
Wina bersungut marah, tindakannya kabur membuatnya terpenjara dalam ruangan ini, ruangan kamarmya, atau sebut saja ruang penelitian.
Ia menyelipkan beberapa makanan yang ia bawa dari luar namun itu terlalu riskan maka Wina diberi beberapa pil asupan makanan oleh Simon. Satu pil bisa bertahan 3 hari tanpa makan dan minum.
Dan makanan yang diberikan dari tempat ini ia buang ke kloset.
Tak jarang juga ia memakan lalu memuntahkan makanannya di kamar mandi.
Ia tahu ia dipantau, ada meja dan kursi yang menghadap dinding, dan jika dilihat kasat mata, akan terlihat seperti dinding biasa namun itu adalah sebuah kaca yang terhubung dengan lab penelitian tentangnya.
Tempat Wina beberapa kali makan disana. Dan kadang orang yangbada dibalik kaca tersentak ketika merasa pandangannya juga Wina bersimborok satu dengan yang lain.
Wina menghela nafas kasar. Ia gondok. Namun menyamarkan dengan wajah bosan. Ia tidak diperbolehkan keluar. Ia telah memaki dan berontak namun tidak ada yang peduli.
Bahkan temannya hanya melihat dengan tak acuh. Jika dia tak sedang berakting maka sekarang Wina bisa saja menebas leher kedua orang yang ia sebut 'teman' itu.
Wina memutuskan keluar kamar. Ia harus menemukan cela untuk melarikan diri.
Dan ini akan menjadi pelarian terakhirnya dari sini. Karena ia memutuskan untuk tinggal didesa Simon.
Menjadi penurut. Ia melakukan semuanya dan menunggu waktu yang tepat ia mencoba untuk keluar seperti sebelum-sebelumnya. Dan memang tidak di ijinkan.
Wina mulai kesal, pun dengan suplemen makanan dari Simon yang menipis.
Pergantian jam jaga. Ia akan kabur saat itu. Wina masih berinteraksi dengan kedua temannya, hanya ia tak pernah lagi melihat Potka. Juga kedua peneliti yang pernah membuatnya marah.
Ia sudah memiliki rencana yang matang, sudah ia persiapkan. Esok hari. Ia akan melakukan pelariaannya. Ia mengecek suplemennya telah habis. Mau tidak mau ia harus makan. Ia sangat lapar.
Ia tertidur dengan senyuman dibibirnya. Menanti hari esok. Kebebasannya.
Dari kamar sebelah ada Potka juga Rasmus juga Osman. Mereka tidak bodoh. Dan sudah menyadari ada yang salah dengan Wina. Sejak terakhir Wina kabur. Tidak pernah lagi Wina berubah atau me-shift dirinya menjadi serigala.
Beberapa kali juga mereka memergoki Wina yang tidak memakan makanannya. Dibuang pada kloset. Semua sudah mereka duga. Dan mereka mencari tahu sendiri dalam kamar Wina ketika Wina meninggalkan kamarnya.
Namun Wina cukup pintar untuk membawa selalu suplemen itu dengannya.
Wina terlelap. Dan ranjang Wina terangkat dan berjalan ketengah ruangan yang kosong. Dari sampingnya keluar rantai untuk mengikat tubuh Wina pada meja.
Begitu setiap malamnya. Menjaga jika Wina berubah ia tak menyelakai tubuhnya sendiri.
__ADS_1
Pergerakan terdeteksi. Suara nyaring terdengar dari penjuru ruangan. Tanda peringatan.
"Ada apa?" Potka mendekati Osman. Osman hanya menghentakan dagu kearah Wina berada.
Wina masih tertidur namun ia mengerakkan kepalanya, seperti bermimpi buruk. Geraman lirih terdengar. Tangannya yang terikat tak bisa dengan leluasa bergerak.
Ia mengepal kuat. Kakinya ikut bergerak. Berontak. Mereka bertiga masih melihat dari tempatnya.
Tak lama geraman semakin terdengar jelas. Wina menunjukan giginya yang semakin runcing. Namun geramannya berubah menjadi dengkuran.
Ini tidak seperti biasanya ia akan berubah langsung menjadi sosok serigala. Namun yang mereka dapatkan adalah manusia serigala.
Tangannya mulai mengeluarkan bulu. Wina masih berbentuk Humanoid, dengan sedikit ada sentuhan serigala. Pada gigi, tangan yang berbulu, ekor, juga kupingnya.
"Perubahannya hanya 50%, dan berhenti disitu" Rasmus menerangkan apa yang ada pada layar.
Potka melihat disana tentang perkembangan Wina. Dan ia terkejut dengan yang ia temukan. Ia menatap kedua rekannya. Sepertinya ada yang dengan lancang melakukan eksperiment, tanpa melapor padanya.
Potka tidak bisa gegabah. Ia akan mencari tahu lebih dulu.
"Buka!" Perintah Potka. Ia akan menelitinya sendiri. Ia akan mengambil sampel darah Wina.
Potka mendekat dan mulai menusukkan jarum suntik tangan mengambil sampel darah Wina. Sedangkan Rasmus dan Osman berjalan mengeledah ruangan.
Potka masih ditempatnya, ia melirik lama kearah Wina yang tertidur. Lalu berjalan kearah ruangan lab. Ia keluar lebih dulu.
Kedua orang yang tertinggal masih berkutat dengan tugasnya masing-masing, salah satu dari mereka mengarah ke kamar mandi, dan melihat tong-tong sampah. Meinspeksi secara teliti dengan menyalakan lampu keunguan yang mereka bawa.
Mereka melihat bekas-bekas yang mereka ambil dan masukkan dalam tabung untuk nanti di cari tahu.
Bergerak cepat. Dan mereka mendapatkan semua yang mereka inginkan, lalu masuk kedalam lab.
Dan mulai meneliti. Sibuk dengan tugas mereka sendiri. Sesekali ia melirik wanita yang berbaring diatas ranjang besi.
Dan kembali menulis hasil yang ia dapatkan.
Klink ... Klink ...
"Hoaaammm ... " Osman mengulurkan tangam keatas, merengangkan tubuhnya yang kaku karena terlalu lama duduk.
__ADS_1
Belakangan ini mereka lembur. Setelah sadar ada yang salah dengan Wina. "Aku tak kuat lagi, maaf ketua, kita butuh istirahat" celetuknya melirik sang ketua yang sibuk dengan penanya.
"Ya kalian istirahatlah," Potka meletakkan penanya. Ia melepaskan kacamatanya, dan berdiri. Ia melakukan perenggangan juga.
"Yes!" Teriak Osman yang mulai bergegas membereskan mejanya.
"Kau juga Rasmus, beristirahatlah" Potka menepuk punggung Rasmus yang masih sibuk dengan beberapa berkas-berkas.
"Ketua juga perlu istirahat" Rasmus menggeser kursinya. Ia memang sangat lelah. Tapi ia juga paham, bila Potka tak kalah lelah dengan mereka.
"Sedikit lagi, lalu aku akan menyusul kalian." Rasmus ingin membantah, ia sudah menurunkan tasnya, namun Potka menahannya dan mendorong pria bongsor itu kearah Osman yang menunggunya dipintu keluar.
"Sudah sana, aku tak ingin kau susahkan kalau tumbang, aku tak ingin kau menjadi sandungan bagi proyek bagus ini" Wajah datarnya. Menatap Rasmus dan Osaman.
Osman tanpa pamit sudah keluar lebih dulu dengan wajah kesal dengan pernyataan Potka yang menurut ya keterlaluan itu.
"Cih! Jika bukan karena kita ia tak akan mendapat proyek ini!"
"Sombong sekali dia!"
"Kalau saja kita bisa melakukannya berdua, proyek ini mungkin sudah selesai dari kemarin-kemarin"
"Ia banyak sekali menunda-nunda, yang inilah, yang itulah, banyak aturan!" Gerutu Osman. Rasmus hanya berjalan disampingnya. Diam.
Potka kembali kekursinya. Ia menekuni beberapa laporan yang akan ia berikan pada Marky.
Jam terus berjalan, Dan Potka telah menyelesaikan laporannya, mereka melakukannya sendiri. Harusnya proyek ini bekerjasama dengan perusahaan Walabi.
Tak tahu ada masalah apa, Walabi mundur dan menarik semua orangnya dari Nokturnal. Juga memutuskan kerjasama secara sepihak.
Tentu saja Marky murka. Dan tidak lagi peduli pada proyek ini. Karena tanggapan yang Potka terima, Marky tidak terlihat seantusias saat awal ide ini tercetus.
Potka menekan tombol dan ruangan menjadi gelap. Namun tidak dengan kamar Wina, ia telah kembali pada ranjangnya semula. Pertanda orang yang berada dibelakang kaca itu telah pergi. Dan mereka meyerahkan pantauan mereka pada cctv.
Wina menekan sebuah tombol merekayasa cctv. Dan matanya terbuka saat bunyi klik terdengar.
"Selamat pagi Wina" mata Wina langsung melirik kearah Pria yang telah berdiri disamping ranjang, menatapnya dengan senyuman dibibirnya.
Dan kedua netranya melebar saat tahu siapa pria itu. Tatapannya menajam tidak suka.
__ADS_1
tbc.