
"Apa kau tahu Simon berada dimana?" Camy bertanya, bisa ia lihat Ricky yang mengatupkan keras rahangnya.
"Apalagi yang kau inginkan?" Huh! Ada apa dengannya, pikir Camy yang mendapat jawaban ketus dari pria itu.
Camy masih bisa mengontrol wajahnya walau ia sangat ingin menyentuhkan kepalan tangannya pada wajah sombong pria muda itu.
Camy merasa tidak ada gunanya bertanya pada Ricky, pun, melanjutkan langkahnya. Namun Ricky menghentikannya.
Ia menarik lengan Camy kasar. Dengan gerakan cepatnya Camy memelintir tangan Ricky, Maaf ini gerak refleks tubuhnya untuk melindungi diri.
Namun Ricky bisa membaca gerakan Camy, mereka mulai bertarung, dengan menuruni tangga rumah Roxane.
Ricky yang memang sudah tidak menyukainya mengeluarkan semua kekuatannya. Ia menyerang Camy dengan tinjunya, bertubi namun Camy bisa menghindar dengan gerakan tenang.
Mereka berada di bawah, sebuah lorong, Ricky kembali menyerang Camy, dan Camy yang juga bisa melihat gerakan lawannya, Ringan ia membalas serangan lawan dengan kepalan keras mendarat di pipi Ricky.
"PRANG!"
Ricky oleng ia menubruk meja kecil dengan vas dengan bunga diatasnya, yang sekarang sudah pecah berantakan dilantai.
Ricky menggeram, mayanya nyalang, marah, dan dengan cepat men-shift tubuhnya.
Camy melihat perubahan itu, Ia melirik sekitar, Jendela besar ditangkap oleh netranya. Camy berlari kearah jendela dan melompat keluar.
Petarungan ini akan memerlukan waktu sepertinya. Ia tidak bisa menghancurkan rumah orang yang baru ia kenal, bukan.
Camy membutuhkan tempat luas, lagi pula ia juga butuh sesuatu untuk tetap sadar dan mencerna, semua yang terjadi hari ini.
Serigala coklat kemerahan didepannya otj mengeram, ia dengan tangkas mengejar Camy keluar rumah Roxane.
Roxane dan bersama lainnya yang mendengar keributan pun ikut keluar.
"Ricky!" Teriak Roxane. Ia melihat serigala coklat kemerahan itu merusak jendelanya. Juga mengejar ganas tamunya. Dari ruangan lain keluar beberapa orang disana, melihat kekacauan yang Ricky ciptakan,
Dengan tergopoh wanita tua itu berlari keluar rumah dengan sapu ditanganya, seperti mengejar anaknya yang nakal.
"Dasar darah panas!" Jordan meraih perempuan disampingnya yang juga melihat cemas kearah Roxane.
"Kamu itu, cepat lerai mereka!" Luna dari Jordan, Selena, Jordan adalah Alpha yang baru di klan ini.
"Buat apa?" Jawabnya acuh. Selena memukul bahu matenya itu dan menyusul Roxane.
"Benar, melerainya hanya sia-sia? Kau tahu, Ricky tidak akan berhenti, buang waktu" Emmanuel, Beta Jordan yang mengandeng wanita cantik yang juga baru keluar dari dapur.
__ADS_1
"Ada apa ribut-ribut?" Tanya Linka dengan mengelap tangan basahnya, ia tengah menyuci piring tadi. Saat terdengar ribut-ribut dari luar.
"Ada tontonan seru, ayooo" Linka berdecak, ia tahu pasti Ricky yang sedang membuat keributan.
"Awas aja nanti kalau ia menghancurkan pekaranganku!" Linka mengerucutkan bibirnya.
"Sudah ayo kita lihat dulu, nanti kau bisa hukum dia seperti biasanya, sayang!" Manuel merangkul Linka menyusul Roxane yang telah menjeritkan nama Ricky didepan sana, juga terdengar debuman kencang.
"Sepertinya, lawan kali ini bukan tandingannya" Almaz tersenyum miring dan menyusul Manuel dan Linka.
"Sejak kapan darah panas itu menang melawan musuh yang ia incar?" Ejek Raven yang ada dibelakang Almaz.
Disana Ricky telah shift kembali ke-tubuh manusianya. Berantakan. Sangat. Ia terkapar dengan tangan memegangi dadanya. Nafasnya memburu, ia terbatuk.
Bibirnya mengeluarkan darah, wajahnya lebam, dan tak berbentuk. Dan Ia kalah telak oleh lawannya yang hanya melihatnya dengan tatapan nyalang.
Camy dalam posisi tak berhatinya saat ini. Bukan tandingan Ricky.
Simon juga melihat pertadingan sengit mereka. Camy meredakan degupan jantung serta adrenalinnya. Ia hampir tak bisa mengontrol diri, sedikit. Tapi ia sadar dengan cepat, sebelum korbannya tewas.
Ia mendekat pada Ricky, melihat pemuda itu yang terkapar. Namun masih hidup.
Mungkin hanya retak tulang, Camy menyugar rambut sebahunya,
"Maaf Simon aku membuatnya begini" Camy memang merasakan keberadaan Simon yang mendekatinya.
"ALMAZ! RAVEN! Bantu Ricky!" Perintah Simon.
Dua pria itu melangkah, yang satu dengan kaos dengan o neck, melompat dari beranda, dan satu lagi berjalan tenang dengan sweater lengan panjang dan kacamata bertengger dihidungnya, mendekat kearah mereka.
"Ayo masuk, kau juga perlu istirahan, sama seperti pria tua didepanmu ini, Camy"
"Setelah makam malam, kau, dan juga Bharat, datanglah ke ruanganku," Simon berlalu, ia melangkah di belakang dua pria yang mengangkat Ricky tak berdaya.
"Pelan-pelan" masih Camy mendengar desisan Ricky yang merasakan sakit pada ulu hatinya.
Patah tulang hal terparah yang Camy prediksikan, penyebab dari rintihan pria muda itu. Kalau tidak, ya ... mungkin hanya retak namun tetap saja menyakitkan.
Sedangkan dirinya tak terluka sedikitpun. Camy sangat membutuhkan penyaluran adrenalin pada tubuhnya tadi. Dan sial bagi Ricky yang datang menguji kesabarannya.
*
*
__ADS_1
*
Roxane menghela nafasnya, ia melihat pria dengan balutan perban di sekujur tubuhnya.
Erangan keluar dari bibirnya.
"Kau diamlah!" kesal Roxane, ia menyeka peluh dari tubuh pemuda dihadapannya.
Roxane tahu Ricky dalam masa penyembuhan, setelah ia menyuruh pemuda itu menenggak ramuannya. Malam ini akan bereaksi.
Rasanya akan lebih menyakitkan berkali lipat. Menyatukan tulang yang patah, juga beberapa retakannya. Dan Ricky harus menahannya.
"Hhrrr ... hrrrgh ... " Erangan terdengar. Dikamar itu juga ada Almaz juga Raven. Mereka hanya melirik Ricky.
"Lawannya tak terluka sedikitpun" desah Raven.
"Harusnya dia bisa memperhitungkan kapan harus menyerah" sambungnya,
Dengusan terdengar, "Sejak kapan ia mau mundur? Dia memang bodoh!" Sahut Almaz.
Roxane mendengar perdebatan itu dengan sesekali menyeka peluh Ricky. Lalu ia berdiri dengan baskom air ditangannya.
"Aku akan membuat makan malam, Kalian disini, tunggu beberapa menit lagi, Aku tak mengerti apa yang ia dapatkan dari menantang begitu banyak orang" keluh wanita tua itu. Ia keluar kamar Ricky yang masih saja mengeram kesakitan.
Raven berjalan kearah kursi sebelah Almaz mendudukkan tubuhnya kasar disana.
"Kami pun tak tahu, apa maunya!" Gerutunya lirih dengan mengangkat kacamatanya dan memijat ujung hidungnya. Lelah.
Energinya terkuras. Ia tadi membantu Roxane untuk menyembuhkan patah tulang Ricky.
Roxane membutuhkan bantuan energi yang besar. Luka Ricky akan semakin cepat pulih jika mendapat energi dari ras-nya sendiri.
Dan disini, Raven juga Almaz---mau tak mau--- merelakan diri mereka, menyumbangkan energi yang begitu besar pada si bodoh yang terkapar diranjangnya sana. Keduanya sekarang kelelahan di kursi yang mereka duduki.
*
*
*
Bharat telah pulih, ramuan Roxane sangat ampuh, sekarang ia merasa segar. Ia dan Camy duduk makan malam. Walau Camy dan Ricky membuat keributan namun makan malam ini terasa kehangatannya, penuh senda gurau.
Almaz dan Raven pun bergabung disana, mereka juga memerlukan makan setelah mengeluarkan banyak energi.
__ADS_1
Ricky sudah melalui masa kritisnya, dan sekarang sedang tidur nyenyak. Mungkin besok atau lusa Ricky telah kembali pulih. Mereka bisa lega. Tak ada efek yang berarti sejak Ricky dinyatakan lewat masa krisis tadi.
tbc.