DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Misi Gagal


__ADS_3

"APA!" Patrik bergegas mengikuti pria didepannya. Jalan dengan cepat. Pria itu membuka pintu dan disana telah berbaris beberapa orang melirik kedatangannya.


Ia menatap lurus. Kakinya bergetar. Bibirnya terbuka. Tangannya menjulur ingin menyentuh yang ada didepannya.


Ia mengelus dan "Kenapa? mengapa bisa begini?" Ia terlihat terkejut juga cemas.


Semua pohon uangnya kering dan hampir mati. "Cepat, lakukan sesuatu! kenapa bisa begini!" Pekiknya tatapannya masih tertuju pada pohon-pohon disana.


"Mati! Aku tak akan selamat!" Patrik memutar isi kepalanya. Apa yang akan ia katakan pada Marky. Apa ia kabur saja. Tidak! Jika itu ia lakukan maka sama saja ia masuk dalam jurang kematian lebih cepat.


"CEPAT! KERAHKAN SEMUA KEMAMPUAN KALIAN!" teriak marah Patrik.


"I ... ini laporannya Tuan" seorang pria menerima tatapan tajam dari Patrik. Ia mengambil laporan itu dengan kasar.


"Kekeringan, kurangnya air! Kenapa bisa kalian seceroboh itu!" Ia membuang laporan ke lantai. Dan peneliti lain mengambil laporan yang dibuang Patrik.


"Teliti lagi! Dan kembalikan seperti semula! Keluarkan semua kemampuan kalian karena hidup dan mati kalian ada pada pohon itu! Dengar!" Mereka berhamburan ke tampat masing-masing melakukan observasi lanjutan.


"Sore nanti, berikan laporan kalian ke meja saya!" Patrik keluar dengan langkah panjang.


Ia mengarah ke ruangannya. Ia akan menghubungi seseorang yang mungkin akan membantunya dalam menyelesaikan masalah ini.


"Brigit, kau masih memiliki Plant Fast? Kirim padaku!"


"Ada apa Patrik?" suara wanita disebrangnya.


"Kirimkan saja padaku! Jangan banyak tanya!"


"Okay"


"Dan kirim semua observasi terakhirmu mengenai Plant Fast juga pohon uang yang aku berikan padamu!" Brigita Owen menatap beberapa pohon yang telah berhasil ia kembangkan, juga satu pohon yang cukup menjulang berada di balkon kamarnya.


"O ... okay ... " ia sangat ingin menjualnya dengan harga tinggi dipasar gelap Nokturnal. tapi sepertinya ia harus menyembunyikan bibit-bibit yang ia kembangkan itu sebelum Patrik mengetahuinya.


*


*


*


Willow dan Brandon memiliki rancananya, begitu juga Marky.

__ADS_1


Camy dan Marzon. Sudah memulai memasuki area Nokturnal. Mereka telah mengantisipasi keadaan. Mata mereka awas.


Mulai memasuki daerah Nokturnal. Mereka datang dengan kendaraan berbeda. Marzon sudah berada ditempatnya beberapa jam yang lalu.


"Exit Sixteen" Camy memberi tahu lokasinya pada Marzon.


"Masuk kedalam ikuti lorong dan nanti ada pintu merah kau masuk kesana" petunjuk dari Marzon.


"Dari situ ada di denah yang kukirim. Kita bertemu di Waterfall Blok" Marzon kemudian mematikan panggilannya.


Camy hanya mengangguk, ia memasuki lorong dengan dinding abu-abu terang disudut, ia telah melihat pintu merah, pintu yang dimaksud Marzon.


Dibukanya pintu itu. Ia memasuki dan tanpa di koneksikan dari softlensnya data dan denah yang Marzon kirimkan mulai mengarahkan Camy pada tujuannya yaitu dimana buku ayahnya ---yang dulu pernah Marky ambil--- tersembunyi.


Sedangkan Marzon yang berada di saluran udara, kembali bergerak, ia akan ke ruangan Braxton. Dan juga mengambil senjata yang Braxton curi dari Labnya.


Senjata yang berbahaya namun Braxton belum mengetahui apa fungsi sesungguhnya dari senjata itu.


Sebelumnya tugas Marzon melemahkan sistem keamanan depan Nokturnal. Dan juga mempermainkan cctv mereka.


Marzon merayap. Ia menemukan sebuah lubang besi dan memasukan Peri-Peri dan mencoba memindai sekitar. Kosong. Dan ia mulai melepas besi penutup saluran udara itu.


Marzon masuk perlahan. Ia menurunkan seutas tali dan menurunkan dirinya. Gerakannya sangat ringan. Kakinya menyentuh lantai dan kemudian mencari tanpa menyiakan waktu.


Ada sebuah bilik, terdapat tumpukan kardus-kardus layaknya sebuah gudang.


Ia menggeser sebuah pajangan kecil dan dindingpun bergeser kedalam, membentuk sebuah pintu terbuka.


Marzon menyusuri lorong dengan nuansa gelap. Dan mendapati pintu besi besar kokoh. Dengan pemindai didepannya.


Marzon menganti soflensnya dan menyesuaikan dengan mata Braxton, ia mendekatkan dan "No Match" guman lirih Marzon. Dengan jarinya ia menggeser sedikit soflens dimatanya dan berkedip beberapa kali.


"Welcome Mr. Braxton!" Suara robot pemindai,


DUM! Bzzz ...


Asap putih keluar dari dalam ruangan dan disana terlihat laboratorium dengan banyak gelas-gelas kaca, hasil eksperimen.


Berbagai organ yang ada dalam jar-jar kaca besar. Marzon tidak menyangka adiknya melakukan ekperimen seperti ini.


Perlahan Marzon mendekat pada sebuah foto yang tampak familiar. HELGA. ia mengambil dan melihat lebih dekat.

__ADS_1


Marzon mencoba fokus namun sakit kepala tiba-tiba ia rasakan. Semakin lama semakin menyakitkan.


"Aaargh ... " pekik Marzon yang mulai memegangi kepalanya. Ia sampai berlutut, tak mampu menopang tubuhnya yang ikut lemas.


"Kenapa?" Marzon bingung. Tangannya bergetar, ia mencoba menghubungi Camy.


Pikirannya masih jalan walau sakit kepalanya seperti ingin membelahnya hidup-hidup sekarang namun Marzon tahu ini sebuah jebakan.


"Hai kakak?" Kursi berbalik. Dan ada Braxton disana menyeringai mengerikan. Ia berjalan mendekat dan mengambil lembar foto tadi.


"Cantikkan?" guman Braxton dengan lembut tapi tak mengubah raut mengerikan di wajahnya.


"Kau sudah lihat kan kak, dia sangat cantik" Braxton meneruskan kata-katanya. 


"Hhrgg ... " Braxton tak peduli dengan kesakitan Marzon.


"Sejak dulu aku suka dengannya, kau tahu kak? Dia cinta pertamaku" Seringaian Braxton lebih lebar mengingat kenangan itu. Dengan suara lirih ia berkata, "Juga patah hati pertamaku"


Marzon melihat kelakuan adiknya itu dengan matanya bergetar memerah menahan sakit pada kepalanya. Otot lehernya ikut menyembul. Urat-urat ditangannya keluar karena kepalan tangannya yang kencang.


"Hmrrrmgh ... " ia masih harus bertahan, siapa wanita dalam foto itu, tampak familiar namun Marzon tidak mengingatnya.


"Kau! Kau merebutnya dariku! Kau! Bahkan ... membunuhnya!" Seruan Braxton membuat Marzon menoleh padanya.


Mata mereka bersimborok, dalam pikirannya adiknya senang melantur, jelas-jelas ia tak mengenal siapa wanita pada foto itu.


"Siapa dia?" lirih Marzon. Banyak pertanyaan pada adiknya tapi hanya kata itu yang bisa ia lontarkan. Rasa sakit ini membatasinya.


"Helga, Helga Abigail. Kasian sekali dirimu sayang! Lelaki yang kau cintai ini melupakanmu begitu saja," Braxton tertawa terbahak, padahal tidak ada hal yang lucu.


"Bahkan setelah kau mengorbankan dirimu untuknya" tawanya masih memenuhi ruangan.


"Apa yang kau katakan? Apa yang kau lakukan pada tubuhku?" Ucap Marzon. Ia mulai merasakan tubuhnya semakin melemas,


"Aku tidak mengira, kau bisa begitu saja aku tipu Marzon! kemana perginya pikiran-pikiran licikmu dulu" Braxton mendekat dan memegang dagu Marzon kemudian melepaskannya dengan kasar hingga kepala Marzon terlempar kesamping.


"Lawan aku! kemana kekuatanmu? HAH!" bentakan Braxton. Semakin menjadi Braxton mendorong tubuh Marzon dengan keras, Marzon pun oleng,


ia yang akan jatuh menumpuh tubuhnya dengan tangan, matanya menatap tajam Braxton yang menyeringai senang.


ia mencoba menggelengkan kepalanya agar tetap bisa fokus namun semakin lama pengelihatannya semakin memburam dan gelap. Marzon tersungkur dan ia tak sadarkan diri. sedangkan Braxton melihatnya dengan sudut bibir terangkat.

__ADS_1


tbc.


__ADS_2