethan berjalan kikuk. Kebingungan melandanya. Dan entah mengapa setelah gagal menghubungi teman-temannya untuk meminta bantuan di hari pertama ia disekap.
Ia tak lagi mencoba berusaha menghubungi mereka. Pikiran berputar kepada Marky pernah menghancurkan desa ini. Pemukiman yang ia lihat.
Orang yang ia kagumi sebagai orang yang memotivasinya untuk belajar giat menjadi peneliti ternyata melakukan hal yang sama dengan orang yang menghancurkan tempat tinggalnya dulu.
Didalam kamar kayu itu Ethan banyak merenung. Tentang Marky. Ia bos besar, pemilik Nokturnal tak mungkin tangannya tak kotor.
Memikirkan banyak dan kepercayaan pada Marky mulai terkikis. Ia pikir ia akan disiksa dan disuruh mengaku nyatanya.
Ia hanya dikurung saja. Juga hanya bisa melihat keluar dan mengintip para penyekapnya berkegiatan seperti kebanyakan orang normal lainnya.
Ia mengikuti Ricky. Suara gaduh terdengar pada ruangan yang Ricky masuki. Ia berdiri pas di pintu. Rasa canggung menyelimutinya.
"Masuklah dan cari tempat dudukmu" Pria tua melihat dirinya dan melipat korannya, ia seperti menunggu dirinya, Ethan berjalan perlahan, ia melihat kursi kosong, ia menggeser kursinya perlahan lalu duduk.
Plak!
"Aduh!" Ricky ingin mencomot satu Strawberry. Tangannya di tepis oleh Linka.
"Nanti"
"Pelit" lalu ia duduk di tempatnya. Ethan duduk berhadapan dengan wanita rambut sebahu. Yang hanya tersenyum tipis padanya.
Disebelah kirinya, ada wanita berkulit hitam, yang baru saja menyeret kursi. Disebelah kanannya masih kosong.
"Kau … orang yang tersesat itu ya? Kau di nokturnal bagian apa?" Ethan menatap wanita itu, ia ingin menjawabnya namun bingung, apa ini waktunya ia akan dipaksa mengaku?
"Jo nanti dulu bertanyanya, kita makan malam dulu" mendengar itu perkataan pria tua itu, Ethan menjadi lebih gugup.
"Baik Simon, kita ikuti dulu kemauan si tua" bisiknya pada Ethan dengan terkekeh.
"Joana! Aku mendengarmu, anak muda!" Simon melirik Jo dari sela-sela kacamata bacanya. Yang dilirik membuat kode, ia mengunci mulutnya, ia menarik tangan Ethan dan memberikan kunci tak kasat matanya pada telapak tangan Ethan.
Kikikan dan kekehan terdengar, suasana seketika menjadi lebih hangat.
"Sudah, semua nya mari makan"
Setelah Pria tua yang dipanggil Simon itu mempersilahkan. Mereka mengisi piring mereka dengan makanan yang terhidang di tengah meja.
"Astagah siapa yang membuat kalkun ini!" Seruan terdengar pada ujung meja. Pria dengan tato tribalnya membanting sendoknya dipiring.
"Aku! Kenapa?" Ucapan wanita tua yang menantang kembali lelaki itu.
"Roxane aku padamu! Ini enak sekali!" Ia mengambil satu paha kalkun dan mengigitnya dengan brutal.
__ADS_1
"Jordan kau berlebihan" celetuk lelaki lain dimeja itu.
"Dasar!"
"Maaf terlambat, aku tak kehabisan kalkun panggang Roxane kan?" pria dengan badan besar menggeser kursi sebelah Ethan.
"Tuh sudah di incar oleh Jordan"
"Manuel kau harus bersaing denganku!" Mereka saling melotot satu dengan yang lain, dan saling melempar kacang polongnya.
"Hentikan! Makan itu kacang polong, jangan berdalih saling berebut kalkun dan membuang-buang sayuran! Makan sayuran itu dengan kalkun kalian sekarang atau aku ambil kalkun kalian!" Ancam Linka.
Dan kedua pria kekar itu menurut dan memakan makanan mereka walau masih sesekali saling melempar sayuran yang tidak mereka sukai.
"Sstt … maklumi saja, mereka memang selalu ribut. Oh iya aku Joana, kau sudah lama masuk ke Nokturnal?" Jo memiringkan kepalanya, menatap pada Ethan.
"Iya sudah 6 tahun," ia menyendok mash potato-nya. Rasanya masuk dalam selera Ethan. Lebut, krimy dan gurih.
"Marky memintamu untuk membuat radar itu?" Etah tak terkejut mereka karena ia telah menemukan Rush yang di tidur panjangkan. Tak perlu lagi ia capek-capek untuk berbohong.
"Tidak, aku hanya melanjutkan yang sudah ada" ucapnya.
"Ini makanlah yang banyak" Manuel meletakan lembaran daging kijang panggang, lalu menuang kan gravynya.
Ethan hanya mengangguk dan ia akui daging kijang dan gravy ini sangat lezat, ia sudah pernah mencoba beberapa kali.
Ia mengiris daging itu dan menyelupkannya pada gravy. Menikmati daging yang lembut bercampur saus yang gurih manis. Rasanya memang lezat.
Bukan keturunan asli desa Arctos tapi ia dibawa oleh Nokturnal. Ia diasuh dan dibesarkan di panti asuhan di Nokturnal, ia juga salah satu anak yang pernah tinggal di Hide Dome, ingatannya menghilang namun ia mendapat doktrin bahwa keluarganya tewas dan desanya hancur.
Makanan dipiringnya tersisa setengah, dan Jo menyendokan casserole udang pada piringnya. "Coba ini, kau akan suka aku jamin ini casserole ter the best" Jo bangga.
"Kau memuji masakanmu lagi Jo, dasar Narsistik!" Celetuk Almaz ia suka sekali menggoda Joana.
"Heh! Aku memang memuji masakanku dan memenga nyatanya rasanya sangat lezat" balasnya percaya diri,
"Dan semua yang ada disini menyetujuinya kan?" Mereka yang ada di meja makan mengangguk.
"Tidak! Aku tidak! Bahkan Ethan pun belum mengakuinya" Jo menatap sengit Almaz yang terkekeh.
"Ethan cobalah dan katakan apa pendapatmu!" Joana menatap Ethan yang menatap Jo dan Almaz bergantian.
"Makan saja Ethan, Kalau kau tak punya alergi makanan laut" ucap Almaz.
"Hah! Kau alergi makanan laut?" Joana menarik bahu Ethan dan dia menggeleng, Joana lega.
"Tapi aku tak suka karena amis" tawa Almaz meledak kencang, membuat Joana cemberut.
__ADS_1
"Ah akan aku coba" Ethan tidak enak membuat Joana berbinar. Lalu kembali cemberut.
"Kalau kau tak suka tak usah memaksakan"
Jo menatap Ethan memakan casserole miliknya,
"Enak, tidak amis, brokoli nya juga masih renyah" Joana sumringah,
"apa aku bilang, enak"
"Tapi dia suka brokolinya" kembali Almaz menggoda Jo.
"Almaz" tegur Roxane. Ethan menjadi seeba salah.
"Tak apa yang penting Ethan mengakui kalau masakanku enak" Jo kembali menyendok makanannya. Tidak peduli dengan cibiran Almaz.
*
*
*
"Kau disini?" Camy menyapa, "Soda atau bir?" ia menyodorkan sekaleng soda dan sebotol bir.
Ethan meraih botol bir, dan menegakkan. "Kau sudah lama masuk Nokturnal?"
"6 tahun"
Ethan tahu ini saatnya wanita ini menanyainya.
"Aku tahu kau tak tahu kegunaan radar itu, aku telah melihatnya melalui Rush, dan aku yakin kau pun tahu, aku mematikan semua mengenai dirimu, bahkan menidur panjangkan Rush"
Ethan hanya mengangguk. "Kenapa kau tak lagi berusaha menghubungi bantuan? Tidak mungkin kau tidak memiliki cara lain?"
Ini yang membuat Camy dan Simon, membiarkan Ethan makan bersama mereka. Ia tidak melihat adanya rasa ancaman pada pria di sebelahnya ini.
"Entahlah, aku merasa nyaman disini, bilang aku gila, logika, mana ada orang yang disekap merasa nyaman dalam kamar kayu setiap harinya, Apa aku mengidap Stockholm Syndrome?" Tawa miris terdengar dari pria itu.
"Kalau aku bilang kau pernah tinggal disini apa kau percaya?" Tentu saja Ethan menggeleng.
Ia besar di kawasan Nokturnal mana mungkin ia—
"Tidak mungkin!"
Ia menatap mata Camy dan disana ia tak menemukan bahwa perempuan ini sedang bercanda dengannya.
"Mungkin saja," jawaban yang tidak memberikan Ethan jawaban pasti.
__ADS_1
"Apa yang kalian mau dariku?" Apa ini trik lain agar ia berpihak pada tempat ini? Pikiran negatifnya.
Tbc.