
Riby juga mengunyah pizzanya, melihat pelarian mangsanya. "Untuk sekarang aku lepaskan kamu, beruntung kau, tapi tidak janji nanti" kembali ia mengunyah pizzanya, Meletakkan pizza diluar, sengaja, Leon sudah beberapa hari hanya ia beri air saja.
Leon masih terus melangkahkan kakinya. Ia sudah berada di jalan besar.
*
*
*
"Nyonya kami menemukan sinyal Leon" Suara dari sebrang telpon, "Ya lalukan tugasmu" Lamorna masih di ranjangnya dalam pelukan seorang lelaki kekar.
"Kau mau kemana?" Suara serak pria bangun tidur.
"Aku akan kembali ke kantor," Lamorna beranjak, ia melepas rengkuhan pria itu. Lalu mengecup bibir prianya. Kemudian mengenakan kemejanya.
Ia rapi dan sudah keluar dari tempat tinggalnya, ia menuju ke Bats Site tempatnya sekarang. Melihat Darius yang menunggunya. "Bagaimana?" "Kami sudah menjemput kesana, ia berada didaerah hutan Hide Dome" Lamorna telah duduk di kursinya.
"Oh jadi rumor itu benar, para bocah itu berhasil membukannya,"
"Iya nyonya, kita akan mendapt peluang karena kita memiliki Leon, ia akan memberi kita informasi lebih" Darius mengangguk.
"Karena saya dengar Bos telah kesana dan dan mengutus Henry namun tak mendapatkan hasil" Lamorna bersendekap dada, ia menyeringai, ini kesempatannya, untuk bisa mendekat pada tujuannya, menjadi nomor satu di Nokturnal, ia sudah bosan dan malas pada para orang tua itu.
"Sudah sampai dimana mereka, suruh Leon istirahat dan beei dia yang dia mau, lalu nanti malam bawa padaku"
"Siap Nyonya" Darous mengangguk lalu permisi pergi.
Ditempatnya Lamorna menampakkan senyuman culasnya.
"Apa yang dicari orang tua itu?"
__ADS_1
*
*
*
DarkHole yang terlalu disibukkan dengan Hide Dome, Dasar bodoh, pikir, seorang yang merasa berhasil menyusup di DarkHole. Seseorang dengan pakaian hitam juga mengenakan topi menyergap penyusup itu.
"Kau yang bodoh! Bilang pada ketuamu, jika ingin mengusikku, langsung didepan mataku, tua pengecut!"
Ia mencengkram leher penyusup dengan lengannya, lalu mengantamkan kepalanya pada tangga besi, pertarungan yang sengit. Penyusup berhasil melepas cengkraman si pakaian hitam, ia melemparkan tinjuannya, dengan membabi buta.
Si baju hitam terus menghindar ia menunggu sang penyusup lelah dan mulai menyerangnya. Ia menendang perut si penyusup yang kemudian mundur beberapa langkah, lalu menghajar pelipisnya.
Dan juga pipinya, bibir si penyusup robek, dia bedecih, sedangkan si baju hitam mengangkat sedikit sudut bibirnya. Kembali pertarungan antar keduannya.
Sekarang si baju hitam terpiting. Ia menronta keras. Dan sipenyusup tertawa kencang. "Kau! Jangan bermimpi mengalahkanku!" Ia melepas topi si baju hitam, rambut hitam panjang terurai.
"Gadis manis ini akan membuatmu pulang terkaing ke majikanmu!" Si baju hitam yang tak lain, Joana, mengeluarkan pistolnya dan si penyusup yang tak siap tertembak pada betisnya dengan cepat ia bersembunyi dan mencari senjatanya.
Ia meraba seluruh tubuhnya. Hilang! Semua senjata yang ada ditubuhnya hilang!
"Hei pak penyusup! Kau mencari ini?" Jo mengangkat senjata api milik si penyusup dengan telunjuknya.
BRUK!
Berbagai senjata ia jatuhkan dikakinya. "Kau cari ini semua?"
Jo tersenyum meremehkan. "Tolong nanti kirim orang yang kebih mumpuni dibanding kau! Kasian perusahaanmu, mengeluarkan gaji hanya untuk orang sepertimu" provokasi Jo.
Si penyusup mengepalkan tangannya kencang, ia tak tahu dibelakanhnya ada Jenny yang sudah menghantam tengkuknya. Si penyusup pingsan.
__ADS_1
"Lex kau lama" Jo melirik kesal, ia sudah kehabisan nafas tadi dan rekannya baru muncul.
"Maaf Jo" Alex menyengir ia tadi tak sengaja berpapasan dengan Jenny dengan mie cup yang menggepul menggodanya.
Ia pun mencicipi yang hampir Jenny hajar karena mencicipi versi Alex adalah hanya menyisahkan sesendok makanan yang ia cicipi. Dan akhirnya Jenny menyerahkan semua cuo mienya dan membuat yang baru untuk dirinya.
Ia menikmati mie cupnya dengan menonton pertarungan Jo, dan baru selesai saat ia membuat si penyusup itu pingsan.
Si penyusup diangkut oleh Sandos. Jo dan Jenny berjalan didepannya. "Kita apakan penyusup ini?"
"Kirimkan pulang pada majikannya" Alex menatap Jo,
"Serius? Tak ada penyiksaan lebih? Yaahh ... " Joana menatap Alex,
"Sebosan itu hidupmu? Sana bantu penelitian Bharat, sana!"
"Oh tentu tidak, itu namanya kau mengirimku ke tempat membosankan lainnya" Alex melangkah mengikuti Jo.
"Aku membosankan Lexy?" Bharat berdiri di samping mereka. "Oh bukan kau sayang, tapi ruangan ini, disini," kilah Alex, sambil tersenyum tak enak.
"Makanya aku menyuruhmu ikut Bharat, dia akan membantu, seorang teman dan mungkin kau disana sangat membantu" Jo kembali berkata.
"Bharat kau akan kemana?" Alex tertarik ia sudah mengikuti Bharat.
"Ke bukit Rfizt"
"Ah tempat yang tak ada di maps? Oke sepertinya seru, aku ikut"
"Tolong bawa robot toples" Bhart mengangguk, Mereka keluar dan pergi ke bukit Rfizt.
Ketempat Daniel Peterson yang memanggil Bharat untuk membantunya diladang. Dan akan memberi black mopia sebagai imbalannya. Dan dengan senang hati Bharat membantu.
__ADS_1