DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Lahan 11


__ADS_3

Braxton dengan wajah murka melihat video pada layar, Marzon yang linglung berjalan kearah titik buta cctv.


Dan menghilang begitu saja. "Tak ada lagi cctv yang menangkap keberadaannya"


"Kami tidak dapat menemukannya Tuan, Lenyap" lirih petugas yang sedari tadi ditugaskan mencari jejak Marzon yang hilang dari pengawasan.


"Bagaimana dengan pengawasan langsung" Marzon berusaha tenang.


"Kami tidak melihat ada yang keluar masuk dalam tiga hari ini."


"Siapa yang berjaga saat itu?" Seorang petugas pria, maju. Dari matanya, terlihat ketakutan namun semua itu salahnya. "Saya Tuan." Ia tak gentar.


Ia sudah pasrah. "Ceritakan yang tak terlihat di cctv padaku"


"Saya melihat, ia melayang dan berjalan kearah balik lemari itu, saya ikuti melalui cctv dan Lycan itu tidak melakukan pergerakan." para petugas pengawas dan pasukan menyebut Marzon, Lycan.


Penjagaan Marzon diperketat dengan menggunakan pintu super canggih, yang tidak bisa dibuka sembarangan.


Jadi para pengawas hanya bisa melihat dari luar. Dengan alat didalam sana, bekerja memonitor keadaan Marzon.


"Saya tunggu, ia tidak keluar." Petugas itu menjabarkan lagi. Sampai sekarang mereka tidak pernah membuka ruangan Marzon.


Ini hari ketiga marzon menghilang di balik lemari. Dan mereka tidak berani membuka pintu ruangan itu. Takut Marzon yang menjadi Lycan menjebak mereka.


Sudah jadi rahasia umum tentang kepintaran Marzon, dan saat menjadi Lycan kepintaran dan kemampuannya meningkat berkali lipat.


Dan itu penyebab tak ada perintah dari Braxton membuka ruangan Marzon.


PIP


Semua pandangan mengarah kesumber bunyi itu. Lalu dengan serempak kepala mereka melihat kearah ruangan Marzon.


Dan mereka melihat adanya Marzon yang berjalan santai dengan mata tertutup lalu kembali berbaring.


"Dia kembali!" Guman salah satu petugas. Di tempatnya Braxton masih berdiri dengan tatapan yang tak lepas dari Marzon.


*


*


*


Marzon menjadi raja di dunia bawah. Akhirnya ia mendapat penjelasan dari Hecate. Dan Marzon menyanggupi dengan barter.


Ia ingin menyelesaikan masalah di dunianya dengan adiknya, dan Hecate mengajukan diri untuk membantu.


"Bisa kulenyapkan dengan mudah" dan Marzon menolak. Ia tak akan membiarkan Braxton mati dengan mudah.


Ia ingin tetap menjadi tahanan yang ditakuti dan membuat 'adik' nya itu tersiksa dengan tidak mendapatkan apa yang paling ingin ia miliki.


"Tenang kau sekarang punya banyak, yang bisa kau andalkan" Hecate merentangkan tangan, memperlihatkan mahkluk yang berada disekeliling mereka.


Marzon hanya mengangguk. Walau sampai saat ini ia masih belum percaya dengan apa yang dialaminya.


"Kembalikan aku keduniaku, urusanku belum selesai disana"

__ADS_1


"Baiklah, namun ketika saatnya tiba, kau tak bisa menolak" Marzon mengangguk, Hecate melihat kesungguhannya.


Dan Marzon kembali dalam bentuk humanoidnya. Ia kembali dalam kamar, atau penjaranya,


Ia bisa merasakan, banyak mata memperhatikannya. Dari balik kaca hitam itu.


Mata Marzon membuka, ia menatap tajam satu titik di kaca hitam itu. Ada Braxton disana yang sudut biburnya terangkat. Mata mereka seakan saling tatap.


*


*


*


Braxton mengamati serius cairan yang ia putar pada tabung kaca dihadapannya. Cairan yang ia temukan direruntuhan Darkhole Lab, entah milik siapa.


Ia mengambil contohnya dan menelitinya, dan mendapatkan hal yang menakjubkan. Walau tanpa Walabi, ia bisa membiakkan sendiri bibit pohon uang yang ada dihadapannya.


Lahan luas terlihat dari jendela laboratorium miliknya. Diangkatnya ia menjadi tim elite, mengantikan sang kakak, membuat kekayaannya bertambah.


Ia mendapatkan sebuah laboratorium dengan lahan kosong yang luas. Pembibitan telah dilakukan oleh robot toples.


Ia tak sendiri, Ada seorang yang membantunya dalam penelitian, bukan membantu, ia terpaksa menuruti Braxton. Jika tidak ia akan tewas.


Brigita dengan wajah datar, ia menulis pada berkasnya. Ia selalu diawasi segala tindak tanduknya oleh Braxton.


"Coba kau beri ini pada lahan 11" total ada 20 ladang bibit pohon uang. Braxton menyerahkan botol kecil entah apa isinya pada Brigit.


Brigita tak ingin bertanya. Ia hanya mengangguk dan menerima saja.


Akhirnya, ia bisa menangani lahan yang ada dalam rumah kaca hitam. Disana ada bulan buatan.


Setelah makan siang Brigit menjalankan perintah Braxton, suara sepatunya bergema diantara tembok dengan pilar tinggi penghubung laboratoriun ke lahan-lahan milik Braxton.


Wanita itu berada didepan pintu besar kokoh yang tertutup dengan tulisan lahan 11.


Ia menempelkan jempolnya dan hawa dingin seketika keluar dari ruangan yang serba putih di baliknya.


"Selamat datang Madam" suara dari ruangan itu.


"Saya Lomo, akan memandu anda" Dahi Brigit mengerut. Ia takjub dan jiwa penasarannya semakin meninggi.


Blep!


Semua gelap.


Ziiiinkk ...


Zzzrrrrtttt ...


KLEK!


Terlihat cahaya biru dari logo Braxton Project alias BRPR, perusahaan Braxton, di lantai.


"Anda silakan berdiri di atas lingkaran bercahaya biru itu" perintah Lomo. Brigit mendekat. Ia berdiri diatas logo itu.

__ADS_1


Dan sebuah tabung kaca besar turun dari atas melingkupi seluruh tubuh Brigit.


Brigit tetap tenang walau jantungnya mulai berdetak tak karuan. Apa ini? Batinnya, apa Braxton menjebaknya?


Setelah ia membantu mengembangkan pohon uangnya? Banyak pikiran buruk yang bermunculan dalam otaknya.


Ziiiiiinkkkk ...


Keluar asap, Brigit panik. Tangannya menempel pada kaca, ia masih mencoba tenang. Asapnya sudah menyelimuti dirinya.


Tapi ia masih bisa bernafas. Walau was-was masih tercetak pada wajahnya. Tak lama asap itu disedot lagi dengan cepat. Hilang.


Ia bisa melihat, namun suasana masih gelap dan remang. Tabung kaca besar itu terangkat. Brigit menunggu robot komputer mengarahkannya.


Zleeeeng ...


"Silahkan Madam, masuk kedalam" sebuah besi seukuran pintu bergeser. Didalam sana hanya keremangan. Namun ada cahaya pada pinggir lantai sebagai penerangnya.


Brigit mengikuti jalan bersinar itu. Dan sampailah ia didepan laboratorium dengan banyak layar disana. Suasana remang namun banyaknya layar menerangi ruangan itu.


Disana hanya ada robot toples yang duduk didepan layar. Satu robot menengokkan kepalanya pada Brigit. Dan melangkah kearahnya berdiri.


"Selamat ... datang ... Madam," Dengan kaku ia menjulurkan tangannya.


"Berikan ... padaku ... botol ... kecil ... itu" bicaranya pun kaku.


Dengan cekatan Brigit memberikan botol kecil yang ia terima dari Braxton.


Robot itu kembali pada tempatnya. Ia mengetikkan pada keyboardnya, dan sebuah alat disamping robot itu bergerak, robot itu memasukan botol kecil pada alatnya.


Dari layar yang paling besar. Lahan dengan pohon-pohon disana, Terlihat air keluar untuk menyirami pohon uang yang tampak lebih besar dari lahan pembibitan lain yang hanya setinggi kaki orang dewasa.


"Boleh aku melihat berkas dari pembibitan disini?" Tanyanya pada Lomo.


Dan dengan cepat ia mendapatkan notifikasi dari Lomo. Brigit mengeser salah satu kursi disana, rasa penasarannya semakin kuat.


Ia tahu dengan kekuatan sinar bulan yang baik, maka pohon uang akan subur.


Tapi ini sinar bulan rekayasa atau buatan yang Braxton gunakan. Dan pertumbuhannya 50 kali lipat dari pembibitan manual yang ia lakukan. Senyum perlahan terlihat dibibirnya.


"Botol kecil itu, mana berkasnya?"


"Tak bisa Madam" Brigit tak terima penolakan Lomo, ia mencarinya sendiri. Penasaran menjadikannya keras kepala.


"Access Denied!"


"Access Denied!"


"Access Denied!"


Suara kencang dari Lomo bercampur suara sirine peringatan adanya bahaya. Brigit terkejut, tindakannya membuat alaram penyusup menyala.


"Siaal" makinya. Ia pun mendongak, pada suara gerakan kaku disekitarnya. 


Para robot yang tadi sibuk dengan layarnya mulai mendekati Brigit. Mata mereka berubah menjadi merah.

__ADS_1


"Ck!" Decakan keluar dari bibir Brigit. Penasaran yang membuatnya harus berhadapan dengan puluhan robot murka didepannya.


tbc.


__ADS_2