
Akhirnya Wina bisa juga melarikan diri. Setelah Marky menemuinya, ia pikir akan teejadi sesuatu pada dirinya. Namun setelah menunggu berminggu-minggu tak terjadi apa pun.
Wina juga mempunyai cara baru dengan menganti makannanya dengan makan orang yang lain yang berada disana.
Random. Orang yangbsedangbmenikmati makanannya akan ia rebut lalu ia berlari menjauh. Makanan bekas siapapun. Itu menurutny lebih aman.
Tidak mungkin mereka merancuni diri merek sendiri kan. Hanya itu yang terpikirkan oleh Wina. Setelah dengan sadar melarikan diri. Wina pun dikejar para petugas.
Wina bersembunyi di satu titik hilang. Dimana tak ada yang bisa menemukannya. Sebuah hutan belantara yang gelap.
Tempat ini ia temukan sudah lama, saat ia bisa keluar dengan bebas terakhir kalinya, beberapa waktu lalu.
Dan disinilah ia. Desa Arctos. Dan ia tak akan kembali ketempat Potka. Itu tekatnya. Matahari mulai meninggalkan langit. Digantikan dengan bulan.
Wina berjalan ke rumah Roxane. Disana ia ingin bertemu Simon dan ia ingin tinggal didesa Arctos.
Senyuman menghiasi wajah Wina sepanjang jalan menuju rumah Roxane. Ia bisa melihat rumah Roxane. Ia sudah dekat. Terdengar senda gurau didalam. Tak sabar rasanya.
Ia bisa sedikit mengintip ke ruang makan. Disana ia bisa melihat Roxane dan Simon dan yang lainnya. Namun langkahnya terhenti saat ia melihat seorang yang ia kenal.
Bharat.
Untuk apa wanita itu berada disana? Dan mereka terlihat akrab? Wina tak mengindahkan pikirannya ia berjalan mendekat kearah pintu, dengan vepat Wina tersungkur dengan seekor serigala menampakkan gigi tajam siap mengoyaknya.
"Wina" ucap Bharat pelan. Ia tak menyangka akan melihat rekannya lagi di tempat seperti ini.
"Ricky menjauh!" Lalu dengan cepat serigala coklat itu me-shift dirinya lagi.
__ADS_1
"Baik Ratu Putih" dengan hormat Ricky menjauh dari Wina.
"Ratu Putih?" lirih Wina.
"Ck! Sudah ku bilang panggil aku seperti biasa"
"Kau bisa berdiri?" Bharat mengulurkan tangannya. Wina hanya melihat uluran tangan Bharat tanpa meu menerimanya.
Apa mereka menemukan penggantiku? Batin Wina, ia berdiri.
Dengan menatap mata Bharat nyalang. Bharat pikir Wina masih dendam dengan orang DarkHole yang membunuh Theo.
"Wina sudah lama?" Simon menyapanya.
"Ayo masuk, bergabunglah dengan kami" Roxane menarik Wina dan mengajaknya ke ruang makan.
Roxane mendudukkan Wina disalah satu kursi kayu. "Hai Wina," Sapa Linka, yang masih menyantap makan malamnya. Tak ingin tahu tentang keributan diluar sana.
Begitu pun dengan Selena yang hanya mengangguk pada Wina. Entah mengapa sejal awal Selena tak begitu suka dengan Wina.
"Makanlah, kau tak makan? Kau terluhat sangat kurus honey" Roxane menyodorkan daging steik yang masih merah dan sepotong makaroni keju dipiring Wina.
Aroma kejunya menguar dasyat. Membuat perut Wina berbunyi.
"Nah kan! Makanlah cepat itu perutmu tahu masakanku tak akan mengecewakannya" Roxane bergurau. Yang Wina balas dengan senyuman kecil.
Ia makan dalam diam. Bharat sedari tadi diam dengan mata yang sesekali menatap Wina. Ia duduk ditempatnya semula dan menikmati makan malamnya.
__ADS_1
Dalam diam pikiran Wina berkecamuk, Teringat kilasan saat terakhir kali ia ke rumah Roxane.
Ia mendengar percakapan Roxane dan Simon mengenai sang penerus. Awalnya Wina tak mengerti. Tentang serigala putih, kekuatan dan menemui Moon Goddess. Ia mengacuhkannya.
Namun setelah tak sengaja Wina membaca buku yang ada dalam ruangan Simon mengenai Amarin juga legenda Ratu Putih, ia yakin bahwa dirinyalah yang dimaksud. Penerus dan penjaga desa Arctos.
Saat itu Wina merasa sangat dibutuhkan. Ia merangkai semua perkataan Roxane dan Simon. Membuatnya senang. Maka Wina mengambil keputusan untuk meninggalkan tempat Potka.
Keesokan harinya, ia tak bisa lagi keluar tempat Potka dengan bebas semua karena kelakuannya yang sering kabur dan membuat petugas kualahan menghadapinya.
Berminggu-minggu saat yanh dinanti tiba, sayangnya mereka menemukan penggantinya. Mata Wina menatap lurus pada Bharat yang juga menatapnya. Ia tak akan kalah dengan Bharat. Ia telah mengambil tempatnya.
Wina dengan cepat merubah wajahnya yang tadinya menunjukan peemusuhan sekarang menajadi ramah, Wina pun tertawa mendengar candaan Manuel yang tak lucu.
Wina membaur. Bharat tak bisa dibohongi. Pernah tinggal bersama saat di DarkHole membuatnya mengenal sifat Wina. Ia mengankat sudut bibirnya. Ia tahu Wina memiliki sesuatu yang wanita itu sembunyikan.
Perubahan sikap yang mencurigakan. Dengan alasan mereka dulu rekan, Wina bercerita mengapa ia dan Bharat sangat canggung lalu semua memaklumi begitu saja.
Wina menginap. Bharat tak keberatan, ia pun tamu disini.
Simon sedang menyiapkan sebuah pondok untuk Bharat tempati. Sebenarnya Bharat menolak karena ia lebih nyaman berata di Bukit Rfizt. Dan meminta izin Simon agar tetap tinggal disana.
Perlu banyak pertimbangan yang Simon buat namun akhirnya ia menyetujui kemauan Bharat.
"Lama tak jumpa Wina?" Bharat mendekati Wina yang sedang termenung di teras rumah Roxane.
Tbc.
__ADS_1