DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Kisah Troto Willow 6


__ADS_3

Willow tak mengerti mengapa ia secengeng ini. Tak pernah ia begitu pada lelaki. Ia bergelung diranjang dengan kain yang ia temukan.


Hari ini Willow akan berkemah di bukit falldown. Ia merasa nyaman disana. Ia membawa tas berisikan selimut, Berangkat sebelum bibi Lomi datang, Willow telah menuliskan pesan.


Tenda Willow berupa tongkat sepanjang lengan tangan, tinggal tancapkan pada tanah dan memilih tenda seperti apa yang ia mau pada fitur yang tersimpan di jam tangan peninggalan Nokturnal.


Ia selalu menggunakan tenda yang menghadap matahari tenggelam. Juga membuatnya nyaman. Ia memilih kamarnya yang ada di Dark Hole.


Sampai di falldown masih gelap dengan bintang terang. Ia duduk di batu itu. Menatap gelapnya lautan luas.


Meletakkan tasnya. Ia membuka resleting dan mengambil tongkat tenda. Ia menancapkan, ia membuka fiturnya, ia mendapati fitur memberi pilihan "menggunakan kembali ditempat yang sama"


Ia memilih tenda itu, sebuah tenda sederhana terbangun disana. Berarti ia pernah mendirikan tenda ini, menggunakan tenda ini?


Apa kilasan itu benar? Mengapa perasaannya selalu tertuju pada Troto. Tapi ia tak melihat tato bunga di lengan lelaki itu.


Sudahlah, ia masuk dalam tenda dan mengistirahatkan diri. Semalam ia tak bisa tidur, Willow kembali mengingat kejadian bentakan Troto.


Ia tertidur dengan nyenyak, langkah kaki terdengar pelan melangkah ke arah tenda. Sosok itu bisa masuk dalam barier tenda karena mengenal sosok itu.


Ia bergelung di belakang Willow, merengkuh tubuh Willow agar masuk dalam rengkuhannya. Tidur Willow merasa terganggu.


"Tak apa aku disini" suara bisikan menenangkan Willow bergelung lebih memperdalam masuk ke dalam rengkuhan lelaki itu.


"Troto, aku mencintaimu, sayang" kebiasaan Willow dulu, sebelum Troto menghilangkan ingatannya.


"Hmm" deheman,


Willow terbangun dengan suara orang bersenang-senang. Ia menatap tendanya, tidur ternyamannya selama ia berada di desa Guapo.


Keluar tenda ia merenggangkan tubuhnya. Menikmati sinar matahari, lapar, ia mengambil roti, dan melahapnya, dan ia akan mencari kayu, untuk api unggun dan mencari ikan atau makanan untuk makan malam.


Willow menjelajah hutan di pinggir pantai, ia mengamati peta hologram dan ingin mencari air terjun, ia ingin menyelam, ah, sungai yang kala itu, dengan semangat Willow mengayunkan kakinya, senyum menjalar dari ujung kanan dan kirinya.


Ia menyusuri sungai, entahlah setelah ia tertidur, ia merasa kekuatannya kembali penuh dengan perasaan bahagia mengelayut. Hilang semua gunda gulana. Rasa sedih terbang bersama angin.


Air terjun terdengar ia sudan dekat. Dan ia sampai di Citrun Waterfall. Willow melepaskan pakaian atas yang ia kenakan, dan langsung menceburkan diri.


Kaki menjadi ekor. Ia melesat  cepat menyelam, pemandangan sungai yang luar biasa.


Kapan-kapan ia akan mencoba menyelam di laut. Ia mengelilingi sungai. Berputar. Menyelam dan melompat seperti ikan terbang. Sungguh pemandangan luar biasa bagi, seseorang yang lebih dulu ada disana.


Sosok itu memperhatikan Willow yang begitu senang bermain air. "Seperti anak kecil saja" dengusnya.


Senyuman cantik yang membuatnya berlama-lama memandangi Willow. Rasanya ia ingin ikut bergabung, ia pun ikut bergabung.

__ADS_1


Ia meluncur dan memutari Willow, Willow melihat ada yang memutari dirinya. Dengan cepat dan melompat tinggi. Sinar matahari menerpa rambut dan tubuh lelaki dengan kulit kecoklatan itu.


Mata Willow mengikuti kemana lelaki itu bergerak. Willow memutuskan untuk keluar air.


Kesenangannya terputus. Ia lebih baik melipir saja mencari kesenangan lain, makan malam, sepertinya ia akan mengandalkan makanan kaleng, toh rasanya lebih enak dari pada masakannya sendiri.


"Hai" sapaan terdengar. Willow tak peduli ia memakai kembali kaosnya dan mengenakan  tasnya. Ia sudah merasa segar.


Willow mengibaskan rambutnya, yang dengan cepat mengering, ia suka bagian ini, rambutnya hanya lepek saat masuk ke air, jika di darat rambutnya akan kembali bagus dan indah.


Ia melirik lelaki yang ikut mengibaskan rambutnya, matanya tertuju pada sebuah tato yang ada di lengannya.


Willow menatap lelaki itu, "Mengapa kau memiliki tato yang sama denganku?" Lelaki itu mengamati tubuh Willow yang bersih dan tak ada tato di tubuhnya.


"Mana?"


"Itu tato bunga di lenganmu" lelaki itu memperhatikan tato miliknya sendiri. Terlihat sendu pada wajahnya.


"Karena kita sama tidak dapat melupakan" Willow melirik lelaki itu, ia menunggu kelanjutan dari ucapan lelaki itu.


"Maksudnya, melupakan apa?"


"Soulmate kita"


Tapi ia bingung saat di desa ini, mengapa dirinya sangat tertarik pada Troto. Dan ia kembali mengingat se risau apa ia saat Troto membentaknya kemarin.


Helaan nafas membuat lelaki itu meliriknya. "Willow" ucap Willow mengenalkan diri.


"Resta"


"Kemana soulmate mu pergi?" Tanya Willow pada Resta.


"Ke alam lain" Jeda lama, Willow ikut prihatin dalam hatinya.


"Bersama selingkuhannya" Willow memutar malas bola matanya.


"Kalau itu ia pantas ke alam lain" cibirnya yang membuat lelaki itu terkekeh.


"Tapi kau masih mencintainya?"


"Ya seperti itulah"


"Kasian" tentu dahi lelaki itu bergaris dalam, ia dikasihani oleh seseorang yang juga memiliki tato bunga yang sama dengannya. Mereka saling melirik. Tawa tergelak diantara keduanya.


"Sepertinya kita bisa berteman" ucap Resta. Willow menghentakan bahunya. Tapi ia merasa nyaman saat berbicara dengan Resta.

__ADS_1


"Kau akan ke falldown?" Melihat arah yang Willow lewati. Willow hanya mengangguk.


"Aku berkemah disana"


"Pasti menyenangkan"


"Tak tahu, tapi aku tertidur nyenyak pagi tadi"


"Sudah lama aku tidak bisa tidur dengan nyenyak, kau lihat betapa hitam kantung mataku" Willow mengangguk.


"Tendamu sangat mungil"


"Aku bisa mengubahnya kau bisa mencoba menginap"


Tatapan mata Resta berubah awas. Willow hanya menggeleng harusnya ia sebagai wanita yang waspada. Ini malah sebaliknya.


Willow mengganti bentuk tenda mereka menjadi lebih mewah dengan dua kamar yang berbeda.


"Woah, dimana aku bisa membeli alat ini? Sungguh efisien." Ucapnya.


"Banyak didunia manusia"


"Ah malas selingkuhannya manusia" obrolan random macam apa ini pikir Willow. Topiknya lompat-lompatan, Willow tidak keberatan.


"Memang jika cinta kita memudar, tato itu akan hilang?"


"Cinta mu dan dirinya kan, bukan kita?" Absurd, 


"Serius Resta" senyuman mengembang, "aku tidak tahu, karena milikku pun tidak hilang"


"Kau masih cinta?" 


"Aku tidak tahu, bahkan aku tidak ingat memiliki soulmate karena seingatku mereka hanya penghangat ranjangku"


"Wait girl, you're so blunt and i like it" tawa kencang Resta.


"Aku hanya jujur," kembali Willow menghentakkan bahunya.


"Matahari terbenam" ucapnya saat matanya menatap keluar tenda. Willow pun keluar tak lupa membawa selimutnya. Ia menggunakan selimut itu. Duduk di batu-batu.


"Indah ya" warna oranye biru keunguan, terpantul pada air laut, menutupi horizon mereka menyatu.


"Ya" mereka berdua seperti masuk kedalam indahnya senja. Tak mengira dari kejauhan ada sosok berdiri mengawasi.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2