
Willow baru terbangun dengan rambut acak, ia merasakan kepalanya pusing. berjalan ke kamar mandi dengan sedikit terhuyung, ia memuntahkan semua isi perutnya.
"Siaaal!" Umpatnya saat melihat ke arah wastafel dan disana terlihat wajahnya dengan luberan maskara hitam di sekitar matanya.
Ia lebih memilih mengambil sikat gigi lebih dulu dan memusnakan bau bauan pada mulutnya yang membuatnya mual.
Mengambil bandana kain dan mengangkat rambutnya agar tidak turun ke wajah. Ia menyiram air pada wajahnya. Mengambil sabun muka dan mulai menggosok bagian hitam.
Lalu ia mengambil kapas, memberikan cairan pada botol berwarna transparan kekapas dan mulai membersihkannya. Bekas dandanan terangkat cepat. Wajahnya kembali putih merona.
Dari kamar mandi, Willow menepuk wajahnya dengan handuk kering, Rasa pusing masih terasa. Langkah kakinya terhenti saat Ia mendengar suara percakapan dari luar kamarnya.
Willow waspada. Ia kembali ke kamar mandi, Ia mengambil senjata api yang memang ia simpan di balik wastafel. Dan meraih handgun kel-tec p50, senjata andalannya. The ballerina, Willow menamainya.
Ia melangkah perlahan dan menodongkan pistolnya pada seseorang yang menggunakan dapurnya.
"Hubungi aku secepatnya!" suara yang ia kenal. Sosok itu menekan earpiece nya.
"Kenapa kau disini?" Willow menurunkan handgunnya.
"Kau sudah bangun sayang?" Ucap ringan Troto. Kernyitan halus terlihat di dahi Willow.
"Jangan bilang kau lupa? Kita sudah baikan kemarin? Kau berjanji padaku akan ingat saat kau bangun." Ucap Troto, lelaki itu semakin banyak berbicara. Ia tak mendengar jawaban Willow, ia melirik kekasihnya yang menuntut penjelasan panjang.
"Kau minum banyak, mabuk, dan aku mengantarkanmu"
"Dan kau, make a move pada orang yang mabuk? Dude! Are you kidding me?!" Willow melemparkan bandananya pada Troto yang malah terkekeh. Wanita itu beranjak dari tempatnya.
"Seriusly?!" Ketus Willow. Ia meletakkan handgunnya kasar di meja makan mungilnya.
"Yah aku memang mengambil kesempatan untuk berbaikan denganmu" Troto maju, ia meraih pinggang Willow. Tak ia pedulikan dorongan dan rontaan kekasihnya.
"Aku buat sup, biar mabukmu hilang, juga ada aspirin" ucapnya lembut. Willow tidak lagi memberontak.
"Ayolah kita berbaikan, sayang, maafkan aku, aku tidak bisa kamu diamkan lebih lama," Troto menyatukan dahi mereka.
"Aku kesepian," lirihnya.
"Aku membutuhkanmu" bisiknya merayu, ia mengecup bibir Willow. Tidak ada perlawanan, Troto merengkuh wanitanya dan memperdalam ciuman mereka.
Ia melepas ciumannya saat mereka kehabisan oksigen. Ia mengusap bibir bawah Willow yang membengkak.
"Makan supmu, dan minum obatnya."
Ya Willow memaafkan Troto, hatinya ikut menghangat, ia tidak menyangka bahwa Troto bisa semanis ini. Ia pun sudah rindu dengan lelakinya itu. Namun gengsinya yang setinggi gunung itu yang menyakiti perasaannya sendiri.
"Tetua tolong kemari, tid … kon … sif—" makian terdengar dari mulut Troto,
"Rega!" Pekik Troto.
"Ada apa?" Tanya Willow yang telah meminum aspirin dan menyuap beberapa sendok supnya.
"Misi pengepungan pemberontak dari klan-klan High Majesty terdahulu, aku akan membantu, kau istirahat dulu sayang. Aku akan kembali"
__ADS_1
"Aku ikut" ucap Willow, ia menepuk-nepuk the ballerina di atas meja makan.
"Ayo,"
Willow dan Troto masuk ke pintu yang berada di depan kamar milik Willow.
"Ruangan milik siapa ini?" Tanya Willow.
"Milikku" decakan terdengar dengan kekehan menyambut decakan Willow.
"Kenakan ini"
Troto memberinya jaket kulit hitam juga celana panjang hitam ketat.
"Kau bisa menggunakan Moto?" Tanya Troto juga mengenakan atribut yang sama dengan Willow.
"Moto yang sama seperti didunia manusia?" Tanya Willow balik. Tentu saja ia bisa. Moto kendaraan sejenis Motor melayang.
"Yah, kita akan menggunakan itu agar lebih cepat, juga mereka akan menyebrang ke dunia manusia" Jelas Troto melemparkan sarung tangan pada Willow.
"Bisa"
"Bagus"
Troto berjalan menuju rak buku, lelaki itu menyentuh sebuah pajangan dan rak itu terangkat. Di belakang rak ada sebuah lorong.
Troto masuk Willow mengikuti di belakangnya. Ia melihat berjajaran kendaraan disana. Willow mendapatkan helmnya juga earpiece.
"Pilih yang kau mau" sahut Troto yang membuka sebuah dinding. Disana banyak persenjataan. Dan Willow memilih beberapa.
"Siap?" Mereka sudah diatas motornya masing-masing.
Willow menekan samping gogglesnya agar berubah kacanya menjadi hitam. Ia mengangguk.
Mereka melaju kencang, Troto telah mengirimkan peta kemana mereka akan mengejar para pemberontak.
Willow meluncur dengan tas di punggung juga ada senjata laras panjang tergantung di punggungnya. ia meluncur berkejaran dengan Troto.
Mereka melintasi hutan dan ia bisa melihat adanya barier didepannya. Lalu dengan mudahnya Willow menembus barier yang ternyata masuk dalam dunia manusia.
"Jangan tertipu! Kita masih di desa Guapo, kami membuat prototipe dunia manusia dalam ukuran nyata." Ucap Troto.
Mereka melewati jalan tol. Yang kosong tanpa adanya kendaraan lain.
"Itu mereka!"
Willow melihat iring-iringan kendaraan.
Willow memacu motonya untuk menuju depan. Namun kendaraan belakang mengeluarkan senapannya dan mulai menembaki dirinya sedangkan Troto mengurus kendaraan paling depan.
Willow dengan cekatan mengelabui kendaraan belakang agar berjarak lalu melepaskan tasnya yang berisi sinar laser. Yang merentang dari ujung kiri ke kanan jalanan.
Si sopir menyadari laser itu membentang tapi ia terlambat, mengendalikan kendaraannya, ia terbelah dan meledak bersama kendaraannya.
__ADS_1
Willow memacu motonya meninggalkan dentuman keras di belakang. ia mendekati kendaraan yang ada di depannya.
Ia memepetkan motonya dan tangannya mengulur, mengacungkan The ballerina pada kaca kendaraan itu. Dan tembakan bertubi mengenai penumpang belakangnya. Membuat kendaraan itu mundur dan sedikit oleng.
Lalu Willow maju, dan ingin memepet lagi kendaraan lain di depannya.
"Pacu lebih cepat!" Ujar penumpang, pada sopirnya yang berada di kendaraan yang Willow tembaki tadi.
Penumpang kendaraan yang berada di belakang Willow menembakinya. Tembakannya menyasar kemana-mana.
Willow menghindari dengan berjalan zig zag. Ia mengeluarkan ballerina, mengulurkan tangan ke belakang menarik pelatuk, memberondong dengan butiran besi pada kendaraan di belakangnya dengan brutal. Decihan terdengar dari mulut Willow.
"Kau ada dimana Will?" Troto bersuara.
"Tenang aku akan mengurus di belakang" ucap Willow. Ia tak ingin kesenangannya diganggu, dengan kedatangan Troto.
Willow melemparkan tempat peluru yang kosong dan dengan cepat mengantikannya. Ia melakukan dengan satu tangan. Setelah terisi, ia kembali memegang kendali moto.
Dan kembali menginjak pedal koplingnya, ia menambah kecepatannya. Ia merasa mendapatkan tantangan. Senyum miring terlihat dari balik helmnya.
Kendaraan di belakangnya dipacu cepat, mereka sudah berada disamping Willow. Penumpang yang duduk di belakang supir mengokang senjatanya dan mengarahkan dekat wanita itu. Dari balik kacamata hitamnya ia melirik, dengan cepat ia menghindar.
Willow mendapatkan tembakan, ia oleng dan melepaskan gas untuk menghindar tembakan. Ia mundur ke belakang.
Dan Willow membidik lurus belakang kendaraan didepannya yang tadi menembakinya.
Sopir kendaraan itu tak bisa mengendalikan laju kendaraannya akibat tembakan Willow, mereka menabrak pembatas jalan dan berguling-guling, Lalu ledakan terjadi lagi.
menimbulkan suara dentuman keras.
Willow kembali maju mengejar sasarannya, ternyata kendaraan yang ia kejar itu, kendaraan terakhir bagiannya.
Willow tak ingin kehilangan mangsanya. Kejar kejaran terjadi. Ia tak ingin mengalah.
"Dekati jika ia memepetmu! Lalu senggol keras motonya!"
Si sopir hanya mengangguk. Dua penumpang di belakang memantau Willow yang mendekat. Melihat kesempatan, tentu mereka langsung memepet Willow.
"Sekarang!"
Penumpang di belakang kursi sopir mengulurkan senjata nya dan mengenai helm Willow, Willow tersentak dan keluar jalur.
Wanita itu tidak kehilangan akal. Ia memiliki strategi. Ia menambah kecepatannya, moto Willow melaju kencang, ia beserta motonya melayang diatas kendaraan para pemberontak. Ia melemparkan bom pada jendela sopir.
Willow mendarat pada aspal bertepatan dengan ledakan kencang ketiga yang ia ciptakan. Willow berhenti, ia membuka goggles-nya, menatap kobaran api di depannya.
"Clear!"
"Bagus! Kemari!" Sahut Troto. Willow memasang lagi googlesnya dan melanjutkan misinya.
Ia menyusul Troto yang mengawasinya. Lelaki itu melihat bangga aksi dari kekasihnya. Ternyata keputusan benar, mengeluarkan Willow dari pelatihan Jonny. Kemampuan Willow diatas mereka.
"Mengerti!" Balas Willow. Ia menekan gas pada motonya dan melaju kencang.
__ADS_1
Tbc.