
Bharat diajak Agrabella menuju sebuah bangunan tua yang saudah tak terawat, ia memasuki halaman luasnya. Bangunan itu ditumbuhi ilalang tinggi sekelilingnya.
Dari dalam, saat Bharat menginjakkan kaki di halaman bangunan itu, mata dengan pedar kemerahan terbuka lebar. Terlihat tak suka. Suluran tumbuhan berjalan diantara ilalang, perlahan dan pasti.
Suluruan tumbuhan rambat itu tak hanya satu. Saat ini Bharat berada di tengah lautan ilalang, ia melihat rumah kaca yang bobrok.
Bingkai kayu yang rapuh, terkelupas karena lapuk. Juga kaca-kacanya ada yang pecah, buram karena berlumut, juga banyak rumput liar yang masuk kedalam, hingga menjadi semak belukar.
Ia juga melihat beberapa pohon besar dan rimbun.
Bharat hanya sendiri, ia ditinggalkan, namun ia tak ambil pusing. Ia harus menghadapi sesuatu ditempat ini.
Dengan belatinya Bharat mulai membabat ilalang yang menghalanginya, mencabut semua penghalang.
Ia tak sadar dengan perlahan kakinya juga sudah terlilit oleh rumput yang menjalar tadi.
"AGH!" Pekiknya ia terjungkal dan diseret. Ia mengapai ilalang untuk bertahan.
"Urg!" Bharat menendang, namun kejadian terlalu cepat. lalu tergantung dengan kepalanya berada dibawah.
"Apa-apaan ini?" Serunya, ia melihat rumput yang mengantungnya. Dengan tubuh yang luwes,
"Hup!" Bharat memegang rumput dan mengirisnya. Bharat agak kesusahan, rumput itu susah sekali terpotong. Belatinya serasa tumpul.
Zleb!
Dengan sekali tekan belatinya berubah menjadi gergaji bergerigi. Ia mengenggam rumput yang mengikat kakinya itu. Dan gergaji itu mengerjakan bagiannya.
Bharat menggantung sebelah tangannya ketika jeratan rumput sudah terpotong dan ia melompat turun.
Ternyata rumput itu seakan ditarik mundur. Ini kesempatan Bharat mengikuti suluran rumput itu.
Ia mengikuti, berlari cepat, membelah ilalang. Kembali ke rumah kaca. Suluran rumput itu masuk kedalamnya. Bharat mulai menelusuri tempat itu.
Bharat mengira adanya ruang bawah tanah. Karena rumput itu seperti tersedot kedalam.
Ia mecari dengan menghentakan kaki. Untuk mencari akses keruangan itu. Dan Bharat menemukannya, ia dengan segera menghempaskan karpet usang yang ia injak. Dan menemukan pintu kayu disana berbentuk persegi besar.
Bharat menariknya. Ia melihat tangga menuju dalam dan gelap. Bharat merapal beberapa mantra. Dan dua bola api berukuran buah apel muncul di sampingnya. Melayang.
Ini perwujutan lain dari pedang kristal yang ia dapat saat melawan Vatra lalu.
Bharat menyusuri tangga menuju bawah. Keadaan sekitarnya sunyi, gelap dan dingin. Ia menggerakan tangan dan mendorong salah satu bola apinya.
Dan merubah ukurannya menjadi sedang. Seukuran jeruk bali melayang mengitari tempat. Saat Bharat menapakkan kakinya dilantai bawah.
Ternyata ia berada di tengah ruangan kosong. Bharat melihat kelebatan. Ia mengejar kelebatan itu. "Kenapa kau terlalu berteka-teki!" Gumannya kesal.
__ADS_1
Dan ia melihat sumur besar diujung ruangan, ia melemparkan bola api kedalam.
Sumur itu kering, Bharat tanpa curiga ia melompat kedalam, dengan meringankan diri.
Benar! Didalam ada pintu lain. Bola api meluncur lebih dulu, sebagai penerangnya.
Dan yang mencengangkan Bharat menemui ruangan luas, sangat luas, dengan banyak kaktus didalam sana.
Bharat kembali merapal,
Boom!
Ledakan dari bola api. Ia menjadi partikel lebih kecil lalu menyebar, dan membesar seukuran bola tenis.
Tempat ini memang luas. Banyak pot-pot kaktus disana. Namun ada satu kaktus yang ditempatkan paling tinggi. Kaktus mini, biasa untuk hiasan di meja kerja.
Namun ia diletakkan cukup tinggi dari yang lain. Dengan disanggah oleh beberapa pot-pot besar dibawahnya.
"Kaktaka" gumanan lirih Bharat tanpa sadar. Dan Bharat merasa ada angin yang berhembus diwajahnya.
Saat ia fokus pada kaktus mini itu. Ia melihat ada mata dengan pedaran kemarahan menyorotnya.
"Ah!" Kembali Bharat terjungkal. Ia terjatuh di atas beberapa kaktus mini. Perih tertusuk duri kaktus tak Bharat indahkan.
Kakinya sekali lagi dijerat oleh sesuatu yang lebih tebal, kuat dan berlen dir.
Wuuss ...
Bentukan seperti tentakel dari tumbuhan, bukan hanya satu tapi puluhan. Dengan cepat melayang menyerang Bharat.
Dengan gerakan tangan yang lincah, menyabet tentakel-tentakel tumbuhan itu. Ia agak kelelahan, tentakel itu tak ada habisnya. Dan Bharat masih tak tahu mereka muncul dari mana.
Tentakel yang Bharat potong masuk ketanah dan menjadi tentakel baru yang akan menyerangnya.
Bharat menghindar, ia melompat dari sabetan tentakel yang ingin memecutnya. Ia sangat sebal sekarang. Len dir menjijikan ada dimana-mana.
Kaktus mini itu masih menatapnya. Bharat yakin kaktus itu yang mengendalikan ini semua. Bharat dengan melawan serangan tentakel tumbuhan itu, ia mulai mendekat.
Bentuk kaktus mini itu seperti katak. Bharat teringat serbuk yang Agrabella beri. Bharat mengeluarkan serbuk itu.
Dan menuangkan ke tangan dan ia sembur tepat ke bagian depan mata kaktus mini. Bharat mendapatkan pengelihatan sekelibat, cara mengatasi monster kaktus katak ini,
Ada satu tentakel menjerat pinggangnya. Dengan cepat ia memotong dan melempar bola api pada tentakel itu.
Dan tentakel itu mengelepar hangus dan mati.
Bharat terus menyabet tanpa henti dan membakarnya. Ia mulai muak. Dan tangannya keatas ia memutuskan memanggil pedang kristalnya.
__ADS_1
"Berikan kekuatanmu padaku! Aku memanggilmu! INCAZILDRAAK!" Teriaknya.
BLAR!
BLAR!
BLAR!
Gemuruh besar terdengar diruangan itu, kilat terang membutakan tercipta sekilas.
Pedang itu ada ditangannya. Rambut Bharat seketika berubah memutih dengan bola mata yang mengkristal merah. Ia memainkan pedangnya dengan sangat luwes.
Bharat melayang, mudah, dengan sekali sabet tentakel tumbuhan berlen dir itu hangus terbakar.
"KRYAAAHH" teriakan nyaring Kaktaka, Monster kaktus. Tanah berguncang hebat, Bharat membuat si kaktus mengamuk.
KRAK!
KRAK!
KRAK!
Bruk! Bruk! Zluur ...
Pot-pot besar penyanggah dibawahnya retak, dan luruh kebawah memperlihatkan bentukan sebenarnya dari monster kaktus itu.
Sekarang kaktus mini itu tampak layaknya bongkahan perut manusia obesitas. Dengan banyak tentakel melayang, siap menyerang Bharat. Bertumpuk dan mengelikan.
"RARGH!"
Kaktus itu menyerang dengan menembak duri-duri tajamnya. Tentu Ia dilindungi dengan baik oleh Incazildraak.
Pedang itu menangkis ratusan ribu duri dari monster itu.
Kaktaka tak terima, dengan mudahnya Bharat membumi hanguskan tentakel miliknya.
Bharat telah mengetahui dimana kelemahannya. Dan tanpa banyak lagi aksi, Bharat melemparkan Incazildraak pada tengah tubuh kaktus itu dan membuat retak pot mini berbentuk guci yang berada didalam tubuh kaktus itu.
"HRAAAAGH ... " teriak memilukan, dan membuat Kaktaka meleleh. Serbuk dalam pot didalam tubuhnya yang membuatnya meleleh.
Bharat berdiri didepan lelehan Kaktaka dan meraih pot mini yang retak tadi.
Zlink!
Dari pot mini itu terpancar kilatan dan retakannya lenyap. Lalu berubah menjadi pot kristal dan menghilang.
"Selamat kau berhasil lagi!" Suara Haiyla, Menghilangnya Pot mini itu juga, membuat Bharat kembali pada wujudnya.
__ADS_1
Tbc.