
Braxton ikut memantau perkembangan Marzon. Ia sudah kembali pada beraktifitasnya. Namun bukan dengan wujudnya yang humanoid. Tapi wujud Lycan.
Ia tak bisa beebicara, namun dari matanya kita tahu jika itu Marzon. Dan hasil ini yang Braxton nantikan.
Melarikan diri hal yang ada dalam benak Marzon. Dan sedikit berontak saja kukungan besi yang melingkari tubuhnya mengetat dengan sendirinya.
Membuat Marzon tersiksa. Itu tujuan utama Braxton.
*
*
*
Alex menuju pasar gelap Wildlife milik Nokturnal, ada barang yang ia cari, namun tak sembarangan tempat bisa ia dapatkan.
Ia datang layaknya pasar biasa memang ramai, banyak pedagang menawarkan dagangan, tapi bukan dagangan biasa. Ada perdagangan manusia. Robot juga organ dalam tubuh.
Disini tak ada aturan yang bisa menjerat mereka, dan kebanyakkan pembelinya pun kebanyakan para penjahat.
Ia mencari Loreen mengantikan Daniel. Pasar itu luas dan pafa pedagang ada yang terang-terangan ada juga yang bersembunyi. Yang bersembunyi ini yang berbahaya.
Dan Loreen adalah salah satu pedagang yang bersembunyi di area yang sunyi namun ramai. Mereka mengintai pembeli mereka. Kadang juga mereka mengerjai pembeli baru yang tercebur di lokasi mereka.
Contohnya saja Alex. Ia baru dikawasan yang nampak gedung kosong. Terbengkalai tak terpakai. Ia hanya berjalan dimana gpsnya menenuntun. Tanpa peduli sekitar.
Langkah kaki terdengar. Suara siulan mengema membuatnya mendogak dari layar tiga dimensinya.
"Wah cantik Bos" Salah seorang dari mereka.
Disana ada tiga orang pria dengan badan kekar dan otot yang menonjol yang menghadang jalan Alex.
Gadis dengan baju berbahan kulit ketat dengan rompi juga hiasan di menjuntai di tubuhnya, rambut model diikat ekor kuda memperlihatkan lehernya yang jenjang. Hanya melihat mereka seperti sekumpulan sapi.
Kemudian kembali fokus pada layarnya lagi, Acuh. Ia tak akan membuang tenaga dengan meladeni para kacrut didepannya.
"Sombong sekali cantik" salah seorang mendekat dan menoel lengan atas Alex yang terbuka. Ia menggunakan pakaian dengan potongan tangan pendek.
Aleh menghela nafasnya kasar. Ia sedang ribet dan males dengan tambahan ribet juga pelecehan. Tak segan Alex mendekat dengan langkah dari sepetu bootnya mengema keseluruh gedung tua itu.
Pria yang menoelnya merasa diatas angin. Dengan cengirannya ia menggoda Alex, begitupun dengan kedua temannya.
"Come to daddy sayang!" Menjijikan! Pikir Alex datar. Dengan cepat ia menarik dan memutar tubuh pria itu, lalu memelintir tangan pria yang tubuhnya lebih besar dari Alex.
__ADS_1
"Argh!" Pekiknya kencang. Dan Alex mengeluarkan senjatanya.
DOR!
Alex menembak belakang kepalanya. Ia mendorong tubuh bongsor yang telah tak bernyawa itu begitu saja.
Kedua temannya yang tadi tertawa mengejek Alex membelalak, dan kemudian menyerang Alex. Ia tak terima Alex menghabisi temannya.
Alex memasukkan pistolnya dan meneluatkan dua belati ditangannya. Dengan gerakan seperti menari ia mulai menghabisi keduannya dengan sayatan pada titik-titik dimana mereka akan tewas kehabisan darah.
Dan kedua pria bongsor lainnya ambruk didepan Alex.
"Siall! Mereka menyia-nyiakan waktuku!" Gerutunya dengan merobek kain baju dari salah satu baji ngan yang twrgeletak untuk membersihkan belatinya.
Alex kembali menekuni gps.
Dor! Dor! Dor!
Alex mendapatkan serangan dari belakang. Ia dengan gerakan cepat dan terlatih berlari mencari persembunyian.
Ia mengeluarkan benda bulat dan kecil yang melayang diudara. Itu adalah kamera pengintai.
Melihat segerombolan Pria dengan bentuk sama seperti tiga pria yang ia libas tadi. Rekannya tiga orang itu rupanya.
"Ck!" Decakan keluar dari mulut Alex. Ia mendekati dengan melempar sebutir tablet kecil dan asap pekat menyelimuti gerombolan si berat itu.
"Argh!"
"Duak! Arg!"
"Brak! Brak! Siapa kau!"
"Hargh!"
"Aaarrg!"
Alex menekan tombol di jamnya dan asap itu kembali masuk pada kapsul lalu menghilang. Alex sudah berdiri di depan ketuanya.
Pemandangan yang mengagetkan. melihat hanya sang ketua yang berdiri dengan belati Alex sudah berada dileher sang ketua pasukan bongsor itu. Sang ketua melebarkan netranya gerakan alex sangat cepat sampai tak terbaca.
Ia melihat beberapa pasukannya bergelimpang tewas. Juga ada yang merintih kesakitan dihantam uluh hatinya oleh kekuatan ninjutsu-nya.
Asap tadi juga membuat badan lawan kaku. Tanpa melepas masker gasnya, ia didepan pria yang Alex kira ketua dari para coro yang bergelimpangan ini.
__ADS_1
"Antarkan aku ketempat ini" Alex memperlihatkan lokasi yang ia cari.
"Tidak Akan!" Suara berat terdengar dari tubuh bongsor itu.
Wajahnya tampak arogan, terlihat dari si ketua. Alex tak segan menyayat leher ketua itu. Terlihat kekagetan dari bola mata pria didepannya, mulai mendesis, perih.
"Okay! Aku antarkan!" Nafasnya tersegal, memburu. Jantungnya berdebar. Masih terasa perih juga dingin dari belati milik Alex dilehernya. Walau Alex telah menjauh menunggunya pulih dari kekakuan.
"Pengecut!" Ejek Alex pada ketua yang menyerah karena ancamannya. Alex telah berjalan dan ia tak menemukan apapun namun petunjuknya ia telah berada di lokasi sebenarnya.
"Mereka menggunakan shield dan aku akses untuk semua orang jika ingin kesana" ketua itu menjawab pertanyaan Alex.
Ia baru menemukan korban yang tak segan menghabisi lawan, seperti wanita ini. sungguh mengerikan. Semua pasukannya di bunuh. Ia menyerang tanpa adanya belas kasihan dari wanita ini.
Alex menyerahkan lengannya dengan layar tiga deimensi disana untuk ketua itu mengaksesnya.
"BRUAK! DRUAK!"
Alex menghajar ketua itu. Ketua itu ingin menyusupi alat Alex. Tak terampuni. Ia menggunakan kepalan tangannya menghatam wajah depan ketua itu.
Untung saja, ketua itu sudah menunjukan lokasi sebenarnya, tapi tak berhasil menyusup karena sistem Alex menghalaunya. Dan memberi sinyal pada Alex tentang penyusup.
"Bede bah siallan!" Lagi Alex mengmbil pistolnya dan menghabisi sang ketua.
Alex menyusuri tempat dengan banyak pedagang gelap, menatapnya aneh. Ia masuk pada suatu tempat remang, dengan tembok tinggi di kanan kirinya. Gangnya semakin sempit.
Sialaan si tua Daniel yang mengirimnya kesini seorang diri. Alex terjebak. Ia dibujuk Loreen menemukan benda yang Alex cari. Daun Bidara. Daun yang sangat langkah dan adanya di asia dan semakin susah ditemukan.
Tapi yang ia dapatkan adalah Loreen yang ditahan gerombolan si besar. Pak tua itu, apa susahnya bilang minta bantuanku untuk menolong, Alex pasti sanggupi. Tak usah menjebaknya begini. Untuk dia orang yang langsung libas siapa saja yang mencari masalah dengannya.
Dan diujung terdapat ruang penjara. Pintu besi. Alex mempunyai intuisi Loreen berada dalam salah satu ruangan itu.
"Loreen!"
"Loreeenn!" Suara Alex bergema.
"Tolong!" Alex mendengar suara dari penjara yang ada disini. Namun ia tak melihat adanya Loreen disana.
"Tolong kami!" Alex melewatinya.
"LOREEN!" teriaknya lagi, suara dari tahanan lain membuatnya susah mencari Loreen.
terdengar lengkingan diujung sana, Alex berjalan menuju ke sudut penjara. itu dan ia melihat seorang wanita dengan pakaian yang lusuh.
__ADS_1
tbc.