DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Pertemuan Omong Kosong


__ADS_3

Camy mengunjungi desa Arctos. Ingin berterima kasih, dengan bantuan shield yang mereka berikan, juga ingin menjenguk Bharat.


Simon menyambutnya di rumah Roxane, Simon menceritakan bahwa Bharat sedang mengikuti ritual. Dan mengalirlah cerita tentang Bharat.


"Jadi Kami ingin meminta Bharat untuk desa kami"


Camy mengangkat alisnya, ini hal yang mereka harus tanyakan pada Bharat. "Aku ikut dengan keputusan Bharat."


"Kami tidak menghalangi jika Bharat bekerja dengan DarkHole. Ia bisa melakukan kegiatan tapi mungkin Bharat akan sering mengunjungi Desa Arctos."


Camy mendengarkan dengan seksama penjelasan Simon.


"Makan malam siap" Pintu ruangan Simon terbuka, Roxane, terlihat senang, sekarang banyak orang dirumahnya. Ramai, seperti jaman saat Amarin dan Rudolf masih ada.


Ia menarik Camy, "Ayo cepat keburu makanannya dingin"


"Kau ini pak tua, jangan menahan tamu kita diruanganmu!" Hardiknya kesal.


"Oh ayolah Camy tamuku" Simon tak mau kalah. Adu mulut terjadi, tapi Camy merasa hangat. Ini sama seperti saat ia di keluarga Collen.


Ia menyerahkan keputusan pada Bharat, kalau di minta pendapat, Camy akan menganjurkan Bharat menetap dan berkumpul dengan keluarganya.


Di DarkHole dan Bukit Rfizt, banyak rasa keluarga yang mereka dapat dan ciptakan, namun didalam hati mereka yang terdalam, mereka merindukan sebuah keluarga tempat mereka pulang sesungguhnya.


Camy tak memungkiri itu, sebab ia pun begitu. Berada di tengah keluarga sangat menyenangkan.


Camy disambut hangat disana, makan malam yang melimpah, senda gurau yang hangat, juga perdebatan kecil dan lucu. Membaur menjadi satu.


Dan di luar sana ada sepasang mata menatap makan malam menyenangkan itu dengan tajam. Ia mengepalkan tangannya, dan meninju dedaunan tempatnya bersembunyi. Lalu ia pergi.


*


*


*

__ADS_1


Marky memasuki gedung Walabi. Melangkah dengan percaya diri. Hari ini ia akan ramah tamah dengan kawan lama.


Esmas menyambutnya di lobby. "Hey Marky, bagaimana perjalananmu kesini?" Esmas mengulurkan tangan.


"Sudah banyak yang berubah, dari yang dulu" Marky menyambut tangan Esmas. Kemudian berpelukan.


"Kau terlalu sibuk dan susah untuk bertemu denganmu, ini suatu kehormatan  kau mau datang" basa basi Esmas. Dengan mengiring Marky menuju ruangannya.


"Ayo silahkan duduk" Esmas melankah ke kesofa.


"Apa kabar dengan mu? Aku senang mendengar Nokturnal semakin berjaya di tanganmu" Esmas meraih cangkir dan menuangkan teh yang sudah disiapkan oleh robot disana.


"Ah kau terlalu memuji" Marky melepaskan kancing jasnya. "No sugar"


Saat Esmas menawarkan gula. Lalu meletakkan cangkir teh ke depan Marky. Marky mengambil teh yang masih mengepul asapnya itu. Dan menyesap sepat pahit teh.


"Perkembangan Walabi juga terlihat bagus," pandangannya menatap ruangan Esmas.


"Ya begitulah, berterima kasih pada anakku yang membuat Walabiasih berdiri hingga saat ini"


"Siapa? Pina?"


"Siapa lagi"


Tok! Tok! Tok!


"Dad, kau memanggilku" Pina masuk keruangan Esmas. Ia melihat seorang pria tua yang duduk didekat Daddy-nya.


"Pina sini, kau masih ingat, ini teman ayah, Paman Marky" Pina duduk disebelah Ayahnya.


"Kau Pina? El Pinado? Keponakan paman, si rambut mangkok?"


"Apa kabar paman?" Pina mendekati Marky. Marky berdiri, ia memeluk pria gagah dan tinggi didepannya.


"Baik son! Kau dulu sebesar ini, sekarang menjadi pria dewasa. Astaga, waktu berjalan cepat" Marky melepaskan pelukannya. Pina hanya tersenyum formal.

__ADS_1


"Iya bahkan ia bisa membuat Walabi sebesar ini, Kalau bikan karena kerja kerasnya, perusahaan ini akan sama" Esmas menepuk bangga bahu Pina.


"Cerita kan pada paman, sudah berapa gadis uang kau buat patah hatinya?" Pina hanya tertawa. Ia akan mengikuti alur yang Marky buat, dan ia memilih menjadi Paman teman akrab ayahnya.


"Ayo kita lanjut makan siang" setelah lama mereka mengobrol basa basi. Mereka keluar untuk makan siang. Pasti setelahnya Marky akan membahas, mundurnya Walabi pada salah satu projek yang Nokturnal buat.


Betul sekali, "Maaf paman, setelah meninjau ulang, Walabi tidak cocok dengan projek itu, maka kami mundur sebelum terlalu jauh." Pina maju, ia menerangkan alasan yang membuat Walabi mundur.


"Karena konsep saat temanku memberi berkas dan kenyataan lapangan sangat berbeda"


"Wah nanti Paman tinjau ulang berkasnya, bukan bagaimana, tapi paman kuatir, ini akan memepengaruhi persahabatan kita Esmas" Marky tersenyum ramah.


"Tidak akan! Kerja sama ini tidak berpengaruh dengan kita, Marky, bisnis dan personal tidak bisa tercampur." Tegas Esmas.


Marky menyesap kopi hitamnya. Dengan senyum memuakkan.


"Jadi lega, waktu mendapat laporan, Walabi terlibat projek di Nokturnal, aku sangat senang, tapi mendengar kalian mundur, aku kira kalian tak puas dengan perlakuan kami"


"Tidak Paman, kalian memperlakukan kami sangat baik" jawab Pina tenang.


"Oke secepatnya pama akan tinjau projek itu, tapi Pina jangan kapok ya, kerjasama dengan kalian akan memperkuat perusahaan kita berdua, dan paman juga inhin melihat sudah sehebat apa ponakan Paman ini" terdengar ramah, namun juga ada tantangan didalamnya, Pina menaikkan satu sudut bibirnya, saat menyesap tehnya. Lalu berubah ramah saat menatap Marky.


"Aku juga tak sabar paman, Menunjukannya padamu" Marky teryawa keras.


"Ini ponakan paman! Percaya diri, paman jadi tidak sabar untuk kita kerja sama lagi"


"Janji yaaa ... " Marky mengerak-gerakkan telunjuknya.


"Siap paman!" Pina dengan percaya diri.


"Paman suka ketegasanmu, nanti paman tagih" Marky menatap lurus dengan senyuman ramahnya.


Dan Esmas tahu jika itu senyuman palsu, dengan banyaknya basa-basi omong kosong.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2