DarkHole Laboratory

DarkHole Laboratory
Mencoba Berdamai


__ADS_3

Marzon duduk di teras rumah Orso, menikmati angin segar. Orso dan Kalea mengundangnya makan malam bersama.


"Kau benar Raja dunia bawah, Paman?" Ramon kembali, pertanyaan dari sekumpulan beruang kecil yang menghampirinya.


Berdiri beruang paling besar dibelakangnya. Juga ada yang lainnya bersembunyi di punggung kakak mereka.


"Iya, kalian tak percaya?"


"Kau Lycan!" salah satu anak bernada tinggi menyela.


"Kau jahat?" Tanya bocah beruang perempuan kecil yang merangsek kearahnya. Dan memanjat dirinya. Dan duduk dipangkuan Marzon.


"Siapa namamu, manis?" Marzon menggelus kepala bocah berpita pink di kepalanya.


"Amole" jawab agak cadel.


"Apa aku jahat?" Marzon menatap anak-anak Orso. Dan gelengan yang ia dapatkan.


"Bacakan!" Seorang anak memberikan buku pada Marzon. Buku berjudul red riding hood, anak beruang dengan tudung merah yang akan dimangsa seekor Lycan.


Pantas saja mereka takut pada sosoknya, ternyata ia menjadi penjahat dicerita dongeng. Marzon membacakan buku pada mereka.


Bocah-bocah itu memperhatikan dengan serius. Kalea dan Berus mengawasi dari jauh.


"Kau lihat ia tak sama dengan pikiranmu" Kalea menggenggam centong kayunya erat.


"Ini juga bisa menyembuhkan traumamu terhadap Lycan"


"Karena kau akan sering melihatnya disini, lihat amore ia bahkan terlihat nyaman dipangkuan Lycan itu"


Kalea memang menghilangkan traumanya, namun itu tak mudah. Ia perlu membiasakan diri.


Makan malam berlangsung dengan super ribut. Kalea menjadi sedikit pendiam. Trauma itu masih ada. Ia menjaga jarak dari Marzon.


Orso dan Berus juga Marzon paham. Anak-anak mereka ribut seperti biasa. Bahkan si kembar. Josh dan Jhon, terus berceletuk, menanyakan segala macam pada Marzon.


"Paman Raja, aku akan berlatih pedang, mau kau menjadi lawanku," Josh berkata dengan semangat. "Boleh"

__ADS_1


"Jo-Josh aku mau, aku selalu bermain denganmu" Jhon sudah akan menangis, ia merasa Josh tak ingin lagi mengajaknya bermain. "Iya, ayok Paman Raja," ia beranjak turun dari kursi makannya.


"Jo-josh ... " lirih Jhon.


"Ayo Jhon, kita bisa melawan Paman Raja Berdua" senyum sumringah terlihat diwajah Jhon.


Ia akan turun namun Kalea memperingati keduanya untuk menyelesaikan makan malamnya yang akan mereka tinggalkan.


"Jhon habiskan makananmu!" Perintah yang tak bisa di ganggu gugat. Jhon kembali memegang sendoknya. Makanannya masih setengah. Josh juga kembali kekursinya, makan malamnya sudah habis.


"Aku akan menunggumu" Josh berkata. Jhon dengan semangat mengangguk dan memasukan makanan dan mengunyahnya dengan cepat.


"Jangan cepat-cepat, kunyah perlahan Jhon, nanti kau tersedak." Ujar Kalea.


"Uhuk ... "


"Nah kan, apa Mom bilang!" Kalea mengulurkan air. Jhon mengambil dan meneguknya habis.


"Paman Raja tak akan kemana-mana, Ya kan Paman?" Kalea menatap Marzon. Marzon membeku. Apa Kalea telah menerima sosoknya? Tapi kesempatan ini tak Marzon siakan.


*


*


*


Jika di dunia bawah Marzon sibuk dengan penobatannya menjadi raja. Di tempat tubuhnya bersemayan Braxton telah mengetahui jika Marzon dalam keadaan mati suri karena rohnya masuk dalam sebuah portal.


Di sebelah Braxton ada Willow juga seorang wanita, mereka mengamati video yang Braxton temukan.


"Hecate Moon goddess" gumam wanita itu.


"Itu portal dunia bawah, Tuan" sahut Wanita itu.


"Bagaimana kita bisa menemukan portal itu?"


"Saya bisa Tuan, karena saya masih terhubung dengan dunia bawah" lanjut wanita itu,

__ADS_1


"Braxton, kau tenang saja, Alamira sering pulang pergi ke dunia bawah, desanya berada didunia itu." Willow membanggakan temannya itu dihadapan Braxton.


"Alamira, bisa kau ceritakan mengenai dunia bawah juga desamu?" Braxton menatap lurus pada Alamira.


Gadis tinggi dengan rambut yang diikat tinggi itu mengangguk.


"Desa saya bernama Cahaya ilusi, disana dijaga oleh para Moon Goddess, dan yang berada dalam video itu adalah Hecate Moon goddess, ia adalah salah satu dewi penjaga di dunia bawah."


"Kami masih primitif, walaupun begitu jangan merendahkan teknologi kami, kami masih memepercayakan semua pada Moon Goddess kami"


"Portal itu hanya pemilik akses saja yang bisa membukanya"


"Pembukannya dengan batu kristal meteor" Alamira memperlihatkan, liontin di kalungnya. Kilauan cantik tertangkap netra Braxton.


"Mendekatlah?" Alamira menatap Willo yang menghentakkan kepalanya sebagai kode, agar dirinya lebih mendekat pada Braxton.


"Maaf, Kalung ini tak bisa begitu saja dilepas Tuan, kami diberi kalung ini saat kami lahir dan mereka mentrainya" Alamira menjulurkan kepalanya agar lebih mendekat pada Braxton.


Braxton pun sama, ia berdiri dari kursinya dan melongok kearah leher Alamira


Braxton melihat dengan serius. Sepertinya ia pernah melihat bongkahan yang mirip dengan batu kristal ini. Tapi dimana? Braxton kembali kekursinya.


"Bawa aku ke sana"


"Baik Tuan, namun sebelumnya, anda harus mempersiapkan segala yang saya minta" Alamira tak memberi secara gratis, harus ada imbalannya.


Dan portal ini sangat mahal harganya, karena banyak dari kaum dunia atas mencari dan hanya yang sesuai dengan pilihannya yang bisa mendapatkannya.


Senyum culas terlihat dari wajah manis Alamira.


"Willow siapkan apa yang Alamira mau" Willow menatap tak suka pada Alamira. Ia merasakan adanya kecurigaan, namun ia tepis karena ia hanya mendengar perkataan Braxton.


"Baik Braxton! Kamu ikut denganku" Willow berjalan mendahului Alamira yang senang akan mendapatkan banyak uang.


"Dunia Bawah" gumamnya, sudut bibir Braxton tertarik keatas. Ia menyeringai. Tak sabar melihat wajah Marzon saat nanti mereka bertemu.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2