DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Bharat dan Phoenix Way


__ADS_3

Bharat memasuki ruangan dalam rumah yang berbentuk teapot. Ia hanya mengikuti kemana Haiyla membawanya. Seminggu uang lalu ia diberitahu Simon bahwa akan membawanya ke tempat ujian tahap selanjutnya.


Bharat menyebut ini ujian karena memang seperti ujian. Harus bertarung dengan apa yangbakan didepannya dan akan mendapat sesuatu yang akan meningkatkan kemampuannya.


Bharat agaknya merasa gelisah mahkluk seperti apa yang akan ia hadapi diakhir tahapan.


Apa ia mampu? Mengapa baru sekarang ia memikirkan bagaimana hidupnya selanjutnya? Apa yang ia pikirkan saat kemarin bersedia menerima tahta Ratu Putih?


Entah apa yang membuat pikirannya rumit. Ia masih merasa semua yang ia jalani ini adalah mimpi.


Dengan entengnya ia meng-iya-kan permintaan Haiyla. Bodoh! Bharat menyandarkan punggungnya pada kursi empuk yang ia duduki.


Ia sedang menunggu Haiyla. Moon Goddess itu sibuk mengurus sesuatu. Bharat terkejut Haiyla merubah diri menjadi manusia normal, maksudnya tak menggunakan gaun melambai dengan hiasan gaun yang menjuntai dan bersinar.


Ia menggunakan pakaian yang sama seperti Bharat kenakan. Tetap cantik. Bharat melihat Haiyla memanggilnya.


Ia mendekat. Haiyla membeeikan beberapa botol dan kapsul padanya, untuk disimpan.


"Bharat?" Seseorang menyapanya. Bharat menengok. Seekor Lycan? Bharat mengernyit. Selama ini ia tak pernah kenal dengan Lycan.


"Kau menggenalnya Ratu?" Tanya Haiyla. Bharat menggeleng. "Tidak"


"Ayo" Haiyla mendahului Bharat yang masih memperhatikan Lycan yang juga menatap ke arahnya. Dan melangkah menyusul Haiyla.


"Kita akan ketahap selanjutnya, ke Phoenix Way, disana aku akan menyerahkanmu pada Lisica, disana kau tanggung jawabnya"


"Aku juga akan mengawasimu ditempatku, kau sudah mempelajari apa yang aku suruhkan?"


"Iya,"


"Apapun yang akan kau butuhkan nanti di Phoenix Way, Lisica yang akan bertanggung jawab"


Mereka melanjutkan perjalanan. Mereka sampai di jembatan melayang. Haiyla menyuruh Bharat menguji kemampuannya membuka portal dimensi.


Ia mengerakkan tangannya dengan gemulai menari diudara, dan terlihat pentagram dengan cahaya keunguan terpancar.


Ada gapura yang berubah berwarna gelap. Haiyla memeriksa portal itu dengan kekuatannya. Dan senyum terbit diwajahnya. Menengok ke Bharat sekilas lalu masuk kedalam portal.


Ada kebanggaan di hati Bharat. Sebenarnya ia sudah merasa nyaman dengan kegiatannya ini. Rasanya seperti memang disinilah seharusnya dirinya berada.

__ADS_1


Makanya, ia tak menolak permintaan Haiyla. Sebab yang tadi ia cari dan ia mendapatkan jawabannya.


Langkah kakinya menapak pada hamparan luas bunga daisy yang menyebar disetiap mata memandang.


"Selamat datang Moon Goddess Haiyla, dan Ratu Putih" Seekor rubah dengan armour putih emas, menundukan kepala, hormat padanya.


"Lisica, apa kabar?" Sapa Haiyla.


"Baik, Moon Goddess"


"Bharat dia Lisica, Minta padanya jika kau membutuhkan apapun" Bharat menatap rubah itu.


"Saya Lisica, Silahkan meminta apapun pada saya Ratu" Lisica menunduk lagi.


"Baik, Bharat, Ratu Putih" Bharat mengulurkan tangannya. Haiyla terkekeh, sedangkan Lisica menerima jabatan tangan Bharat dengan menegklengkan kepalanya bingung.


"Sudah, Aku tinggalkan kalian berdua" Haiyla dengan cepat menghilang, hanya meninggalkan kepulan asap.


"Silahkan kemari Ratu"


"Apa nama tempat ini?" Bharat menanyakan lagi. Ia tadi tak terlalu mendengar penjelasan Haiyla.


"Phoenix? Apa ada disini? Burung mitologi?" Bharat hanya tahu dari buku-buku yang ia baca, Phoenix tak ada bahkan ditempatnya para peneliti belum bisa menciptakan hewan mitologi satu itu.


Padahal sudah banyak mutan ciptaan di tempatnya yang mengacu pada mahkluk-mahkluk mitologi.


"Disini tempatnya." Lisica menjelaskan dengan wajah senangnya. Ia tak sabar melihat kekaguman Bharat jika nanti Ratunya melihat burung mitologi itu.


Bharat menatap ke atas, ia mencari naum tak ada satupun ia temukan Phoenix-phoenix itu.


Langit kosong. Bahkan taknada hewan-hewan lain yang berterbangan padahal ia berada di hanparan bunga.


ZLENK!


Kuping Bharat mendenging, sakit. "Arg!" Pekiknya


"Kau tak apa Ratu?" Ia merasa teledor harusnya ia memberi Bharat earphone, agar mengurangi dengingan saat memasuki Phoenix Way sebenarnya.


"Tak apa Ratu, ini hanya sementara" Bharat mengangguk, ia mengingat dari bukunya.

__ADS_1


Syuuuutttt ...


Syuuuttt ...


Syuuutttt ...


Gerakan diatas kepalanya membuat Bharat mendongakkan kepala, netranya melebar.


Melihat ekor panjang menjuntai indah dan berapi yang terbang diatasnya meninggalkan percikan-percikan api.


Bharat tak bisa menahan kekagumannya pada hewan yang berseliweran diatasnya.


"Phoenix" gumamnya lirih.


"Indah sekali"


"Mereka bebas disini, ada juga yang memiliki majikan, namun aturan disini membebaskan mereka."


"Dan saat pulang mereka akan pulang kemajikan mereka masing-masing" penjelasan Lisica bangga.


"Ratu juga bisa memiliki satu jika mau"


"Ah ... tidak, aku ingin mereka bebas" Lisica mendengarkan Bharat dengan sudut bibir yang terangkat.


"Mereka bebas Ratu, dan tahu jika mereka memiliki majikan."


"Saya akan antar ke tempat Anda menginap untuk malam ini Ratu"


Netra Bharat masih tak mau lepas dari kumpulan Phoenix yang sedang bercengkrama. Di sudut rumah berbentuk pohon.


Selain Phoenix, bentuk rumah yang berada disini juga unik. Rumah berbentuk pohon, seperti penginapan yang ada didepannya. Tak jauh dari tempatnya pertama kali ia menginjakkan kaki di Phoenix Way tadi.


"Silahkan masuk Ratu, anggap saja rumah sendiri, saya tinggal sendiri,"


"Ini kamar Saya, dan ... ini kamar Anda, silahkan beristirahat, kita berjumpa makan malam nanti"


Bharat memasuki kamarnya, dan duduk diranjang empuk. Rasanyabtak sabar untuk berkeliling tempat ini. Apa namanya tadi Phoenix Way.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2