
"Ketua, Bos menunggu." Suara dalam alat yang sekarang masih bersuara. Disana Alex dan yang lainnya. Mengangguk.
"Bilang padanya untuk menyerang" perintahnya yang menyamai ketua dari penyusup.
"Baik!"
"Kalian bersiap! Kita kejutkan mereka." Alex berjalan santai menuju tempat dimana mereka menyekap pasukan lawan. Ia berada disana sendirian. Yang lainnya menunggu dari tempat mereka bersembunyi.
Derapan beberapa langkah kaki terdengar berisik. Desingan benda api melawan robot-robot toples terdengar.
"Angkat tangan" Alex melirik ke arah belakang. Ia pura-pura terkejut. Dan mengangkat tangannya, todongan senjata api dengan laser merah membidik dahi Alex.
"Siapa kalian! Ada apa ini!" Seruan Alex. Ia berakting bagus. Penodong itu terkekeh. Ia merasa menang.
"Kami yang akan mengambill alih tempat ini, sekarang!" Suara wanita terdengar. Ia menyeruak diantara kelompok itu.
Derapan lain terdengar, Amber dan yang dua orang lainnya muncul di belakang
Alex dapat melihat. Seorang wanita yang ia kenal membuka penutup kepalanya. "Oh kau Flesi? Bagaimana cara mu menyusup?" Ucap santai Alex.
"Kau tak perlu tahu, penjagaan kalian sangat mudah kami bobol" Decakan merendahkan terdengar.
"Sudahlah! Kita habisi saja wanita ini, dia yang membunuh kekasihku ketua kalian!"
"SERANG!" Teriakkan dan amukan menggema.
Pasukan Raflesia menyerang Alex dan lainnya. Alex dengan menghalau serangan senjata api. Ia menendang tangan yang memegang senjata, lelaki dengan kepala paus itu dengan gerakan gesit menghantam ulu hati Alex
Alex mundur beberapa langkah ke belakang. Ia menatap tajam lelaki itu. Alex melancarkan serangannya. Ia mengincar titik lemah lawan.
Dan gerakan kakinya menghentak tanah. Ia melayang, dan mengarahkan kakinya ke kepala lawan.
Namun ia kurang gesit. Kakinya ditangkap lelaki paus itu dan tubuhnya dibanting keras ke tanah.
Saat lelaki itu bersiap menyiku perutnya yang tergeletak di tanah dengan gesit Alex menghindar, mengelinding dan bangun.
Ia memberi jarak. Nafasnya memburu. Ia melihat Amber yang juga kesusahan. Namun Clara dengan cepat membantu Amber setelah membuat Raflesia tersungkur tak sadarkan diri.
"Hgh!" Alex lengah, lelaki paus berbau amis itu menghimpit lehernya dari belakang dengan lengan.
"Kau telah membunuh kakakku, dan terima pembalasanku." Tangan lelaki itu mencengkram erat kepala Alex, ia ingin melepas kepala Alex.
Alex memberontak. Namun semakin cengkraman lelaki itu mengeras. Kekehan terdengar. Nafas Alex tercekat dengan cekikan lengan lelaki paus itu.
"ARH!"
__ADS_1
BRAK!
Alex melihat adanya cela. Ia menekan tombol di tangannya, lalu ia menyikut keras perut lelaki itu. Hentakan yang ditimbulkan membuat lelaki itu terhempas. Ia melayang dan menabrak keras ke dinding.
Ia terkapar di tanah. Dan berdiri dengan tatapan marah.
Alex mengelus lehernya, menormalkan kembali nafasnya, ia menghirup banyak-banyak udara di sekitar.
"Siaal!" Maki Alex yang masih merasa nyeri pada batang lehernya yang memerah.
"Hargh! Mati kaliaan!" Ia mengeluarkan senjata apinya yang lain. Serangan yang membuat Alex bersembunyi. Serangan acak dan brutal lelaki Paus itu arahkan padanya.
"Ba jing an! Aku tertembak!" Maki Amber. Dari earpiece-nya Alex dapat mendengar keluhan Amber.
"Clara akan membawamu masuk! Dan kalian keluarlah! Mereka membawa banyak pasukan!" Perintah Alex.
Alex mengintip. Ia kembali masuk dalam persembunyiannya dan menyiapkan peralatan tempur miliknya. Ini saatnya.
Ia kembali mengintip, mengangkat senjatanya dan membidik.
CTAK!
"ARGH!"
BRAK!
Alex berlari mendekat dengan tembakan yang mengenai pelindung si lelaki paus. Ia menyasar dahi-dahi mereka.
Dor!
Dor!
Dor!
Hingga tak ada lagi penyerangan. Alex mendekati lelaki paus itu dengan menodongkan senjatanya.
Lelaki itu menunduk dan terus merintih kesakitan.
SRRTTT …
Lelaki paus itu merebut senjata Alex. Dengan cepat dan gerakan gesit Alex yang langsung melompat ke atas tubuh lelaki itu memperebutkan senjata apinya.
Mereka bergelut. Alex menghantam pelipis lalu memelintir tangan lelaki itu ke belakang dengan gerakan yang cepat. Ia pun menekan bekas tembakan di tangan lelaki paus hingga rintihan meyakitkannya menggema.
Dan mendorong lelaki itu ketanah dan ia mengunci dengan kakinya. Setelah menendang jauh senjatanya yang jatuh. Agar tidak ada dari mereka yang mendapatkan senjata itu.
__ADS_1
Alex dapat melumpuhkan lelaki paus itu. Derapan kaki terdengar ramai di belakangnya. Daniel dan yang lain datang.
"Alex kau tak apa?"
"Amankan dia" ucap Alex menyerahkan Lelaki paus yang tengkurap dengan tangan yang terikat kebelakang pada salah satu orang ExSide.
"Bawa ke tempat itu"
"Argh! Lihat saja aku akan membunuh kalian satu per satu!" Umpatan lelaki paus dengan memberontak.
"Disini beres" ucap Alex tanpa peduli dengan ucapan lelaki paus itu.
"Aku akan menghubungi Camy" lanjutnya Alex segera menyingkir.
*
*
*
"Cam, Bukit Rfitz di serang, namun Alex dan yang lainnya berhasil mengalahkan penyerangnya" Jo memberi tahu Camy yang sedang mengatur keamanan desa Arctos.
"Aku sudah dengar dari Alex, ia baru saja menghubungi ku" Camy menatap Jo yang masih ingin bicara.
"Ya ternyata penyerang Alex tak ada hubungannya dengan Marky, mereka dendam pada Alex karena membunuh ketua dari Klan Trudy"
"Ah, penyelamatan Loreen?" Joana mengangguk.
"Jadi yang menculik Alex pun mereka?" Kembali wanita dengan rambut keriting hitam itu mengangguk.
"Amber terluka, namun Druw sudah mengobatinya" lanjut Joana.
"Camy, sepertinya ada yang tak beres, aku rasa kita sudah kecolongan" ucap Emmanuel, "ada penyusup, dan dalam jumlah banyak" ucap bangsa serigala itu.
Camy berdecak, ia meraih layar yang Emmanuel perlihatkan. "Apa kau melihat orang yang ada di gambar yang aku berikan pada kalian?" Manuel menggeleng.
"Kami sudah mencocokkan tak melihat Marky diantara mereka." Pina datang Walabi group pun ikut membantu.
"Tak mungkin" bisiknya lirih. Camy kembali mengulang. Dan menghentikan video. Dan memperbesar layarnya.
"Shiit!!!" Maki Camy.
"Dia telah menyebrang ke Phoenix Way!" Camy masuk kedalam rumah Simon. Ia akan memberitahukan lelaki tua itu agar bersiap.
Tbc.
__ADS_1