DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Siapa?


__ADS_3

"Sepertinya kau tertarik dengan bunga-bunga, mungkin kau bisa aku rekrut, meneliti disini" Daniel melihat mata antusias dari Alex, sejak datang dan saat melihat berbagai ladang bunga disini.


"Wah aku akan sangat luar biasa kalau kau merekrutku Daniel, aku tunggu" Alex mengerlingkan matanya. Daniel sangat menyukai tingkah Alex yang easy going, juga semangatnya yang membuat suasana menjadi meriah.


"Aku harus meminta ijin pada ketua kalian, akan mengambil satu timnya"


"Tenang saja Daniel kami dibebaskan bekerja di luar DarkHole jadi banyak dari kami memiliki kerja ganda" Bharat menjelaskan.


Alex sendiri disini banyak yang akan ia lakukan. Ia menemukan kesukaannya disini, walau setiap jamnya ada saja yang harus dipanen, dia senang.


Belum lagi pemandangan yang sangat indah dengan ladang bunga warna warninya.


Dan bukan bunga biasa namun ladang bunga obat juga racun, ladang bunga obat, dengan warna yamg monoton hijau dan kuning dengan sedikit warna lain, sedangkan bunga beracun sangat menarik mata. Berwarna-warni indah. Ada semua warna.


"Kalau begitu, welcome di kebun Rfizt," Daniel merentangkan tangannya. Lalu Alex menyambutnya dengan pelukan bapak anak itu.


Bharat melihat itu hanya tersenyum. Dan mereka tertawa bersama.


*


*


*


"Permisi Tuan" Seorang pria muda dengan rambut rapi, menyerahkan tumpukan jurnal yang di bawa oleh lalat robot. Ia meletakkan di meja dengan sofa kulit mengelilinginya.


"Kemana Ruler?" Marky melirik dari balik kacamatanya pada pemuda yang ada didepannya.


"Mr. Ruler cuti selama satu minggu dan saya Juan Farrel yang akan menggantikannya sementara."


"Kemana Rolan?" Rolan yang biasa menggantikan Ruler jika ia cuti rutinnya.


"Tuan Rolan, sedang dalam misi, Tuan" Juan menunduk.


"Dan itu apa?" Marky melihat tak suka pada tumpukan didepannya.


"Jurnal dari Hide Dome, Tuan, jika anda---"


Juan terdiam, Marky memutus omongannya.

__ADS_1


"Okay ... okay ... tinggalkan saja disana dan kau bisa pergi." Ia tak suka adanya ornag asing diruangannya.


Juan menganggu dan pergi. Didepan pintu ruangan Marky yang telah ia tutup seringaiannya muncul.


Marky duduk di sofa mengambil salah satu jurnal dan membacanya. Hanya ada catatan harian Aldy. Ia terus membaca tapi belum melihat adanya seauatu yang penting.


Marky melemparkan jurnalnya dengan kesal didalamnya ada ungkapan hati Aldy dan juga cecilia, ibu Camy. Tentang dirinya yang serakah dan ingin memiliki pohon uang.


"Dasar munafik! Mereka yang memonopoli pohon itu, dan melimpahkan semua padaku!" Amarahnya menjalari hatinya.


"Orang bodoh, lihat sekarang aku bisa melampauimu, kau lihat aldy! Nokturnal semakin basar ditanganku! Tanpa pohon itu aku bisa mengembankannya jadi nomor satu di dunia." Teriaknya lantang didalam ruangannya. Tawa mengelegar muncul setelahnya.


"Lalu kenapa kau terobsesi dengan pohon uang itu Marky!" Seseorang masuk mendekat.


Ia mengambil sebuah jurnal dan mendudukkan diri pada sofa kulit itu dengan mengangat satu kaki bertumpu pada kaki satunya, menyenderkan pungunggung, mencari kenyamanan dan mulai membaca tulisan pada jurnal yang ada dipangkuannya.


Pria itu masih membaca jurnal milik ayah Camy, dan mulai menaikan sudut bibirnya.


"Jadi selama ini kau hanya mendapatkan barang seperti ini?" Ia melemparkan jurnal itu pada tubuh Marky. Marky yang tadi ingin meledak, menunduk saat melihat pria ini masuk ruangannya.


"Kau dibodohi!" Bisiknya menggeram.


"Maafkan saya Tuan!" Tangan Marky mengepal buku-buku jarinya memutih.


Matky mengambil jurnal yang dibuang orang itu padanya. Dan membacanya. Tanganya meremas pinggiran jurnal itu. Banyak halaman yang sengaja dihilangkan dijurnal itu. Siaall! Makinya. Ia dijebak! Dan kemana semua kaki tangannya saat ini! Marky semakin kesal. Ia menutup jurnal itu.


"Maafkan saya tuan, untuk kelalaian ini"


"Aku tak ingin ada kegagalan lagi!" Pria itu berdiri, ia keluar tanpa pamit.


Marky membuang kasar jurnal itu. "Juan bereskan jurnal ini! CEPAT!" Marky memijat ujung hidungnya, pening dikepalanya.


*


*


*


Theo menyusup masuk Hide Dome dengan bantuan Wina dan Willow. Dengan mudahnya, sama seperti yang Ruler lakukan. Dan Camy cs menontonnya pada layar besar mereka.

__ADS_1


"Tipikal Nokturnal" komen Riby dengan kunyahan popcorn di mulutnya.


"Dia berani menyusup lagi!" Amber yang juga ikut menonton melalui layarnya, ia berada di DarkHole saat ini. Ada serangan dari Nokturnal.


Awalnya Amber tak tahu serangan itu, tapi tanda bahwa Wina yang menyerangnya membuatnya semakin bersemangat melawannya.


Petarungan kemarin hanya salam menurutnya dan sekarang ia akan membumi hanguskan keduannya.


"Amber, bagaimana keadaan Jo?" Camy mengalihkan perhatiaannya pada Amber.


"Di sekarang selalu dibawah monika. Duduk termenung, kata Druw biarkan saja, mungkin ia bisa lebih melepas rasa bersalahnya disana" Amber terus melawan Wina yang menyerang dengan gesit.


"Mati kau!" Serunya kencang. Ia bisa meluluh lantahkan virus yang dikirim Wina dan sedari tadi sudah mengirimkan ratusan ribu virus yang menyerang dengan perlahan dan tak terlihat ia namai 'virus gerakan bawah tanah'


Wina kalau ia pintar akan menyadarinya dengan cepat tapi walaupun begitu semua akan tetap sia-sia. Ia menyerang saat komputer mereka bekerja. Ia akan Karena virus ini tak akan bisa mengembalikan data mereka, tidak akan bisa dipulihkan bahkan perangkat kerasnya sekalipun.


Amber terus menyerang, dengan semua virus kiriman Wina. Amber juga telah mengambil data yang ada di pernagkat lunak milik Wina.


(You Di*e peachy gurl bas*tard!!!) pesan yang dikirim Amber pada Wina.


Dan dia meng Klik enter dan semua akan menyebar. Amber tinggal menanti hasil.


Wina menunggu, tapi tak terjadi apapun pada sekitarnya. Ia tak sadar dan kembali mengoprasikan komputernya.


(Hah! Virusmu tak akan bisa menembusku! Kau yang aka membusuk sekarang!)


(Hey kau penakut! Apa ini semudah ini?)


(Kau lagi sibuk bertahan ya?)


(Padahal ini belum semua yang kupunya)


Wina tak tahu yang dia masuk ke halaman yang Amber namai dengan Halucity. Tempat yang ia buat untuk menghalau serangan Wina dan ia senang dengan hasilnya.


Menonton kebodohan dua orang, lebih lucu ternyata.


"Pasangan bodo*h, pantas cocok!" Elle memakan mie instannya.


"Siapa yang kalian bilang bodoh!" Pekikan keras. Membuat Camy cs menatap sumber suara.

__ADS_1


tbc.


__ADS_2