
"G, Tom kemarikan? Kau tak ingin mengenalkan aku pada teman barumu ini?" Kellan mengetahui siapa Willow ini.
"Yah" mereka telah duduk di tempatnya. Giana meletakkan satu piring penuh makan malam pada meja suaminya.
"Will kenalkan ini suamiku, Kellan"
"Will" Willow menganggukkan kepalanya. Kellan hanya menanggapi datar. Tapi ia membalas anggukan Willow.
"Kau lapar? Makanlah" ucap Giana. Ia tak ingin suaminya itu bertanya macam-macam dengan Willow.
Helaan nafas kasar terdengar. Giana melirik sang suami yang mulai makan. Ia tak membiarkan suasana menjadi canggung.
Ia membuat Albert memanggil sang ayah. "Daaa … daa … dadaaa … " ia menengok ke sang ayah dan ingin mengapai sang ayah.
"Oooohh jagoan Dadaa"
Seketika tampang datar Kellan menjadi ayah penyayang.
"Mau sama Dada yaaa" ucapnya di imut-imutkan. Misi Giana berhasil.
"Sini duduk sama Dadaa"
Kellan mengambil Albert dari kursinya. Memangku bocah gembul itu. Dan menyuapkan buah pada anaknya dengan telaten.
Giana menatap Willow yang melihat kelakuan sang suaminya hanya menarik sudut bibirnya.
Gedoran kencang terdengar kencang. Dari luar Kellan mendengar namanya dipanggil. Matanya menatap sang istri.
Ia menggendong Albert. Tatapan keduanya menjam. "Aku buka pintunya" suara dingin terdengar.
"Will kau bisa kembali ke kamarmu, masuk dalam lemari, di belakang lemari ada pintu" Willow tanpa bertanya, ia sudah melenggang dengan piring dan gelas miliknya. Tanpa diperintah Willow mengerti.
Giana melanjutkan acara makannya. Memasukkan potongan daging dalam mulutnya dan mengunyahnya perlahan.
"Kellan bisa kami memeriksa dalam rumahmu" Kellan hanya melihat Tom dengan pandangan tak ramah.
"Aku tak ingin adanya keributan!"
"Baik"
Kellan dengan Albert yang asik memainkan ludahnya digendongannya. Ia membuka pintunya lebar dan membiarkan beberapa orang masuk kedalam rumahnya.
Selalu jika ada sekapan kabur mereka akan memeriksa kediaman Kellan dan Giana. Karena Giana selalu membebaskan sekapan atau memberi bantuan pada sekapan itu untuk kabur. Apalagi jika yang kabur adalah sekapanan wanita.
Langkah tegas terdengar mendekatinya. Giana tampak santai. Hal semacam ini telah terbiasa.
"Menyebar dan temukan!" Perintah Tom.
"Makan Tommy" tawar Giana melihat orang-orang yang menyerbu rumahnya.
PRANK!
Suara pecahan terdengar. Dengan gerakan cepat yang tak terlihat Giana sudah berada di belakang tubuh Tommy, menempelkan ujung pisau steak yang tajam pada leher lelaki itu.
"Aku melonggar bukan untuk dilanggar" desis Giana mengancam. Suasana hening dan mencekam. Para anak buah Tom menatap sang ketua yang meyuruh mereka keluar.
Salah satu dari anak buah Tom berdecak. Ia tak terima kenapa tak mereka bunuh saja anggota rumah ini. Seperti rumah-rumah sebelumnya.
__ADS_1
Mengapa ketuanya berganti tak berdaya jika menyangkut anggota keluarga Kellan.
"Hegh!" Pekikan terdengar. Anak buah Tommy yang berdecak tadi, kesusahan bernafas. Lehernya terlilit oleh tentakel.
Tentakel milik Giana. Mata wanita itu berubah hitam merah. Tandanya Giana murka.
"Keluar dari sini atau kalian HABIS!!" suara Giana menggelegar.
"AAGH!"
Para anak buah Tommy berlarian diluar. Giana menyiapkan tentakel lainnya untuk menancap pada perut anak buah Tommy.
"Ini peringatan untuk Tom! Jika kalian mengusik ku dan keluargaku kau lihat apa yang akan aku lakukan pada kelompok tak tahu dirimu itu" geram Giana.
Darah mengalir dari ujung pisau Giana yang mengenai kulit Tommy.
"Maaf Giana!"
"Maaf"
"Maafkan kami, aku janji tak akan melakukan lagi." Ucap Tommy sedikit bergetar. Pisau yang Giana pegang menjauh. Dengan cepat ia keluar dari rumah Kellan dan Giana.
Di taman depan rumah Giana, Kellan sedang bermain ayunan dengan Albert. Menunjuk bintang-bintang yang berkelip.
"Jagoan kau lihat disana? Itu namanya bintang Orion. Bintang paling terang."
"Oon" Albert mengikuti sang ayah.
"Ya betul Orion"
"Nah yang itu bintang Vega"
"Pintar! Jagoan Dada memang pintar"
Albert yang dipuji oleh sang ayah kegirangan ia meloncat-loncat pada pangkuan sang ayah. Kellan mengusap sayang kepala sang anak.
Tak mengindahkan jika di dalam rumahnya istrinya bertarung layaknya pembantai sadis. Ia sempat melirik kepergian Tommy dan anak buahnya.
"Jagoan kita masuk ya"
"Ma … maa …"
"Iya mama didalam"
Kellan menggendong Albert masuk rumah ia mengunci dan memberi barier pada sekeliling rumahnya.
Ia tak ingin Tommy yang masih mengintai keluarganya. Mendapatkan cela untuk kembali menyerang.
"Honey kau tak apa?"
Ia melihat sosok Will sudah berada di meja makan bersama istrinya yang masih sibuk makan. Walau terlihat sisa kemurkaan sang istri. Bola mata sang istri masih merah.
"Tak apa, hampir aku bantai, namun Tommy tahu situasi jadi ia menghentikan tindakan gila anak buahnya."
"Maa … mama … maaa" Albert memanggil ibunya.
"Jagoan Mama sini sayang, kenapa haus ya main sama Dada diluar?" Giana mengulurkan tangan ke gelas milik Albert yang diisi air oleh Kellan.
__ADS_1
"Kau pasti terkejut?" Tanya Giana pada Willow. Giana telah kembali bergabung dengannya. Setelah meletakkan Albert yang sudah terlelap dalam kamarnya.
"Aku sering membebaskan sekapan mereka"
"Jadi jika ada sekapan yang kabur mereka akan mencari lebih dulu ke mari."
"Mereka menyekap secara acak semua korban"
"Sayang … " Kellan menegur sang istri untuk tak banyak bicara masalah kelompok itu.
"Kenapa? Biarkan saja—"
"Bukan, tapi mereka juga akan kalah dengannya" Suaminya memotong ucapannya membuat Giana merengut kesal, kepala Kellan menghentak ke arah Willow.
"Aku dengar kau menghancurkan markas mereka?" Tanya kelan pada Willow.
"Aku hanya mempertahankan diri" jawab ach Willow.
"Maksudnya?" Mata berbinar Giana, ia ingin mendengar cerita dari Kellan.
"Kau ini!"
"Cepat jelaskan aku ingin tahu maksudmu!" Nada tinggi Giana tak sabar.
"Jadi temanmu itu menghancurkan markas mereka. Banyak anggota Tommy menjadi korban. Apalagi wanita yang tak kau sukai itu, ia tewas"
"Oh si J4 lang itu! Sepantasnya itu terjadi pada wanita tak tahu diri itu."
Giana kesal bahkan ia pernah murka. Wanita yang dimaksud Kellan adalah Popi, berani-beraninya wanita itu menggoda suaminya.
"Kau hebat! Mari kita berteman!" Ucap Giana mendekap Willow.
"Kita bersaudara."
"Kau bangsa Guapo? Ada urusan apa mereka menyekapmu?"
"Mungkin wanita yang kau sebut J4 lang itu yang menyewa pada bandit sialan itu" ucap Willow menyesap sangria. Cairan hangat itu menjalari tenggorokannya. Membuat tubuhnya hangat.
"Ah si Popi itu" Giana mengangguk.
"Tidak G, ini bukan sesuatu yang acak, hal apa yang membuatmu harus berurusan dengan Luford?" Kellan bertanya dengan wajah serius.
"Jadi ini ada sangkut pautnya dengan lelaki itu" guman Willow.
"Iya, jadi lebih baik kau segera keluar dari pulau ini. Jika menyangkut Luford urusanmu akan menjadi panjang. Walau aku tak takut dengan Lelaki itu" Giana menjelaskan.
Ia mau membantu namun jika berurusan dengan Luford, ia malas. Dan lebih baik Willow keluar pulau secepatnya.
"Aku mendapatkan sinyal dari Giant Pipe juga sinyal dari High Majesty masuk dalam radarku, jangan bilang kau salah satu pasukan elit dari keduanya?" Kellan menelisik lebih jauh.
"Bisa dibilang begitu"
"Kalau begitu kau tidak usah keluar pulau. Mereka sedang mencarimu"
"Benarkah?" Giana tampak tak percaya.
"Kita tidak usah berteman lagi!" Lantang Giana.
__ADS_1
Tbc.