DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Bertemu Potka


__ADS_3

"Wina?" Suara yang Wina kenali. Ia melirik dari tudung wajahnya. Dan melihat jelas. Nafasnya berubah lega. "Potka? Kau mengagetkanku!"


"Kau yang mengagetkanku, sudah kubilang kau tunggu dulu di Needle Bees, kenapa kau kemari!?" Hardik Potka lirih, dengan menarik lengan Wina ke pinggir jalan.


Matanya awas pada sekeliling. "Disini banyak utusan Marky berkeliaran! Kau ingin dibawa kembali hah!?" Wina hanya mengerucutkan bibirnya. Ia bosan.


"Aku bosan! Aku menunggumu! Tapi kau disini bersenang-senang"


"Apa kau bilang!" Potka tak sekalipun bersenang-senang, ia sangat berhati-hati. Menjaga agar para partner kerjanya sesama pasukan elit milik Marky tidak curiga dengannya.


Namun apa yang ia dapat Wina muncul. Potka menatap tajam Wina.


"Kau terlalu berisik anak muda" suara terdengar dari punggung Wina.


"Siapa itu?" Potka menatap sekaliling mencari sumber suara. Tatapannya berhenti pada Wina yang terlihat pucat pasi. Dengan punggung yang bergerak sesekali. Mencurigakan.


"Diamlah!" Bisik Wina sepelan mungkin.


"Siapa yang kau bawa?" Potka meraih bahu Wina, namun wanita itu memundurkan dirinya, melepas rengkuhan tangan Potka pada bahunya, ia menjaga jarak aman dengan Potka.


Potka semakin curiga. Ia kembali meraih bahu Wina. Dan dengan cepat membalik tubuh wanita itu.


Ia melihat sebuah buku di punggung Wina. Buku tebal. Ia mengambil buku tebal itu dan membaca tulisan pada sampul depan buku itu.


"Buku tentang Phoenix Way?" Alis Potka terangkat. Ia menatap mata Wina menelisik. 


"Untuk apa kau bawa buku tua penuh debu ini?" Ucap Potka tanpa melepaskan tatapannya pada Wina.


"Hei anak muda jaga kesopananmu! Dasar kalian generasi tidak tahu sopan santun!" Ritmi mengomel ia tak suka jika diejek tua. Walau tua ia tahu seluruh Phoenix Way.

__ADS_1


Otaknya sangat pintar.


"Rupanya suara jelek itu suaramu buku tua!" Ejeknya.


"APA KAU BILANG!" Teriakan  menggelegar. Ritmi memberontak dari tangan Potka ia melayang di udara, asap kemarahan keluar dari sisi atas buku. Dan buku yang berwarna coklat kehitaman berubah menjadi merah kehitaman.


"KAU MEMBUATKU MARAH!" Bentak Ritmi.


ZZZRRTTT … CTAR!


Kilat menyambar sisi kiri Potka dengan cepat menghindari serangan buku tua itu. Percikan api membakar jerami yang ada di samping Potka. Dengan cepat api itu membesar.


Potka menghindar tepat waktu. Lelaki itu berlari mencari tempat persembunyian. 


"Ritmi! Tenang! Kau bisa mendapat masalah" ucap Wina menenangkan si buku tua yang sedang marah itu.


Wina melihat sekitarnya. Orang sudah mulai melihat pada mereka. "Nanti!" Ucap Wina menggantung.


"Nanti kau bisa menyerang lelaki itu nanti! Kau tak ingin ditangkap karena mengganggu lajunya penobatan Ratu kan? Simpan kemarahanmu untuk nanti" Lanjut Wina.


Zzzaaatt …


Blink!


Kembali, buku itu kembali ke warna semula. Coklat kehitaman. Potka melirik dan keluar dari persembunyiannya.


Ia melihat suasana yang tenang dan kembali dihadapan Ritmi yang masih kesal dengan Potka namun ia menimbang perkataan dari Wina yang benar adanya.


"Sekarang lebih baik kalian berbaikan" Ritmi tentu tidak mau dengan usulan wanita yang membawanya itu.

__ADS_1


"Tidak perlu!" Ucap Ritmi ketus.


"Siapa yang mau berteman dengan buku tua berdebu!" Potka tak kalah ketusnya.


"KAU!"


"Potka!" Ritmi dan Wina bersamaan. Potka mengangkat kedua tangannya. Ia menyerah dan tak akan membuat ulah lagi.


"Sekarang kau beritahu aku apa yang kau dapatkan." Wina mulai bertanya. Apa yang membuatnya menunggu begitu lama di Needle Bees.


"Alasan apa aku harus menunggumu di Neddle Bees?" Wina melipat tangannya didada, menunggu penjelasan Potka.


Potka kembali awas pada sekitar. "Nanti, kita ke tempat aman, ikuti aku" ucap Potka yang sudah mendahului mereka berjalan.


Mereka kembali ke kerumunan. "Pakai rapat tudung kepalamu!" Perintah Potka. Wina menarik tudung kepalanya. Dan jalan dekat dengan Potka.


"Aku melihat Rooki!" Bisik Wina saat pasukan elit milik Marky berpapasan dengannya.


"Makanya aku bilang kau tunggu di Needle Bees, ini salah satu alasannya!"


"Salah satu!"


"Nanti aku jelaskan semua! Kau sabarlah!" Potka kembali berjalan cepat didepan Wina. Wina tentu dibuat penasaran. Ia mengikuti langkah panjang dan cepat Potka.


Mereka melewati banyak robot toples berlalu-lalang, menjaga, dan para pasukan elit Marky tentu menyamarkan diri menjadi bangsa dunia bawah.


"Aku merasakan hawa peperangan besar" Ritmi bersuara lirih tidak ada yang mendengarnya.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2