
Seorang Braxton dengan ambisius tinggi tak akan semudah itu menyerah pada apa yang ia mau. Mendengar Walabi memutuskan kerjasama sepihak, ia lalu menghubungi Pina secara langsung.
"Bisa kita bertemu"
"Hey dude, Bertemu? Untuk kerjaan? Maaf tapi sekarang aku sedang liburan"
"Nanti dua bulan lagi aku kembali, atau kau hubungi dulu sekertaris ayahku, ia yang sedang menggatikanku" Pina menjawab di seberang sana dengan santainya.
Ia ingin membuat Braxton kelabakan. Seenaknya saja menargetkan keluarganya. Mata Pina menatap nyalang lauat didepannya. Melihat Braxton yang gusar.
"Okay selamat berlibur dude" Braxton berusaha menekan amarahnya. "Thanks" dan Pina menutup sambungannya.
BRAK!
BRAK!
BRAK!
DRUAK!
Clank! Clank! Clank!
Braxton menghamburkan semau benda diatas mejanya. Dan jatuh berantakan. Kertas-kertas, pecahan kaca, bercampur di lantai.
Ia menendang meja hingga bergeser. Dan meukulka kepalan tangannya ke meja. Ia murka.
"Walabi" desisnya. Mereka membuat dirinya merasa hina, Braxton merasa dieendahkan dengan batalnya kesepakatan mereka.
"El Pina kau meremehkanku, Huh!"
"Lihat saja Walabi akan aku hancurkan seperti DarkHole!"
Braxton tidak tahu, Pina menatap dirinya pada layar besar di ruangannya. Senyum remeh terlihat diwajah Pina.
"Aku tunggu!" Ia menjawab tantangan Braxton. "Mari kita mulai peperangan ini."
__ADS_1
Pina medekap kwdua tangannya didada, lalu menyenderkan punggung ke kursi. Ia siap. Banyak yang akan membantu. Tak ada kecemasan.
Yang ada sebuah rasa menantang. Ia pun sama murkanya saat ini. Berani sekali ia mengusik keluarganya.
Dan dilayar lain, memperlihatkan video waktu tim Walabi datang untuk kerjasama. Disana, di dalam lab, ia melihat seseorang yang sedang merwka teliti.
Dari laporan bawahannya yang ia kirim. Ini sebuah eksperimen mengerikan menurut mereka. Merubah manusia menjadi serigala.
Diperkuat dengan nama Potka disana. Bukan tidak tahu, beberapa kali Pina bertemu dengan Potka-Potka ini, dengan banyaknya rumor beredar di sekitarnya.
Pina tidak peduli, awalnya, mereka hanya bersinggungan tanpa mengenal satu dengan yang lain.
Tapi saat mendengar eksperimen yang Marky lakukan itu melibatkannya, Pina harus menjaga jarak.
Ia menekuni lagi laporannya. Dan ia tidak habis pikir. Mereka ---Nokturnal--- bahkan tidak pandang bulu, siapa yang mereka korbankan untuk penelitian mereka. Wina. Yang Pina tahu dari ayahnya, Wina adalah anak Marky.
Sebuah berita yang membuat ia melebarkan netranya. Anak sendiri ia korbankan. Benar-benar tidak memiliki hati. Setega itu.
Juga masih tidak ada kejelasan dengan rekan Camy yang hilang. Entah kemana. Pikiran jeleknya mengatakan ia menjadi salah satu objek eksperimen. Semoga pikirannya salah.
*
*
*
Melihat Marzon yang mulai pulih. Tapi denga rantai besar dengan bola besi membelenggu tubuhnya. Ia tersadar. Namun masih mencerna apa yang terjadi.
Ia masih dalam tubuh Lycannya. Mulutnya menyembur asap setiap kali ia mengeluarkan nafas. Terengah. Juga keadaan ruangan yang dingin.
Rasanya ia ingin melolong panjang. Marzon berdiri dengan susah payah. Belenggu ini menahan dirinya.
Lalu dengan memasang kuda-kuda walau kakinya sedikit bergetar ia melolong dengan moncongnya mendongak keatas. Menghadap atap tembus pandang terlihat bulan dengam bulat sempurna disana.
Lolongan kencang, nyaring memekakkan telinga. Hari ini bulan purnama sangat indah.
__ADS_1
Dan seperti kehilangan kendalinya, matanya jadi berubah hitam, ia memberontak, juga lolongannya dan geraman yang jadi mengila.
Ia ingin lepas. Heat! Dimana ia harus mencari betina. Rasanya sangat menyakitkan. Marzon terus berontak.
Nafasnya memburu, ia merasa frustasi. Dan Braxton hanya menonton dibalik kaca tebal yang hanya terlihat dari satu sisi itu. Menikmati kakaknya yang tersiksa.
Ia memberi kode pada anak buahnya. Dengan anggukan kepala. Anak buahnya mengetikan seauatu pada keyboardnya.
Dan dinding di sekitar ruangan Marzon mengeluarkan senjata sejenis panah mengarah ke Marzon. Dan anak buahnya menekan satu tombol. Sinar laser merah menyorot ke seluruh tubuh Marzon, Lalu sesuatu meluncur cepat kearah tubuhnya.
Jlep! Jlep! Jlep!
Puluhan peluru bius menempel pada tubuh berbulunya. Marzon menjadi lebih beringas menerima kesakitan bertubi itu. Namun tidak lama.
Lycan itu perlahan melemas. Ia menjatuhkan dirinya dengan keras kelantai. Dan akhirnya terduduk. Netranya berkedip lambat. Menatap kemana Braxton berada.
Dan kemudian memejam. Denhan nafas yang stabil.
"Kalian kesanalah"
"Cek semua yang biasa kalian lakukan"
"Aku ingin segera mendapatkan laporannya" Braxton berdiri, ia akan terus melakukan penelitian ini. Dan ia juga tidak akan melepas Walabi. Sebelum hancur seperti DarkHole dan ExSide.
Ia beranjak pergi. Ia akan menghubungi seseorang yang akan membantunya. Ia juga menunggu kabar baik dari Brigita.
Melanglah ia melihat Marky berjalan bersisihan. ia mendekatinya. "Bos" sapa Braxton.
Marky hanya mengangguk tidak peduli dengan bocah yang selalu merusuhinya itu. Dan langkahnya berhenti saat ia mendengar perkataan pria muda itu.
"Aku tidak akan melepas Walabi Corp semudah itu bos!"
"Aku akan mendapatkan Walabi" lirih namun Marky masih bisa mendengarnya.
Marky menatap punggung pria muda itu dan mengerutkan dahi. Karena semua keputusan akhir berada ditangannya. Jika ia tak meloloskannya maka mereka bisa apa, pikir pongah Marky yang meneruskan langkahnya.
__ADS_1
Ia akan ketempat Potka. Melihat bagaimana perkembangan penelitian mereka secara langsung.
tbc.