
"Aku masih tak mengenalinya, siapa dalang dibalik semua. Mereka benar-benar tertutup"
"Lalu Button dan Tyac?"
"Mereka jelas poin kecil."
Kesepakatan telah terjalin kedua belah pihak saling memberi informasi yang mereka ketahui.
***
Willow memacu moto milik Troto. Ia akan kembali ke pondok. Dipertengahan jalan ia merasa ada yang mengikutinya.
Kembali ia memacu cepat kendaraannya. Ia mengalihkan tujuannya ke arah tempat yang lebih sepi.
Agar ia leluasa menyerang. Willow menambah kecepatannya lalu bersembunyi dalam semak-semak. Benar saja Willow menemukan tiga kendaraan mengikutinya.
Willow mengeluarkan balerina dan siap membidik.
Dor! Dor! Dor!
Bidikan mengenai tepat pada kepala kendaraan pertama. Semua tewas. Kendaraan itu lepas kendali, menabrak pepohonan, ledakan besar terdengar.
Willow keluar dari persembunyiannya. Gerakannya terlihat oleh salah satu pengintai.
"Itu dia"
Dan serangan tembakan mengarah pada Willow. Dengan gesit wanita itu menghindar. Suasana sepi memudahkan Willow untuk melajukan motonya.
Sesekali Willow mengarahkan ballerina ke belakang. Peluru melesat dan menghantam kaca kendaraan dibelakangnya membuat kendaraan itu oleng.
Tak lama kendaraan paling belakang menyusul kedepan ia melaju kencang mengejar Willow.
"Ahahaha" tawa pengemudi kendaraan itu. Ia menikmati tantangan yang Willow berikan. Ia menekan gas kendaraan dengan mengeser alat yang membuat kendaraannya melaju lebih kencang.
Ia memposisikan di pinggir moto Willow. Umpatan terdengar saat Willow tak menyadari kendaraan musuh telah berada disebelahnya siap menyenggol.
"Siaal!"
__ADS_1
Willow oleng ia tak bisa mengendalikan moto dan menyerempet batu lalu terguling. Ia terkapar. Nafasnya memburu.
Berusaha bangkit, sebelum kendaraan yang mengintainya kembali. Willow berjalan menjauh dengan kaki pincang. Darah merembes dari luka pada kakinya.
"Hai akhirnya kita bertemu, cantik!" Luford menarik lengan Willow kasar. Anak buah Luford keluar dari kendaraan dan menodongkan senjatanya pada Willow.
Willow melirik sekelilingnya. Ia menyentak lengannya yang dicengkeram Luford. Matanya menatap nyalang Luford.
Tawa menderai Luford mendapat tatapan jijik Willow.
"Aku tak mengerti wanita secantik dirimu suka sekali kucing-kucingan denganku"
Luford mencolek dagu Willow. "Tapi aku suka" bisiknya, Willo menggeram. Ia dengan cepat menggerakkan tangannya tapi tangan kanan Luford mengetahuinya.
Sakit Willow rasakan dari bagian lehernya. Lalu ia merasa gelap. Dan Willow dibuat tak sadarkan diri.
***
BYUR!
Dingin, mata Willow terbuka. Tubuhnya basah, air mengalir dari rambutnya. Suara tawa melengking terdengar. Tatapannya menatap lurus pada sosok didepannya.
"Apa aku harus mengatakan itu?" Tawa genit.
Willow sudah sadar ia menggerakkan tangannya. Suara besi ramai bersuara saat ia menarik tangannya. Rantai mengikat kedua tangan dan kakinya.
Willow menatap Popi yang memperlihatkan alat kejut listrik.
"Tentu nyonya itu sebutan yang pantas untukku! Dan KAU MEREBUTNYA!"
Popi mendekat.
Bzzzzrttt
Bzzzrtttt
Wanita gila itu menyalakan alat kejutnya.
__ADS_1
"Dan kau akan menerima hukuman karena merebut apa yang aku miliki!"
"Merebut? Jangan gila! Troto memilih diriku!"
"Kau hanya pelampiasan! Hanya penggantiku!"
"Kau tidak lihat ia membawaku ke pondoknya, Troto itu cinta mati padaku" ucap Popi dengan kepercayaan diri yang gila.
"Ahahaha kau berhalusinasi! Kalau ia mau kembali, kau tidak akan diusir dari pondok!"
"Troto hanya kasihan padamu Popi, seorang yang ia kenal di jual menjadi budak"
"Tapi dengan tidak tahu diri kau—"
Brrzztt
"AAAHRGH!!"
"RASAKAN!"
"INI YANG PANTAS UNTUK KAU YANG TAK TAHU DIRI!"
"KAU PEREBUT KEBAHAGIAANKU!"
"RASAKAN INI!"
Bbrzzzttt
"HAARGH!"
"RASAKAN INI J4 LANG!"
"AAARGH!"
Tawa puas menggelegar keluar dari bibir Popi. Ia terus menekan alat listrik itu pada tubuh Willow hingga ia kembali tak sadarkan diri.
"Kau harus mati" desisnya pada Willow yang pingsan.
__ADS_1
Tbc.