
"Camy aku akan mencari Ketua" Juan masuk dalam ruangan Camy. Camy telah kembali ke Bukit Rfizt, setelah ditahan oleh rengekan Dorina yang tidak mengijinkan kembali beberapa minggu yang lalu. Juan tidak bisa terus berdiam dengan alasan memulihkan diri.
Ia mendapat kabar ketua mereka berkala dari Clara Era namun Juan tidak puas, sebelum melihat ketuanya dengan matanya.
"Apa rencanamu?" Camy yang sedari tadi mendengar kemudian bertanya, ia tahu Juan telah melakukan penyelidikannya sendiri. Dan dia menemui Camy pasti telah memiliki rencana.
"Aku akan menyusul ketua, kembali ke Nokturnal."
Pandangan datar Camy layangkan pada Juan. Rencana yang tak akan Camy lakukan. Namun memang itu satu-satunya cara. Kembali ke tempat musuh.
"Dengan atau tanpa kalian." Lanjut Juan. Ia telah menemukan jawaban Camy. Keraguan nampak pada wajah wanita itu. Dan keputusan final ia berikan pada Camy.
"Okeh aku ikut denganmu" Juan tak menyangka, namun senyuman terbit di bibirnya. "Kita persiapkan segalanya, dan jangan gegabah"
"Kali ini kita harus memiliki persiapan matang."
"Dan kita perlu waktu beberapa bulan" keputusan Camy. Ia tidak ingin terlalu gegabah dan menyerang.
Juan mengernyit, ia ingin secepatnya, namun Juan sadar ia tak mampu. Ia perlu dukungan.
*
*
*
Diatas brangkar terdapat tubuh seorang yang tidak sadarkan diri. Marzon.
"Ini laporannya Tuan" dibalik kaca terdapat ruangan dengan meja juga beberapa peralatan pemantau disana. Braxton sedang duduk di salah satu kursi.
Ia menatap layar, dan membuka laporan yang Hudson berikan padanya.
"Ia belum sadarkan diri, sejak saat itu, kondisinya baik, tidak ada luka, tidak ada cidera"
"Ini sangat mustahil, karena saat itu, ia diberondong oleh peluru" jelas Hudson.
"Sama seperti saat Nona Helga menyerangnya, perkiraan nona Helga saat itu harusnya ia telah tewas"
Braxton menutup berkas itu. Senyuman licik terpancar dari wajahnya. Ia memiliki senjata paling mematikan sekarang.
"Teruskan pengamatan, laporkan padaku setiap detailnya" Braxton pun beranjak meninggalkan kursinya.
__ADS_1
"Baik Tuan" Hudson mengikuti Braxton.
Marzon dalam tubuh manusianya. Matanya masih tertutup namun pupilnya bergerak. Tak lama matanya terbuka. Geraman terdengar keluar dari mulutnya.
Tangannya yang terkunci di brangkar besi itu mengepal kencang. Urat-uratnya menyembul, aliran darahnya yang hitam terlihat mulai berjalan naik ke dada dan lehernya.
Matanya membola, dan perlahan berubah menghitam. Marzon meronta di brankarnya. Rasa sakit menyiksanya, geramannya semakin memekakan telinga itu mengaung diseluruh ruangan.
Ia meronta, ingin melepas belenggu besi pada tangan dan kakinya. Tubuhnya semakin panas. Retakan tulangnya terdengar menyakitkan.
Terlihat bagian depan tubuhnya membusung dengan tulang rusik yang berada dalam tubuhnya bergerak dan suara patahannya semakin nyaring.
Peluh membasahi pelipis Marzon yang bergetar dan memerah. Matanya yang menghitam membelalak dengan lolongan yang panjang dan menyakitkan.
Nafasnya terengah, dengan denyut jantung yang semakin cepat, ia meronta, memaksakan diri ingin lepas.
Marzon terduduk juga menunduk, terlihat patahan pada tulang punggungnya yang menonjol. Geraman menahan kesakitan terdengar setiap tarikan nafasnya. Kabut putih keluar saat ia menghela nafasnya.
Lagi lolongan panjang dan perubahan wajah, mulutnya terbuka, terlihat giginya mulai meruncing tajam dan besar, juga bulu gelapnya sudah memenuhi tubuhnya. Dengan mata yang terpejam. Jari-jarinya memanjang juga muncul kuku tajam hitam disana.
Nafasnya memburu, geraman dari bibirnya mulai mereda, dadanya turun naik dengan konstan.
Marzon masih mencerna, apa itu? Serigala? Mulutnya menganga, ia menguap,
Disitu Marzon tersadar ia membuat gerakan untuk menyakinkannya. Bahwa sosok yang terpantul pada dinding kaca didepannya adalah dirinya.
Lalu lolongan dan heraman kencang terdengar lagi. Marzon memberontak. Braxton mengubahnya menjadi monster. Kemarahan membuat kekuatan Marzon meningkat. Ia dengan mudahnya menghancurkan belenggu besi yang menjeratnya.
Dengusan panas keluar dari hidung juga mulutnya. Terlihat semburan asap putih keluar dari mulutnya. Ia marah dan dengan kepalan tangannya ia menghantam dinding kaca tebal itu. Tinjuan kedua dinding itu hancur.
Ruangan itu kosong. Marzon masuk kedalam sana. Ruangan gelap dengan banyak layar yang menyala. Layar yang menampilkan sosok yang sekarang ia yakini adalah dirinya.
Murka. Namun ia bisa mengendalikan dirinya, keingintahuan yang akhirnya menang. Ia sedikit tersentak dengan jemarinya yang panjang. Untuk sesaat ia terdiam memperhatikan jari-jarinya.
Pip!
Suara pemberitahuan menyadarkannya. Ia memerlukan waktu untuk menyerap semua informasi ini. Ia menarikan jemarinya yang panjang walau awalnya ia agak kesusahan.
Ia mematikan semua keamanan disekitarnya. Lalu membuka jaringan yang ia punya. Dan ia terhubung dengan bukit Rfizt.
Ia mengirimkan kabar, dan mendapatkan Juan membalas cepat. Juan juga memberitahukan tentang rencananya, akan menjemput Marzon tapi langsung Marzon tolak.
__ADS_1
Marzon memberi waktu pada Juan yang keras kepala ingin menyusul ke tempatnya agar Juan menurut. Dan benar Juan menurutinya. Jika Marzon tidak kembali dalam waktu yang ia tentukan Juan akan segera menyusul.
Matzon juga sibuk membaca hasil penelitian dan mendapati, ia telah sering berubah namun ia tak sadar. Tapi yang membuatnya takjub data luka dan cedera yang hampir tewas.
Bukan berakhir mati membusuk, ia kembali dengan sehat. Ia melihat tanggal dan saat ia mencari tahu tanggal berapa saat ini, ia sangat takjub. Kejadian baru beberapa minggu yang lalu.
Marzon berdiri dari kursi sempitnya. Ia memeriksa sendiri dengan matanya. Tubuhnya baik-baik saja. Tidak ada adanya luka menganga seperti yang tertulis di laporan itu.
Hanya bekas yang bahkan ia tak tahu itu bekas banyak tembakan. Ia ingin keluar dan membuktikan semua yang tertulis pada berkas penelitiannya dirinya.
Ia mengirimkan hasil laporan ini pada tempat penyimpanan onlinenya, yang juga akan tersimpan dan terupdate seperti yang ada di alamat email para peneliti ini.
Sekarang ia akan mencoba meloloskan diri, sambil menguji semua penelitian mereka.
Kembali Marzon mengetikan sesuatu dan memindai tampat ini. Melihat keadaan.
Setelahnya ia akan melancagkan aksi meloloskan diri.
Ia membuka pintu dengan kasar. Ia tahu dua orang petugas berlari kearahnya, setelah mendengar gebrakan yang ia buat.
Marzon telah menghancurkan kaca jendela didepannya ingin langsung terjun. Ia sudah menaiki pinggir jendela. Ia menikan sedikit sudut bibirnya. Saat dua petugas itu menembakkan pelurunya.
Marzon dengan cepat menghindar. Senang, itu yang Marzon rasakan. Ia dapat melihat gerakan dari peluru itu. Peluru itu meluncur padanya dengan gerakan slow motion.
Ia mengingat apa yang berkas itu katakan. Ia membuktikan satu dari tulisan disana. Ini akan menyenangkan sepertinya.
"Bagaimana jika pembunuh yang mematikan ini menyerang penciptanya?" Marzon bergumam pada dirinya dengan berlari kencang menghondari kejaran dari para pasukan berbaju hitam milik Nokturnal.
Sepertinya ia tidak peelu waktu banyak untuk mengacau disini. Pikir Marzon.
Marzon tidak sabar bertemu dengan sang adik. Braxton. Orang yang membuatnya menjadi seorang monster. Ia mengepalkan tangan dan menhantamkannya pada apapun yang menghalanginya. Kemurkaan.
Kekuatannya meningkat cepat. Nafasnya terburu, andrenalinnya terpacu, germaman kencang saat ia mendapatkan pukulan dari salah satu pasukan itu. Ia lengah. Walau pukulan itu tidak berimbas padanya, tapi membuatnya kesal.
Ia melolong dan mengeram. Marzon meraih pasukan itu dan menghempaskan kelantai. Kembali ia mencari target yang lain. Amarah dan rasa kesalnya tidak juva mereda. Ia menjadi menggila.
Dor!
Seorang pasukan dibelakangnya membak dirinya. Marzon berbalik perlahan melihat pasukan itu. Dengan tangan yang masih mengacungkan senjatanya agak bergetar. Pasukan mundur.
tbc.
__ADS_1